Dark/Light Mode

Rektor Uhamka: Pendidikan Kita Memasuki Era Disrupsi 4.0 Plus

Kamis, 22 Oktober 2020 13:34 WIB
Rektor Uhamka Prof. Gunawan Suryoputro (Foto: Dok. Uhamka)
Rektor Uhamka Prof. Gunawan Suryoputro (Foto: Dok. Uhamka)

RM.id  Rakyat Merdeka - Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (Uhamka) berhasil menyelenggarakan seminar Internasional First Annual International Conference on Natural and Social Science Education (ICNSSE), Rabu (21/10). Seminar secara daring yang mengangkat tema “Innovative Research in Science and Education in The Destructive Era” ini dihadiri lebih dari 300 peserta dari berbagai Universitas di dunia. 

Seminar diisi tokoh-tokoh pendidikan dunia. Seperti Kazutaka Aonuma dari University of Tsukuba Japan, Abdul Rahim Othman dari Universitas Teknologi Petronas Malaysia, Robert Kleinsasser dari Arizona State University USA, Lynn Clouder dari Coventry University UK, dan Anne Cullen dari Griffith University Australia. 

Rektor Uhamka Prof. Gunawan Suryoputro menyatakan, seminar ini sangat penting diselenggarakan di era pandemi seperti sekarang. Sebab, pendidikan saat ini sudah terdisrupsi oleh perkembangan digitalisasi teknologi atau istilah Education in Disruption Era Plus. Sehingga, perlu penyesuaian dan kemampuan beradaptasi dari berbagai pihak untuk memastikan pendidikan di bangku sekolah maupun di perguruan tinggi berjalan dengan baik. "Gedung mewah dan mengajar dengan cara konvensional sudah tidak relevan lagi,” ujar Gunawan, dalam keterangannya, Kamis (22/10).

Berita Terkait : Hadapi Revolusi Industri 4.0, Milenial Butuh Kecakapan Literasi

Gunawan menerangkan, Era Disrupsi 4.0 Plus ini merupakan kewajiban peralihan teknologi dengan fokus utama data dan manusia sebagai penggerak utama. “Ketika Era Disrupsi 4.0 berbicara tentang kemungkinan peralihan, maka 4.0 Plus menekankan kewajiban untuk beralih,” tegasnya.

Dia mencontohkan, pada masa Revolusi Industri 4.0, seminar-seminar atau konferensi biasanya dilaksanakan secara utuh di hotel-hotel, kampus, atau di gedung pertemuan lainnya. Teknologi hanya sebagai pelengkap, seperti informasi via internet melalui website, google form, dan sebagainya.

Sedangkan, pada masa Disrupsi 4.0 Plus, teknologi menjadi tumpuan utama. Tanpa teknologi, aktivitas seminar tidak bisa dilaksanakan. Sebab, akan terbentur dengan aturan yang melarang masyarakat untuk mengadakan secara langsung dengan peserta begitu banyak. 

Baca Juga : Libur Panjang, Menhub Minta Operator Transportasi Perketat Protokol Kesehatan

Dengan istilah Disrupsi 4.0 Plus ini, Gunawan memprediksi, lambat laun masyarakat akan terbiasa dalam memanfaatkan dunia maya sebagai tumpuan utama. Nantinya hal ini akan menjadi jembatan menuju Industri 5.0 yang dicetuskan Jepang pada World Economic Forum (WEF) yang hanya fokus pada society.

Namun demikian, kata Gunawan, pendidikan di Indonesia pada masa Disrupsi 4.0 Plus masih harus menghadapi banyak tantangan. Dia menilai, pendidikan berbasis tes atau ujian belum menjadi solusi yang efektif dalam usaha memonitoring perkembangan peserta didik. Pendidikan berbasis tes juga masih dirasa belum efektif dalam usaha mengembangkan SDM Indonesia yang berkualitas. "Soalnya, pendidikan berbasis tes tidak seutuhnya menggambarkan kemampuan peserta didik,” jelasnya.

Sedangkan proses monitoring dan pengembangan SDM menjadi individu yang kreatif dan inovatif masih menjadi tantangan dalam proses pembelajaran. Sejauh ini, kata Gunawan, institusi pendidikan di Indonesia masih terfokus pada pendidikan berbasis ujian sebagai instrumen yang menentukan kesuksesan peserta didik. "Padahal, belum tentu merefleksikan kemampuan seorang peserta didik dan belum tentu menggambarkan capaian peserta didik secara akurat.” pungkasnya. [TIF]