Dark/Light Mode

Lestarikan Aksara Nusantara 

Pandi Gelar Training Buat Jurnalis

Jumat, 29 Januari 2021 21:38 WIB
Workshop Fellowship Aksara yang digelar Pandi secara virtual.
Workshop Fellowship Aksara yang digelar Pandi secara virtual.

RM.id  Rakyat Merdeka -  Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (Pandi) terus berupaya menjaga kelestarian aksara Nusantara melalui berbagai program.  Salah satu program tengah dilakukan Pandi yakni menggelar Training dan Fellowship  Jurnalis terkait jejak dan digitalisasi aksara Nusantara.

Menurut Ketua Pandi Yudho Sucahyo, media memiliki peranan penting untuk turut serta dalam pelestarian aksara Nusantara.

"Kami memberikan kesempatan bagi jurnalis se-Indonesia untuk berpartisipasi bersama-sama melestarikan aksara milik negeri sendiri. Jangan sampai aksara justru tak dikenal di generasi penerus bangsa," katanya dalam acara Workshop Fellowship Aksara Nusantara, di Jakarta, Kamis (28/1).

Yudho menegaskan, saat ini Pandi telah melaksanakan selebrasi Program Merajut Indonesia Melalui Digitalisasi Aksara Nusantara (MIMDAN), sebuah program Pandi dalam rangka mengupayakan proses digitisasi dan digitalisasi 7 aksara nusantara yaitu aksara Jawa, Sunda, Bugis (lontara), Rejang, Batak, Makassar dan Bali.

Proses digitalisasi tersebut berupa pendaftaran ke Unicode sampai dengan ke Internet Corporation for Assigned Names and Numbers (ICANN). Saat ini, proses digitalisasi aksara Jawa tengah berjalan pada tahap pendaftaran di ICANN.

Berita Terkait : Bangkitkan Parekraf Pulau Dewata, Sandi Ngantor Di Bali

 "Dan ini perjalanannya masih sangat panjang sekali, tidak mudah memang tapi harus kita jalani," imbuhnya.

Program MIMDAN, lanjut Yudho, bentuk komitmen Pandi dalam melestarikan budaya aksara daerah dan peningkatan literasi digital. Selanjutnya, Pandi akan mendaftarkan aksara-aksara yang sudah terdaftar di Unicode menjadi Top Level Domain di ICANN agar bisa dipergunakan di internet.  

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), Semuel Abrijani Pangerapan mengapresiasi langkah  dilakukan Pandi. Menurutnya, upaya Pandi merupakan salah satu upaya pelestarian budaya Indonesia melalui ranah digital. Apalagi, transformasi digital kini menjadi sebuah keniscayaan yang harus dihadapi.

 Langkah tersebut, lanjutnya, memiliki nilai strategis karena penetrasi tingginya pengguna internet di Indonesia yang mencapai 196 juta pengguna. 

"Peluang ini dimanfaatkan membantu upaya pelestaraian budaya di ruang digital, jadi jembatan konvergensi budaya oleh masing-masing pengguna," ucapnya.

Berita Terkait : Liga 1, Idealnya Digelar Lagi Agustus

Program fellowship jurnalis, lanjut Semuel, menjadi dorongan untuk banyaknya konten publikasi yang memuat aksara digital. Bagaimana jangka panjang menciptakan tren positif menggunakan aksara di ranah digital. 

"Kemenkominfo mendukung penuh, berkolaborasi dan berkomitmen membentuk dan membangun generasi muda untuk melestarikan kebudayaan nusantara," ujarnya.

Penasihat Komunikasi dan Informasi Unesco Jakarta, Ming Kuok Lim mengatakan, upaya pelestarian budaya, salah satunya aksara sangatlah penting. Apalagi, Indonesia memiliki beragam budaya. Jika tidak, ia khawatir makin banyak bahasa yang terancam punah karena generasi selanjutnya yang terkesan lalai dan abai untuk melestarikannya. 

Bahkan, menurutnya, kini lebih dari 50 persen dari sekitar 6.700 bahasa yang digunakan saat ini terancam punah.  Sementara itu, dari hampir 2.500 bahasa terancam punah yang terdaftar dalam Atlas Bahasa Dunia dalam Bahaya Unesco, lebih dari 570 bahasa dianggap sangat terancam punah dan lebih dari 230 bahasa telah punah sejak 1950.

  "Ini menjadi tanggung ajawab dari berbagai pihak dan melakukan promosi bagaimana aksara ini bisa lestari," tegasnya.

Baca Juga : Kemendagri: Sesuai UU, Pilkada Dilaksanakan Di 2024

Unesco sendiri, sambung Lim, ikut mendukung penuh apa yang telah dilakukan oleh Pandi. Upaya pelestarian aksara Nusantara harus dibuka aksesnya selebar mungkin ke masyarakat. Di 2022 akan menjadi kampanye global bagaimana bahasa maupun aksara bisa dikenal di seluruh dunia bukan hanya di Indonesia saja.

Untuk diketahui, dalam gelaran workshop training and fellowship jurnalis yang diinisiasi oleh Pandi juga menghadirkan beberapa pemateri yang memang expert dibidangnya. Kegiatan ini juga melibatkan beberapa aktivis, sejarawan muda seperti Bonnie Triayana, salah satu tim penyusun aksara Kawi dari Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta, Ilham Nurwansah, serta perwakilan dari Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Anita Astriawati Ningrum. Fellowship ini berhasil menjaring 20 peserta terpilih yang berasal dari media nasional maupun daerah di Indonesia. DWI