Dark/Light Mode

Kirim Mahasiswa Belajar Di China, Hendropriyono Ingin Indonesia Lebih Maju

Minggu, 30 Agustus 2026 10:10 WIB
Ketua YWBI Jenderal TNI (Purn.) AM Hendropriyono menyampaikan sambutan di Fairmont Hotel, Jakarta, Sabtu (29/8/2026). Foto: Bambang Trismawan/RM.ID
Ketua YWBI Jenderal TNI (Purn.) AM Hendropriyono menyampaikan sambutan di Fairmont Hotel, Jakarta, Sabtu (29/8/2026). Foto: Bambang Trismawan/RM.ID

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua Yayasan Warga Bumiputra Indonesia (YWBI) Jenderal TNI (Purn.) AM Hendropriyono mengajak Indonesia belajar dari kemajuan China dan Singapura. Menurutnya, lompatan pembangunan kedua negara menunjukkan pentingnya pembaruan, pendidikan, dan penguatan sumber daya manusia untuk membawa Indonesia menjadi bangsa yang lebih maju.

Hal tersebut disampaikan Hendropriyono dalam acara pelepasan penerima Beasiswa Dharma Bumiputra untuk Indonesia di Jakarta, Sabtu (29/8/2026). Program tersebut merupakan kerja sama YWBI, Kadin Indonesia Komite Tiongkok (KIKT), dan Tianjin University, China.

Dalam sambutannya, Hendropriyono menyampaikan apresiasi kepada Ketua KIKT Garibaldi (Boy) Thohir beserta seluruh jajaran dan mitra yang telah mewujudkan program beasiswa tersebut. Gagasan yang telah lama direncanakan itu akhirnya mulai dilaksanakan dengan mengirimkan tiga talenta muda Indonesia untuk menempuh pendidikan di Tianjin University. 

Hendropriyono mengatakan, ada dua pendekatan dalam memajukan sebuah bangsa. Yaitu memacu kelompok elite dan mengangkat masyarakat secara luas. Sejarah menunjukkan, pemerataan yang tidak disertai penguatan kapasitas, kepemimpinan, dan produktivitas dapat menghadapi kegagalan. Karena itu, kata dia, kelompok yang sudah berhasil harus menjadi kekuatan yang membantu masyarakat yang belum beruntung agar ikut berkembang.

Mantan Pangdam Jaya itu menggambarkan para elite sebagai orang-orang yang telah berhasil menyeberangi “sungai penderitaan”. Setelah mencapai seberang, mereka tidak boleh melupakan masyarakat yang masih tertinggal. Mereka harus mengulurkan tangan, membuka akses, dan membantu kelompok yang belum memiliki kesempatan untuk ikut menyeberang. “Lempar tali agar bisa menarik yang lain,” kata cetusnya. 

Menurut dia, upaya "melempar tapi" tersebut antara lain diwujudkan melalui program Beasiswa Dharma Bumiputra. Program ini memberikan kesempatan kepada anak-anak muda berpotensi yang terkendala kemampuan ekonomi untuk mendapatkan pendidikan berkualitas di luar negeri.

Hendropriyono kemudian mencontohkan kemajuan China sebagai salah satu negara yang berhasil melakukan lompatan pembangunan. Dia menilai perubahan yang terjadi di China dalam beberapa dekade terakhir layak dipelajari generasi muda Indonesia.

“Kita merdeka tahun 1945, China tahun 1949. Tapi sekarang China jauh di depan kita,” katanya.

Baca juga : Kirim 3 Mahasiswa Ke Tianjin, Boy Thohir Ingin Perluas Program Beasiswa Ke China

Karena itu, Hendropriyono meminta generasi muda Indonesia tidak ragu belajar ke China. Dia juga mengingatkan agar mereka tidak terjebak dalam bayang-bayang perbedaan ideologi ketika melihat keberhasilan sebuah negara. “Jangan lagi terjebak dalam bayang-bayang ideologi. Itu semua tidak ada. Semua sudah melakukan pembenahan,” tuturnya.

Dia kemudian mengutip prinsip Deng Xiaoping yang menekankan pentingnya melihat hasil, bukan sekadar warna atau label. “Karena mau kucing merah, mau kucing hitam, yang penting bisa menangkap kucing,” ujarnya.

Selain China, Hendropriyono juga menyinggung pengalaman Singapura. Mantan Kepala BIN itu mengaku pernah mengunjungi negara tersebut pada 1971 dan melihat langsung kondisi Singapura. Menurut dia, saat itu kondisi Singapura masih kurang maju.  

Empat tahun kemudian, Hendropriyono kembali berkunjung ke Singapura. Dia menyaksikan perubahan yang luar biasa. Negara kecil tersebut mampu berkembang pesat dan menjadi salah satu negara maju.

