Dark/Light Mode

Bisa Pulang Pekan Ini

RSCM Soal 2 Pasien Anak Asal Sumut: Tak Ada Gangguan Fungsi Otak, Ginjal Normal

Rabu, 16 September 2026 21:49 WIB
Foto: dok. RSCM
Foto: dok. RSCM

RM.id  Rakyat Merdeka - RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta memastikan, kondisi dua pasien anak asal Sumatera Utara (Sumut) yang disebut mengalami masalah kesehatan usai mengonsumsi makan bergizi gratis (MBG), secara fisik dalam keadaan baik. 

Pasien pertama yang viral disebut hilang ingatan, ternyata tidak mengalami gangguan fungsi otak. Sementara pasien kedua yang disebut mengalami penurunan fungsi ginjal, kini telah pulih kembali.

“Kalau ditanya diagnosis, diagnosis dari neurologi anak adalah paroxysmal non epileptic event. Bahasa awamnya adalah suatu serangan tiba-tiba, yang bukan merupakan suatu kejang sebetulnya, dan juga bukan problem organ dari otak itu sendiri. Jadi, dari saya artinya, tidak ada diagnosis sebetulnya,” jelas Konsultan Saraf Anak RSCM Prof.Dr.dr. Setyo Handryastuti Sp.A (K) yang akrab disapa Prof. Handry dalam konferensi pers di RSCM Jakarta, Rabu (16/9/2026).

“Yang jelas, pada saat saya periksa, ananda memiliki ingatan yang sangat baik, memori jangka pendek maupun jangka panjangnya normal. Hasil pemeriksaan electroencefalografi (EEC) juga tidak menunjukkan gangguan apa pun,” lanjutnya.

Konsultan Psikiatri Anak dan Remaja, Prof. Dr.dr. Tjhin Wiguna Sp.KJ (K) setuju dengan pandangan Prof. Handry. Menurutnya, pasien anak pertama bisa menggambarkan secara keseluruhan tentang apa yang dia rasakan. Baik untuk saat ini ataupun pada masa beberapa pekan lalu.

“Jadi, saya bisa menyimpulkan, dia memiliki fungsi kognitif dan memiliki orientasi yang cukup baik. Dia tahu ada di mana, tanggal berapa, hari apa, siapa dirinya dan juga orang tuanya. Dia tahu semuanya. Saya tidak melihat adanya disorientasi atau masalah pada memori kerja,” papar Prof. Tjhin.

Baca juga : Warning BPOM Ke SPPG: Lebih Dari 4 Jam, MBG Basi

Namun, Prof. Tjhin menyebut pihaknya masih perlu melakukan pendalaman dari aspek kejiwaan, mengingat penelusuran terhadap aspek psikiatrik atau status mental seseorang tidak dapat dilakukan dengan cepat.

“Karena kita kan baru berkenalan dengan anak ini. Kalau nanti mereka kembali ke tempat asalnya, kami tentu akan men-support dengan bantuan teman-teman kami di sana,” ujar Prof. Tjhin.

Awalnya, Prof. Tjhin menduga pasien mengalami suatu gangguan atau kondisi psikotik yang tidak bisa membedakan antara realita dan fantasi.

“Namun, setelah kami telusuri, kelihatannya kondisi itu kurang mendukung. Yang pasti mendukung adalah adanya beberapa serangan panik dalam waktu satu bulan ini. Sehingga, kami berpikir apakah ini sebenarnya merupakan suatu gangguan panik. Ketika dia mengalami tekanan yang besar, kepanikan itu muncul,” beber Prof. Tjhin.

Pasien Kedua Pulang Akhir Pekan Ini

Terkait pasien anak kedua, Konsultan Ginjal Anak, dr. Henny Adriani Puspitasari Sp.A, Subsp. Nefro mengungkap, diagnosis yang diterimanya saat pasien tersebut masuk RSCM adalah penurunan fungsi ginjal akut.

Diagnosis serupa juga diperoleh Henny saat melakukan evaluasi terhadap pasien tersebut. Pasien diketahui tidak memiliki riwayat penyakit ginjal.

Baca juga : Siswi Karo Diduga Keracunan MBG, Menkes Turunkan Tim Ahli RSCM

“Untuk ananda kedua, fase recovery-nya sudah hampir sempurna. Semua kondisinya sangat baik. Fungsi ginjalnya juga sudah baik. Kami estimasi akan memulangkan ananda akhir pekan ini,” urai Henny.

Dengan kondisi tersebut, pasien anak kedua bisa melanjutkan evaluasi di tempat asalnya, karena evaluasinya tidak terlalu rumit. Hanya perlu dilakukan secara berkala.

“Kami akan menuliskan apa-apa saja yang akan kami pantau. Kami akan pantau bersama dengan tim lokal,” imbuh Henny.

Mengenai kondisi kejiwaan pasien kedua, Konsultan Psikiatri dan Anak dr. Kusuma Minayati Sp.JK, Subsp AR (K) menjelaskan, berdasarkan hasil pemeriksaan, pasien tersebut tidak memenuhi sebuah kriteria diagnosis untuk gangguan tertentu.

“Namun, kami akan terus melakukan pemantauan untuk perkembangannya, termasuk saat rawat jalan nanti,” kata Kusuma.

Penanganan Komprehensif

Kepala Departemen Kesehatan Perempuan & Anak RSCM, dr. Fatima Safira Alatas Sp.A (K) PhD menuturkan, kedua pasien anak asal Sumut itu sudah ditangani dengan baik oleh ahlinya masing-masing.

Baca juga : BGN Minta Maaf, Fokus Tangani Korban

“Tentunya yang paling penting adalah komunikasi dengan teman-teman sejawat kami nanti di sana untuk pemantauan. Agar mereka bisa kembali bersekolah dengan baik tanpa ada rasa cemas lagi terhadap media mungkin ya, dan juga dari siapa pun yang bertanya kepada mereka, supaya sekolahnya berjalan lancar,” kata Fatima.

Kristiana Siste dari Departemen Psikiatri menambahkan, penanganan terhadap kedua pasien anak tersebut bersifat komprehensif dan holistik. Dalam konteks ini, dukungan keluarga dan lingkungan sosial menjadi sangat penting, agar mereka bisa beraktivitas dan bersekolah kembali dengan normal.

“Kami juga melakukan pendampingan terhadap pihak keluarga, untuk mendukung pemulihan kedua ananda,” ucapnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.