Dark/Light Mode

Profil 9 AHWA Muktamar NU Ke-35 (9): KH Abun Bunyamin, Ulama Tanah Pasundan

Minggu, 30 Agustus 2026 22:58 WIB
KH Abun Bunyamin
KH Abun Bunyamin

RM.id  Rakyat Merdeka - Menutup daftar sembilan ulama pilihan dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, nama Dr. KH Abun Bunyamin, MA, muncul sebagai representasi kuat dari Tanah Pasundan. 

Lewat tabulasi penghitungan suara pada Sidang Pleno IV, kiai karismatik ini sukses meraup 268 suara atau sekitar 5,7 persen. Capaian tersebut secara resmi mengantarkannya duduk sebagai anggota Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa). 

Secara sederhana, Ahwa adalah dewan musyawarah kiai sepuh yang bertugas khusus untuk memilih pemimpin tertinggi atau Rais Aam PBNU. 

Kehadiran Kiai Abun menggenapkan keberagaman representasi ulama dari berbagai penjuru Nusantara di majelis istimewa ini.

Baca juga : Resmi Demisioner, Kiai Miftah Harap PBNU PeriodeĀ 2021-2026 Husnul Khatimah

Kiai Abun saat ini memegang amanah strategis sebagai Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat sekaligus merawat ribuan santri sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin, Purwakarta. 

Tokoh kelahiran 4 April 1954 ini memiliki kisah masa kecil yang unik; ia lahir dengan nama Muhammad Tamrin, namun saat menginjak bangku sekolah dasar berganti nama menjadi Ade Bunyamin dengan panggilan akrab Amin. 

Jejak keilmuannya direngkuh dengan gigih dari satu pesantren ke pesantren lain, mulai dari Pesantren Hidayatul Muta’allimin Majalengka, Al-Falah dan Santiong Cicalengka, Sukamiskin Bandung, hingga Riyadlul Alfiyyah Sadang di Garut.

Namun, fase paling menentukan dalam pematangan karakter dan keilmuannya terjadi saat ia menimba ilmu di Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, di bawah bimbingan ulama besar KH Ruhiat dan KH Ilyas Ruhiat. 

Baca juga : Profil 9 AHWA Muktamar NU Ke-35 (8): KH Said Aqil Siroj, Sang Intelektual NU

Memulai perjalanannya dari bawah sebagai santri biasa, jiwa kepemimpinannya perlahan terasah tajam. Ia sempat dipercaya menjadi Ketua Asrama Pusaka, dan puncaknya memegang tanggung jawab berat sebagai seksi muballighin yang mengawasi dinamika seluruh asrama di Cipasung. 

Di pesantren inilah Kiai Abun menemukan kedewasaan berpikir dan pijakan arah hidup yang kokoh.

Meski hanya berkesempatan mengaji sebentar kepada Abah Ruhiat, Kiai Abun dengan penuh ketawaduan memegang teguh ijazah amalan yang diwariskan sang guru. 

Hingga kini, ia selalu disiplin mendirikan shalat di awal waktu, mengirimkan bacaan surat Al-Fatihah khusus untuk Abah, serta istiqamah membaca 50 ayat Al-Qur'an setiap harinya. 

Baca juga : Profil 9 AHWA Muktamar NU Ke-35 (7): KH M Anwar Manshur, Sesepuh Lirboyo

Pesan sang guru bahwa laku spiritual tersebut akan membuat ilmunya penuh keberkahan dan kemanfaatan, terbukti nyata. Sosok "Amin" sang santri biasa itu kini menempati posisi terhormat di antara para kiai sepuh lainnya, memegang mandat sejarah untuk menuntun arah masa depan kapal besar Nahdlatul Ulama.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.