Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Wamenkeu ke Penerima Beasiswa LPDP: Saya Tunggu Kontribusi Anda
- Pakar Hukum: Bantahan Ferry Boboho Jadi Tantangan Berat bagi JPU
- ACFFEST 2026, KPK Ajak Masyarakat Melawan Korupsi Lewat Film
- Korlantas Polri: Informasi Pembuatan SIM Gratis 2026 Hoax!
- BRI Salurkan Tunjangan Profesi Guru Non-ASN Rp921,6 M kepada 507 Ribu Penerima
Hadirkan Inovasi Program Sawah Mini IP-500
Polres Tubaba Perkuat Ketahanan Pangan Masyarakat Dari Pekarangan Rumah
Selasa, 3 November 2026 17:42 WIB
Sebelumnya
Polres Tubaba juga menyiapkan pelatihan berjenjang melalui jajaran kepolisian sektor (Polsek) dan Bhabinkamtibmas. Dengan demikian, masyarakat tidak harus datang ke kantor Polres untuk mempelajari teknik budidaya tersebut.
Para Bhabinkamtibmas akan dilatih agar mampu mendampingi warga di desa masing-masing. Selanjutnya, pelatihan diperluas dengan melibatkan kelompok tani, karang taruna, organisasi perempuan, komunitas keagamaan, organisasi adat, hingga perguruan silat.
Himmawan bahkan memasang target ambisius. Setiap kepala keluarga di wilayah Tubaba diharapkan memiliki minimal satu kolam mini Mina Padi IP-500 Berbasis Biosaka.
"Target kami setiap kepala keluarga minimal memiliki satu kolam. Kalau mau lebih, silakan. Ilmunya akan kami bagikan semua, tidak ada yang ditutup-tutupi. Termasuk pembuatan Biosaka B3 akan kami ajarkan secara gratis," tegasnya.
Dari sisi pembiayaan, Himmawan memperkirakan pembuatan satu unit sawah mini ukuran 5 x 7 meter membutuhkan anggaran sekitar Rp2 juta, termasuk kebutuhan terpal dan media tanam.
Baca juga : Esa Unggul Latih Warga Kebagusan Gunakan Pekarangan untuk Ketahanan Pangan
Terpal jenis A-12 diproyeksikan dapat digunakan hingga sekitar tiga tahun dengan perawatan yang baik. Dalam satu kolam berukuran tersebut, masyarakat dapat menanam sekitar 400-500 polybag padi dan membudidayakan 3.000-4.000 ekor lele.
Kebutuhan air juga relatif terbatas karena dapat memanfaatkan persediaan air dari tandon atau toren untuk mengganti air yang menguap. Dengan siklus pemeliharaan sekitar 60-65 hari, Himmawan memperkirakan hasil penjualan lele berpotensi mencapai Rp 8 juta per siklus panen.
Artinya, apabila perhitungan tersebut tercapai, pendapatan kotor dapat setara sekitar Rp4 juta per bulan. Ia berharap program tersebut tidak hanya meningkatkan ketersediaan pangan keluarga, tetapi juga mengubah pola pikir masyarakat agar lebih produktif dan tidak terus-menerus menunggu bantuan.
"Kami ingin membangun jiwa-jiwa yang mandiri. Kalau masyarakat terus bergantung pada pemerintah, akhirnya terbentuk kebiasaan menunggu dan meminta bantuan. Padahal, kalau diberikan keterampilan dan kesempatan, mereka bisa menghasilkan sesuatu sendiri," ujarnya.
Dampak program tersebut mulai terlihat dari keterlibatan masyarakat. Salah satunya Wayan Sudirne, relawan Poliran yang tertarik mengembangkan sawah mini setelah melihat praktik budidaya berbasis Biosaka melalui media sosial TikTok.
Baca juga : Kementan Dorong Pengembangan Pertanian Organik
Wayan mengaku awalnya hanya menyaksikan tayangan mengenai sawah mini tersebut. Karena tertarik, ia kemudian mencoba membuat kolam sendiri, menyiapkan air dan rendaman rumput, lalu menebarkan benih lele serta menanam padi.
Setelah mengetahui Polres Tubaba menggelar pelatihan dan praktik langsung, ia memutuskan bergabung untuk memperdalam pengetahuan mengenai metode budidaya tersebut.
"Saya lihat di TikTok, kok bagus. Saya senang melihatnya, lalu saya coba aplikasikan sendiri. Setelah kolam jadi dan diisi air, saya cari rumput. Sekitar lima hari kemudian langsung tebar bibit lele dan tanam padi," ungkap Wayan.
Sebagai petani singkong yang menggarap lahan sewaan, Wayan melihat sawah mini sebagai peluang mengisi waktu produktif di sela masa tunggu panen singkong yang membutuhkan waktu sedikitnya tujuh bulan.
Menurutnya, selama masa pertumbuhan singkong, aktivitas di lahan tidak berlangsung setiap hari. Kehadiran budidaya lele dan padi dalam kolam terpal membuka peluang kegiatan ekonomi tambahan bagi petani.
Baca juga : Mentan Beri Penghargaan Ke Penggagas Elisitor Biosaka
Meski baru sekitar satu bulan membangun kolam dan dua minggu menebarkan benih lele, Wayan sudah berencana memperluas budidaya secara bertahap menggunakan hasil panen singkong.
"Kalau ada modal lagi, saya ingin memperluas. Modalnya dari uang sendiri, dari hasil panen singkong. Nanti setelah panen lagi, sisanya akan saya gunakan untuk menambah kolam," katanya.
Wayan berharap program tersebut mendapat perhatian dan pendampingan berkelanjutan agar bisa berkembang menjadi contoh bagi tetangga serta generasi muda di lingkungannya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya