Dark/Light Mode

Pemilihan Rais Aam NU Harus Kedepankan Nilai-nilai Tradisi Keulamaan

Sabtu, 15 Agustus 2026 15:33 WIB
Ilustrasi Muktamar NU. (Foto: Ist)
Ilustrasi Muktamar NU. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka -

Perhelatan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Menjelang agenda penting ini, perhatian para tokoh dan warga nahdliyin tertuju pada mekanisme serta dinamika pemilihan posisi strategis Rais Aam PBNU.

Baca juga : Muktamar NU Harus Lahirkan Ketua Umum Berintegritas dan Independen

Aktivis senior NU Jawa Timur sekaligus Wakil Ketua Umum DPP Barikade Gus Dur, Sudarsono Rahman, menyampaikan pandangannya terkait pentingnya menjaga nilai-nilai tradisi keulamaan dalam pemilihan Rais Aam. Menurutnya, posisi Rais Aam merupakan maqom tertinggi dalam struktur kepemimpinan NU yang mengedepankan kesepakatan serta kewibawaan para kiai sepuh.

Sudarsono menekankan bahwa proses penentuan Rais Aam idealnya bersumber dari hasil musyawarah para ulama yang ikhlas, saleh, dan wara'. Pemilihan yang berbasis pada keheningan musyawarah kiai sepuh dinilai menjadi kunci utama untuk memelihara marwah serta nilai keislaman dan kebangsaan organisasi.

Baca juga : Wanti-wanti Imin, Muktamar NU Jangan Dikotori Politik Uang

Di sisi lain, Sudarsono turut menyoroti berbagai aspirasi dan masukan yang berkembang di internal warga nahdliyin, termasuk yang disampaikan oleh Rais Syuriah PBNU sekaligus Pengasuh Ponpes Lirboyo, Kediri, KH Kafabih Mahrus. Berbagai perhatian tersebut dipandang sebagai bentuk kepedulian bersama agar seluruh tahapan Muktamar, khususnya yang berkaitan dengan keberadaan tim Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA), dapat berjalan secara transparan, akuntabel, dan bebas dari kepentingan pragmatis.

Keberadaan Rais Aam memiliki peran kunci dan sangat strategis dalam menentukan arah kebijakan serta kepemimpinan PBNU ke depan. Oleh karena itu, penerapan mekanisme yang mengedepankan integritas dinilai sangat vital bagi keberlanjutan dan kemajuan tata kelola organisasi.

Baca juga : Jelang Muktamar NU Ke-35, Imin Vs Gus Yahya Saling Serang

Muktamar ke-35 ini menjadi momentum penting bagi para pemilik suara di tingkat Pengurus Wilayah (PWNU) dan Pengurus Cabang (PCNU) untuk bersama-sama menentukan arah perjalanan NU. Sudarsono berharap seluruh muktamirin dapat mengembalikan keputusan kepemimpinan NU pada tradisi musyawarah yang dilandasi pertimbangan para ulama berintegritas demi kebaikan masa depan Nahdlatul Ulama.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.