Dark/Light Mode

Penelitian Unibraw: Kenaikan Cukai Tak Efektif Turunkan Perokok Usia Dini

Kamis, 22 Oktober 2020 13:47 WIB
Pita cukai (Foto: Istimewa)
Pita cukai (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pusat Penelitian Kebijakan Ekonomi (PPKE) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Brawijaya (Unibraw) melakukan penelitian soal rokok di anak usia dini. Hasilnya, kenaikan cukai dan harga rokok tak efektif menurunkan jumlah perokok usia dini maupun prevalensi stunting.

Penelitian itu menyimpulkan, penyebab utama perokok usia dini adalah lingkungan di dalam maupun luar rumah, keingintahuan anak, pengendali stres, dan tingkat pendidikan orang tua yang rendah. "Khususnya ayah. Serta adanya anggota keluarga yang merokok," terang anggota PPKE FEB Unibraw Imanina Eka Dalilah.

Penelitian yang dilakukan Maret-April 2020 ini menggunakan metode kuantitatif untuk menganalisis perilaku perokok usia dini dan prevalensi stunting. Sedangkan metode kualitatif digunakan dalam analisi perilaku merokok pada ibu hamil. Penelitian dilakukan di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jakarta, dan Banten. Total responden perokok usia dini sebanyak 900 orang, terdiri dari 450 perokok dan 450 nonperokok dengan rentang usia 10-18 tahun. Teknis analisis data untuk perokok usia dini dan prevalensi stunting menggunakan fuzzy c-means dan regresi logistik.

Baca juga : WFH Efektif Tekan Jumlah Kematian

Kata Imanina, 47 persen perokok usia dini berada dalam keluarga berpendapatan Rp 2 juta lebih per bulan. Per harinya, 28 persen perokok usia dini mengkonsumsi 1-2 batang, 18 persen 3-4 batang, dan 27 persen 5-6 batang. Sebanyak 95 persen perokok usia dini membeli rokok Rp 1.500 per batang, dan 4 persen yang membeli dengan harga Rp 1.000 per batang. Mereka cenderung membeli secara eceran, dan mengkonsumsi berbarengan (join).

"Sebanyak 57 persen perokok usia dini memilih tidak beralih produk rokok jika harga rokok mengalami kenaikan. Sedangkan, 43 persen lainnya memilih beralih ke produk lain jika harga rokok naik. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan harga rokok tidak berpengaruh terhadap perubahan konsumsi rokok usia dini,” papar Imanina. 

Joko Budi Santoso, anggota PPKE FEB Unibraw lainnya, mengulas ke sektor ekonomi. Menurutnya, Industri Hasil Tembakau (IHT) berperan penting dalam penerimaan negara. IHT berhasil menyumbang Rp 150 triliun selama 5 tahun terakhir. Selain itu, juga menyerap jutaan tenaga kerja.

Baca juga : Ferdinand Minggat Untungkan Demokrat

Hanya saja, belakangan ini IHT terus mendapat tekanan melalui berbagai aturan untuk pengendalian konsumsi maupun penerimaan negara. Data menunjukkan, volume produksi 2016-2018 anjlok 4,59 persen. Jumlah pabrik dari 4.793 di 2007, tinggal 487 pada 2017, atau hanya sekitar 10 persen.

"Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan prevalensi merokok usia di atas 10 tahun turun 29,3 persen pada 2013 menjadi 28,8 persen di 2018. Tetapi, penurunan pabrik dan produksi berbanding terbalik dengan jumlah perokok usia dini," ungkap Joko.

Menurutnya, fakta ini menjadi indikasi kenaikan tarif tidak selalu dibarengi dengan perspektif teori yang digunakan. Buktinya, perokok usia dini meningkat dari 7,2 persen tahun 2013, menjadi 9,1 persen tahun 2018. Sehingga, kata Joko, kenaikan cukai dan harga rokok hanya mengancam IHT.

Baca juga : Ponakan Prabowo Bidik Piala Adipura

Berdasarkan hasil penelitiannya, PPKE FEB Unibraw memberikan rekomendasi dan usulan kepada pemerintah. Yakni, lebih memaksimalkan program pendidikan melalui wajib belajar untuk memberikan pemahaman terhadap dampak negatif merokok di usia dini, dan perilaku merokok pada ibu hamil.

"Pengadaan program sosialisasi di sekolah maupun di tingkat desa bagi orang tua (melalui PKK dan Posyandu) tentang penanggulangan merokok di usia dini dan pencegahan terjadinya stunting. Perlu penegasan aturan tentang pemasaran terbatas bagi produk IHT," pungkas Joko. [MEN]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.