Dark/Light Mode

Cahaya Jabal Nur Menghidupkan Kenangan Kenabian

Sabtu, 20 Juni 2026 07:30 WIB
Pemandangan Jabal Nur di Makkah, yang terdapat Gua Hira, tempat Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama. (Foto: Rusma/rm.id)
Pemandangan Jabal Nur di Makkah, yang terdapat Gua Hira, tempat Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama. (Foto: Rusma/rm.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Laporan Wartawan Rakyat Merdeka Muhammad Rusmadi Dari Media Center Haji, Makkah

Langit Makkah perlahan berubah warna ketika sore mulai merambat menuju senja, Kamis (18/6/2026). Sinar matahari yang semula menyengat berangsur melembut, memantulkan semburat keemasan di dinding-dinding batu Jabal Nur. Dari kejauhan, gunung yang bentuk puncaknya menyerupai punuk unta itu tampak berdiri kokoh mengawasi Kota Makkah yang terus bergerak hingga malam menjelang. 

Menjelang petang, langkah para peziarah mulai memenuhi jalur pendakian menuju Gua Hira. Tidak sedikit yang memilih mendaki pada waktu ini karena cuaca lebih bersahabat dibandingkan siang hari. Angin gurun berembus pelan, membawa suasana tenang yang mengiringi perjalanan menuju tempat yang menjadi saksi awal turunnya wahyu Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. 

Bagi umat Islam, Gua Hira bukan sekadar celah sempit di lereng gunung. Tempat ini merupakan titik awal lahirnya risalah Islam yang kemudian menyinari dunia. Di sinilah Rasulullah SAW menerima wahyu pertama melalui Malaikat Jibril berupa Surat Al-Alaq ayat 1-5 pada 17 Ramadhan sekitar tahun 610 Masehi.

Baca juga : Jual Titik SPPG Rp 100 Juta, Ketua Yayasan IFSR Jadi TSK Baru Kasus MBG

Semakin tinggi mendaki, pemandangan Kota Makkah mulai terbuka. Gedung-gedung menjulang, jalan raya yang dipenuhi kendaraan, serta menara Jam Zamzam di kawasan Masjidil Haram terlihat berdiri megah di antara perbukitan batu yang mengelilingi Tanah Haram. 

Ketika matahari mulai tenggelam di balik perbukitan Makkah, warna langit berubah menjadi jingga kemerahan. Suasana senja di Jabal Nur menghadirkan keheningan yang sulit dilukiskan. Banyak jemaah berhenti sejenak untuk mengabadikan momen sekaligus menikmati panorama yang terbentang luas dari ketinggian. 

Berbeda dengan masa lalu, kawasan Jabal Nur kini telah ditata lebih baik oleh pengelola. Jalur pendakian dilengkapi anak tangga yang lebih rapi, sejumlah tempat istirahat tersedia di beberapa titik, dan yang paling mencolok adalah hadirnya penerangan listrik yang menerangi jalur menuju puncak. 

Saat malam turun sepenuhnya, lampu-lampu yang terpasang di sepanjang jalur pendakian mulai menyala. Cahaya putih kekuningan membelah gelapnya bebatuan Jabal Nur. Dari kejauhan, gunung yang dahulu hanya diterangi cahaya bulan kini tampak bercahaya di tengah malam Makkah, memudahkan para peziarah yang masih terus berdatangan menuju Gua Hira. 

Baca juga : Lucius Karus: Mahasiswa Sedang Aktif Suarakan Kritik

Di puncak gunung, bulan sabit tampak menggantung indah di atas Jabal Nur. Lengkungnya yang tipis seakan melengkapi siluet puncak gunung yang menyerupai punuk unta. Pemandangan itu menghadirkan suasana yang menenangkan sekaligus mengingatkan pada perjalanan panjang sejarah Islam yang bermula dari tempat ini. 

Tim Media Center Haji (MCH) Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi bersama ratusan peziarah dari berbagai negara turut menyusuri jalur bersejarah tersebut. Dari Indonesia, Pakistan, India, Bangladesh, Turki, Mesir, hingga berbagai negara Afrika. 

Menjelang waktu magrib, sebagian peziarah memilih berhenti di area yang lebih lapang. Hamparan karpet digelar di atas pasir dan bebatuan untuk melaksanakan salat berjamaah. Dengan latar langit senja yang mulai gelap dan lampu-lampu Jabal Nur yang mulai menyala, suasana ibadah terasa begitu khusyuk. 

Usai shalat magrib, sebagian jemaah melanjutkan pendakian. Sebagian lainnya beristirahat sambil menikmati bekal makanan dan minuman yang dibawa dari bawah. 

Baca juga : Fadli Zon: Sangat Disayangkan Terjadinya Di Kampus

Di beberapa titik tampak pedagang menawarkan air minum, kopi Arab, makanan ringan, dan berbagai suvenir khas Makkah. 

Ketika waktu Isya tiba, hamparan karpet kembali dipenuhi jemaah. Mereka berdiri dalam saf-saf yang rapi di bawah langit malam Makkah. Cahaya lampu menerangi area sekitar, sementara ribuan bintang menghiasi langit yang cerah. Suasana tersebut menghadirkan pengalaman spiritual yang mendalam bagi para peziarah. 

Setelah shalat Isya, perjalanan menuju Gua Hira kembali dilanjutkan. Arus manusia masih terus bergerak naik dan turun. Cahaya lampu membuat jalur pendakian lebih aman dibandingkan masa-masa sebelumnya, meskipun medan berbatu dan tanjakan curam tetap menuntut kehati-hatian. 

Sesampainya di kawasan puncak, panorama Makkah pada malam hari tampak begitu memukau. Jutaan lampu kota berkilauan seperti hamparan bintang yang jatuh ke bumi. Menara Jam Zamzam berdiri terang di kejauhan, menjadi penanda arah bagi siapa pun yang memandang dari atas Jabal Nur.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.