“Balik ke sana tahun 1974 Singapura sudah luar biasa maju,” ujarnya.

Menurut Hendropriyono, pengalaman Singapura menunjukkan, ukuran negara bukan satu-satunya penentu kemajuan. Singapura yang memiliki wilayah kecil mampu membangun kekuatan ekonomi dan sumber daya manusia secara signifikan.

Dia kemudian membandingkannya dengan Indonesia yang memiliki wilayah, penduduk, dan sumber daya jauh lebih besar. Dengan modal tersebut, Indonesia semestinya mampu membangun kekuatan yang jauh lebih besar.

“Singapura itu kecil. Kita yang besar seharusnya memiliki kekuatan dan kemajuan berlipat ganda,” tegasnya.

Baca juga : Lepas 3 Mahasiswa Ke Tianjin, Boy Thohir: Serap Ilmu, Pulang Bangun Negeri

Hendropriyono mengatakan, pengalaman China dan Singapura menjadi pelajaran bahwa pembangunan harus ditopang sumber daya manusia berkualitas. Karena itu, perhatian terhadap generasi muda harus menjadi bagian penting dari strategi memajukan bangsa.

“Tujuan kita tentu saja mengangkat dan memajukan kualitas sumber daya manusia, yang dimulai dari rohnya, yaitu para pemuda. Kaum muda inilah roh dari kemajuan bangsa,” tuturnya.

Ketua YWBI Jenderal TNI (Purn.) AM Hendropriyono bersama Ketua Kadin Indonesia Komite Tiongkok Garibaldi “Boy” Thohir pada acara pelepasan penerima Beasiswa Dharma Bumiputra di Jakarta, Sabtu (29/8/2026).

Dalam program Beasiswa Dharma Bumiputra, lebih dari 50 peserta mendaftar. Setelah melalui seleksi awal dan berbagai tahapan, hanya tiga talenta muda yang dinyatakan lolos untuk menempuh pendidikan di Tianjin University.

Ketiganya adalah Nadhira dari SMA Islam PB Soedirman Jakarta, Vidya Putri Nuridzati dari Wonosobo, dan Farrel dari SMA Taruna Nusantara. Mereka dijadwalkan berangkat ke China pada 31 Agustus 2026 dan menempuh pendidikan selama kurang lebih empat tahun.

Hendropriyono mengatakan, tiga penerima tersebut bukan tujuan akhir program. Ke depan, pihaknya ingin mencari lebih banyak anak muda yang memiliki kemampuan dan potensi, tetapi terkendala kondisi ekonomi.

“Tidak penting hanya tiga. Ini berarti anak-anak tersebut pintar luar biasa. Mereka menjadi contoh untuk program berikutnya,” katanya.

Menurut dia, keberhasilan ketiga mahasiswa tersebut diharapkan dapat memicu lebih banyak talenta muda Indonesia untuk mendapatkan kesempatan belajar di luar negeri.

Hendropriyono juga menyoroti pentingnya menyiapkan ruang bagi talenta Indonesia setelah mereka memperoleh pendidikan. Dia mencontohkan anak-anak muda yang memiliki kemampuan di bidang artificial intelligence (AI) dan teknologi siber.

Baca juga : Boy Thohir & Hendropriyono Lepas Mahasiswa Penerima Beasiswa Kuliah Di Tianjin

Menurut dia, Indonesia tidak boleh hanya mencari dan mendidik talenta, tetapi juga harus memikirkan langkah berikutnya agar kemampuan mereka dapat digunakan untuk kepentingan bangsa.

“Kita harus memikirkan apa langkah berikutnya. Mereka perlu disekolahkan dan diberi ruang untuk membangun negeri,” katanya.

Dia mengingatkan persaingan mendapatkan talenta berlangsung secara global. Jika Indonesia tidak menyediakan ruang pengembangan dan pengabdian yang memadai, anak-anak terbaik bangsa berpotensi direkrut negara lain.

“Kita jangan sampai seperti itu. Kita harus mengonsentrasikan kekuatan di negeri sendiri supaya Indonesia maju,” tegasnya.

Kepada para penerima beasiswa, Hendropriyono berpesan agar serius menuntut ilmu selama berada di China. Mereka diminta terus mencari pengetahuan, menjaga nama baik Indonesia, membangun relasi, serta mampu beradaptasi dengan lingkungan baru.

Setelah menyelesaikan pendidikan, mereka diharapkan kembali ke Tanah Air dan mengembangkan ilmu yang diperoleh untuk kepentingan bangsa.

“Berangkat lalu pulangnya mengembangkan diri di sini. Karena kita perlu inovasi. Mereka yang punya bakat, punya kemauan dan semangat berinovasi, itulah yang ingin kita tarik dari sana,” tandasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.