Dark/Light Mode

Muktamar NU Harus Lahirkan Ketua Umum Berintegritas dan Independen

Minggu, 2 Agustus 2026 13:20 WIB
Foto: Ist.
Foto: Ist.

RM.id  Rakyat Merdeka - Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) yang akan digelar pada 27–31 Agustus 2026 di Jombang, Jawa Timur, harus menghasilkan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang berintegritas, independen, dan memiliki rekam jejak pengabdian yang kuat.

Kepemimpinan tersebut dinilai penting agar NU mampu menjaga marwah organisasi sekaligus menjawab tantangan bangsa di masa depan.

Sebab, NU bukan sekadar organisasi kemasyarakatan keagamaan, tetapi juga kekuatan sosial yang memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan umat, kebangsaan, dan kemanusiaan.

Berdasarkan survei Alvara Research Center pada akhir 2025, sekitar 140 juta penduduk Indonesia mengidentifikasi dirinya sebagai Nahdliyin.

Baca juga : Prof Hanief Usul Ketua Umum PBNU Dipilih Lewat Mekanisme Ahwa

Tokoh muda NU Hatim Gazali menilai, Muktamar PBNU bukan semata ajang memilih figur, melainkan momentum menentukan arah kepemimpinan NU dalam menghadapi tantangan sosial, politik, ekonomi, dan teknologi yang semakin kompleks.

Menurut Hatim, sedikitnya terdapat sembilan kriteria yang harus dimiliki Ketua Umum PBNU mendatang. Di antaranya mampu menjadi pemersatu di tengah dinamika internal organisasi, memiliki akar yang kuat di dunia pesantren, serta memiliki pengalaman panjang berkhidmat mulai dari tingkat ranting hingga kepengurusan pusat.

"Selain itu, pemimpin NU perlu memiliki wawasan nasional dan global, menjaga independensi organisasi dengan tidak menjadi bagian dari partai politik maupun tidak sedang menduduki jabatan politik, serta mampu menjadikan NU sebagai kekuatan masyarakat sipil yang tetap kritis sekaligus konstruktif," kata Hatim di Jakarta, Minggu (2/8/2026).

Kriteria lainnya adalah memiliki keberpihakan kepada kelompok masyarakat yang lemah, mampu menjaga tradisi pesantren sekaligus mendorong modernisasi organisasi, serta mempunyai kapasitas keulamaan, kemampuan organisasi, integritas, dan rekam jejak kepemimpinan yang telah teruji.

Baca juga : PBNU Dorong Penguatan Pendidikan Kesehatan Reproduksi Santri

Menurut Hatim, pemimpin dengan karakter tersebut akan mampu menjaga marwah pesantren, memperkuat pelayanan kepada warga Nahdliyin, serta meningkatkan kontribusi NU dalam menjawab berbagai persoalan bangsa dan tantangan global.

Ia berharap, Muktamar PBNU tidak hanya menghasilkan figur yang memperoleh dukungan politik terbesar, tetapi juga sosok yang mampu menyatukan organisasi, menjaga independensi NU, memperkuat khidmah kepada umat, dan membawa organisasi memasuki abad keduanya dengan visi yang lebih kuat.

Hatim juga mengingatkan agar penilaian terhadap para kandidat tidak didasarkan semata pada popularitas maupun dukungan politik, melainkan pada rekam jejak pengabdian, kapasitas kepemimpinan, integritas, serta kemampuan menjaga marwah dan kemandirian Nahdlatul Ulama.

Menjelang Muktamar yang tinggal menghitung pekan, Hatim mengajak warga Nahdliyin mengawal proses pemilihan melalui pimpinan cabang dan wilayah masing-masing agar memilih calon Ketua Umum yang memenuhi sembilan kriteria tersebut.

Baca juga : Ketua PBNU: Kasus Eks Jampidsus Jangan Surutkan Semangat Berantas Korupsi

Menurutnya, tanpa kepemimpinan yang memenuhi syarat itu, NU berisiko terus diwarnai gejolak internal dan intrik politik sehingga tidak optimal dalam memberikan solusi bagi kemaslahatan umat.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.