Dark/Light Mode

Polisi Berjaga Tanpa Senpi, Demo Mahasiswa Ajukan 5 Tuntutan

Sabtu, 13 Juni 2026 07:50 WIB
Personel kepolisian dan TNI berupaya mengendalikan massa aksi di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Jumat (12/6/2026). (Foto: Patrarizki Syahputra/rm.id)
Personel kepolisian dan TNI berupaya mengendalikan massa aksi di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Jumat (12/6/2026). (Foto: Patrarizki Syahputra/rm.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ribuan mahasiswa dari berbagai kampus di Jakarta turun ke jalan menyampaikan 5 tuntutan ke Pemerintah. Meskipun berlangsung hingga malam, demo mahasiswa berjalan kondusif. Pengamanan tanpa senjata api yang diterapkan Polri menjadi salah satu faktor yang membuat aksi berjalan aman hingga selesai. 

Aksi ini diinisiasi aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari sejumlah kampus. Yakni Universitas Indonesia (UI), IPB University, Politeknik Negeri Jakarta, Universitas Pancasila, dan Universitas Gunadarma, serta organisasi mahasiswa seperti Front Mahasiswa Nasional dan Serikat Mahasiswa Progresif (Semar UI). 

Ketua BEM Fakultas Hukum UI, Anandaku Dimas Rumi Chattaristo mengatakan ada lima tuntutan yang diajukan, berdasarkan konsolidasi BEM seluruh fakultas di UI. 

Tuntutan tersebut yaitu menghentikan pemborosan APBN, menurunkan harga bahan pokok dan BBM, menghentikan program MBG dan Kopdes Merah Putih, menghentikan militerisme di ranah sipil, mendesak pemerintah mengakui kesalahan dan berhenti mengelak.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Bhudi Hermanto menegaskan pihaknya siap mengawal aksi unjuk rasa mahasiswa secara humanis. Aparat gabungan dari TNI dan Polri yang diterjunkan tidak membawa senjata api. 

Baca juga : Meksiko Berjaya, Korsel Kalahkan Tim Eropa

"Penekanan dari Bapak Kapolda, tidak ada petugas TNI-Polri yang membawa senjata api di dalam pelayanan pengamanan aksi penyampaian pendapat ini," kata Bhudi di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (12/6/2026). 

Bhudi mengimbau mahasiswa menyampaikan aspirasi secara tertib dan menghormati pengguna jalan. Ia juga mengingatkan adanya potensi kelompok tertentu yang mencoba menunggangi aksi untuk memicu gangguan keamanan. 

Menurutnya, Satgas Penegakan Hukum (Gakkum) telah disebar untuk memantau kelompok-kelompok yang teridentifikasi berpotensi mengganggu jalannya demonstrasi. "Apabila ditemukan membawa barang-barang yang tujuannya untuk membuat gangguan kamtibmas, maka kami akan melakukan tindakan tegas," ujarnya. 

Sebanyak 6.088 personel gabungan TNI-Polri diterjunkan untuk mengamankan aksi di sejumlah titik. Mulai dari Gedung DPR/MPR, Bundaran Hotel Indonesia (HI), Patung Kuda, dan kawasan Cikini. 

Menurut Bhudi, kehadiran aparat bertujuan memastikan penyampaian aspirasi berlangsung aman dan tertib. "Bapak Kapolda Metro Jaya menekankan bahwa petugas yang melaksanakan pelayanan pengamanan penyampaian aspirasi di muka umum harus sabar, humanis, tidak terprovokasi," katanya. 

Baca juga : Madinah Dipenuhi Jemaah Indonesia Menuju Raudhah

Dalam pelaksanaannya, massa yang semula berencana menggelar aksi di Bundaran HI diarahkan menuju kawasan DPR/MPR RI. Polisi beralasan Bundaran HI merupakan pusat aktivitas masyarakat dan perekonomian sehingga tidak diperuntukkan sebagai lokasi demonstrasi. 

Namun, sejumlah mahasiswa menilai pengalihan lokasi tersebut sebagai bentuk pembatasan ruang penyampaian aspirasi. Bus yang membawa massa bahkan sempat tertahan di sejumlah titik sehingga mereka harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. 

"Memang dipaksa, secara pemaksaan untuk aksi itu di depan DPR," ujar salah seorang mahasiswa UI, Diallo. 

Menurut Diallo, belasan bus yang membawa massa tidak diizinkan melanjutkan perjalanan menuju Bundaran HI."Totalnya ada sekitar 420 sampai 500 orang yang tertahan," tuturnya. 

Ketua BEM FH UI Anandaku Dimas Rumi juga menilai aparat menghalangi perjalanan massa tanpa alasan yang jelas. 

Baca juga : Pengembangan Kasus MBG, Vendor Motor Listrik & Pengatur SPPG Jadi TSK

Meski demikian, mahasiswa tetap bersikeras menyampaikan aspirasi di Bundaran HI yang mereka anggap sebagai simbol penyampaian pesan kepada publik. 

"Kami ingin menyampaikan keluh kesah kami, kami ingin menyampaikan bagaimana pemaksaan terjadi di negeri ini, dan semua rakyat berhak untuk tahu. Semua rakyat berhak untuk ikut. Bukan di DPR, bukan di depan Istana, karena mereka tidak lagi mendengarkan kita," tegas Dimas. 

Meski sempat terjadi perbedaan pandangan terkait lokasi demonstrasi, aksi demo bertajuk Indonesia Bangkrut tetap berlangsung aman dan lancar. Meskipun sempat diwarnai aksi saling dorong di kawasan Sudirman, saat peserta aksi mencoba menerobos berigade aparat untuk menuju Bundaran HI. 

Meskipun tidak berhasil ke bundaran HI, mahasiswa tetap melanjutkan aksi unjuk rasa hingga malam hari. Selepas jam 7 malam, satu-persatu kelompok mahasiswa membubarkan diri. 

Untuk mengantisipasi kepadatan lalu lintas akibat aksi tersebut, Traffic Management Centre (TMC) Ditlantas Polda Metro Jaya mengimbau masyarakat menghindari ruas Jalan MH Thamrin dan Jalan Jenderal Sudirman serta menggunakan jalur alternatif. [BYU]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.