Dark/Light Mode

Pulang Haji Masih Punya Utang, Nenek Sania Dapat Bantuan Pemerintah

Senin, 22 Juni 2026 07:40 WIB
Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj), Dahnil Anzar Simanjuntak menyerahkan bantuan dari pemerintah kepada Nenek Sania. (Foto: MCH 2026)
Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj), Dahnil Anzar Simanjuntak menyerahkan bantuan dari pemerintah kepada Nenek Sania. (Foto: MCH 2026)

RM.id  Rakyat Merdeka - Laporan Wartawan Rakyat Merdeka Muhammad Rusmadi Dari Media Center Haji, Makkah

Di sebuah rumah sederhana di Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, tersimpan kisah perjuangan seorang perempuan lanjut usia yang menghabiskan sebagian besar hidupnya sebagai buruh cuci. 

Di usia 72 tahun, perempuan yang akrab disapa Nek Sania itu akhirnya berhasil menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.

Namun perjalanan spiritual tersebut tidak ditempuh dengan mudah. Di balik kebahagiaan yang dirasakannya setelah kembali dari Makkah, masih tersisa beban yang harus ditanggung, yakni sejumlah hutang yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan keberangkatannya. 

Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj), Dahnil Anzar Simanjuntak, mengunjungi langsung kediaman Nek Sania pada Sabtu (20/6/2026), untuk melihat kondisi jemaah tersebut sekaligus mendengar kisah perjuangannya. 

Nek Sania merupakan seorang janda yang saat ini tinggal bersama keluarganya di rumah sang anak. Kehidupannya selama bertahun-tahun dihabiskan dengan bekerja sebagai buruh cuci demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

Keinginannya untuk menunaikan rukun Islam kelima telah tumbuh sejak lama. Pada 2014, dia mendaftarkan diri sebagai calon jemaah haji menggunakan dana yang diperoleh dari bantuan anak-anaknya. 

Baca juga : Argentina Vs Austria, Magis Messi Dinanti Lagi

Setelah menunggu lebih dari satu dekade, panggilan untuk berangkat ke Tanah Suci akhirnya datang pada musim haji 2026. 

Namun kabar gembira itu juga menghadirkan tantangan tersendiri. Keterbatasan ekonomi membuat Nek Sania harus mencari berbagai cara, agar dapat memenuhi kebutuhan keberangkatannya. 

Dia kemudian meminjam dana dari sejumlah pihak agar impian berhajinya tidak tertunda lagi. Dengan segala keterbatasan yang dimiliki, Nek Sania tetap bertekad berangkat ke Baitullah. 

Perjuangan tersebut, menurut Dahnil, bukanlah kisah yang berdiri sendiri. Dalam pendataan yang dilakukan Kementerian Haji dan Umrah, masih ditemukan sejumlah jemaah dengan latar belakang serupa. 

"Ketika saya bertemu langsung dengan Nek Sania, saya melihat bagaimana kuatnya kerinduan seorang hamba kepada Baitullah. Banyak orang menilai persoalan haji hanya dari ukuran kemampuan material, tetapi ada dimensi batin yang sering kali tidak terlihat," kata Dahnil. 

Menurutnya, secara syariat, ibadah haji memang diwajibkan hanya bagi mereka yang memiliki kemampuan atau istitha'ah. Karena itu, pandangan masyarakat yang mempertanyakan keputusan seseorang untuk berhutang demi berhaji merupakan sesuatu yang dapat dipahami. 

Meski demikian, Dahnil menilai, fenomena tersebut juga menunjukkan karakter spiritual masyarakat Indonesia yang memiliki kecintaan mendalam terhadap ibadah haji. 

Baca juga : KPK Geledah Kantor Imigrasi Denpasar & Konsultan Visa

"Haji bagi sebagian masyarakat bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan puncak dari perjalanan spiritual yang telah mereka impikan sepanjang hidup. Ada kerinduan yang begitu besar kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW yang terkadang sulit dijelaskan dengan ukuran rasional semata," ujarnya. 

Dia menjelaskan, pengalaman spiritual tidak selalu dapat diterjemahkan hanya melalui pendekatan logika. Banyak aspek keagamaan yang hidup dalam ruang batin seseorang dan menjadi sumber kekuatan untuk terus berjuang. 

"Dalam banyak kesempatan saya mengatakan, ada orang yang mampu berhaji karena memiliki kecukupan harta. Namun ada pula orang yang berusaha memampukan dirinya untuk berhaji melalui berbagai ikhtiar yang halal. Keduanya lahir dari kecintaan yang sama kepada Allah SWT," katanya. 

Menurut Dahnil, semangat seperti yang dimiliki Nek Sania merupakan cerminan dari kuatnya nilai-nilai religius yang hidup di tengah masyarakat. 

"Hutang tentu bukan sesuatu yang ideal. Namun ketika kita melihat kisah seperti Nek Sania, yang tampak adalah pengorbanan dan ketulusan seorang hamba yang ingin memenuhi panggilan Allah SWT. Di situlah negara perlu hadir memberikan perhatian," ujarnya. 

Karena itu, Kementerian Haji dan Umrah saat ini melakukan pendataan terhadap jemaah-jemaah yang menghadapi kondisi serupa setelah kembali dari Tanah Suci. 

Pendataan tersebut merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden RI, Prabowo Subianto, agar Pemerintah memberikan perhatian kepada jemaah yang memiliki beban ekonomi pasca pelaksanaan ibadah haji. 

Baca juga : Hendrawan Supratikno: Tergantung Kontribusi Dan Kinerja Gibran

"Kami mendapatkan arahan langsung dari Presiden agar jemaah-jemaah seperti Nek Sania didata dengan baik. Negara tidak boleh menutup mata terhadap pengorbanan mereka. Kami ingin memastikan beban yang mereka tanggung dapat diringankan," kata Dahnil. 

Dia menambahkan, langkah tersebut merupakan bagian dari komitmen Pemerintah untuk menghadirkan pelayanan yang tidak berhenti saat jemaah berada di Tanah Suci, tetapi juga setelah mereka kembali ke Tanah Air. 

Bagi Nek Sania, perjalanan ke Baitullah mungkin telah usai. Namun kisah perjuangannya menjadi pengingat bahwa bagi sebagian orang, ibadah haji bukan sekadar soal kemampuan ekonomi, melainkan tentang kerinduan panjang yang diperjuangkan sepanjang hayat. 

Di balik tangan renta seorang buruh cuci, tersimpan keyakinan yang mampu mengalahkan berbagai keterbatasan. Di balik kisah sederhana itu, hadir harapan agar beban yang masih tersisa dapat segera terangkat, sehingga kebahagiaan berhaji dapat dirasakan secara utuh.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.