Dark/Light Mode

Di Depan Gus Miftah, Retno Bicara Diplomasi

Jumat, 8 Januari 2021 20:35 WIB
Menlu Retno Marsudi. (Foto: ist)
Menlu Retno Marsudi. (Foto: ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Bagi sebagian orang, urusan diplomasi adalah teritori kaum adam. Anggapan itu seperti menjadi kebenaran karena sejak Indonesia merdeka, jabatan Menteri Luar Negeri selalu diisi laki-laki. 

Pertama kali dalam sejarah, di masa pemerintahan Presiden Jokowi posisi tertinggi di Kementerian Luar Negeri itu dipercayakan kepada seorang perempuan. Perempuan itu adalah Retno Marsudi yang dinilai sebagai pembaharu dalam diplomasi Indonesia.

Di masa pandemi, diplomasi ala Kartini yang inspiratif dan tak mengenal henti adalah kunci. Dalam berbagai forum internasional, perempuan kelahiran Semarang, 27 November 1962 itu senantiasa mendampingi Presiden Jokowi dan mengusung jurus-jurus diplomasi yang paten. Retno bahkan dianggap sebagai salah satu perempuan paling berpengaruh dalam Kabinet Jokowi.

Berita Terkait : Titip Pesan Ke Gus Miftah, Boy Rafli: Indonesia Masih Rawan Ancaman Terorisme

Diplomasi Retno adalah diplomasi perdamaian dan kemanusiaan. Sebagai seorang diplomat cakap, Retno menegaskan bahwa kegagalan diplomat apabila terjadinya perang. 

“Tugas diplomat itu adalah berusaha untuk menjadikan situasi seburuk apapun menjadi lebih baik, seperti berusaha untuk menjembatani agar tidak terjadi perang,” jelas Retno dalam program acara “Ngobrol Bareng Gus Miftah”, Jumat (8/1). 

Menurutnya, jika konflik terjadi maka tidak hanya akan merusak lingkungan, tetapi juga berpengaruh pada moral masyarakat terdampak.

Baca Juga : BPOM Awasi Kualitas Vaksin Sinovac Sampai Daerah

Berkat diplomasinya lah yang membuat Indonesia menjadi Anggota Dewan HAM PBB periode 2020-2022 serta berhasil mengantar Indonesia duduk sebagai Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan PBB periode 2019-2020. Retno benar-benar menjadi pembaharu dalam keterlibatan perempuan dalam politik diplomasi di dunia.

Sementara itu, Retno menganggap perempuan perlu terus diberdayakan, termasuk di tengah pandemi. Sekitar 70 persen tenaga medis seluruh dunia adalah perempuan.

"Artinya perempuan berada di garda terdepan dalam penanganan pasien," ungkap alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta itu yang mendapatkan penghargaan sebagai agen perubahan di bidang Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan dari UN Women dan Partnership Global Forum (PGF) 2017 ini.

Baca Juga : Pemkot Batu Izinkan Tempat Wisata Buka Saat PPKM

Di mata Retno, perempuan selalu dapat menjadi bagian dari penyelesaian masalah. Ia mengatakan, perempuan Indonesia harus saling menguatkan. Retno pun mengambil semangat Kartini sebagai inspirasi.

Senada, Gus Miftah menyampaikan bahwa perempuan adalah sumber peradaban. Perempuan merupakan komponen dalam keluarga dan masyarakat yang sangat berperan penting dalam membentuk generasi dan peradaban. “Seorang perempuan ibarat sekolah pertama bagi setiap lapisan generasi,” ujarnya. [DIT]