Dark/Light Mode

Pakar Bahasa UIN Dorong Aksara Nusantara Masuk Kurikulum Lokal

Senin, 18 Januari 2021 13:33 WIB
Ilustrasi aksara tradisional Nusantara. (Foto: Istimewa)
Ilustrasi aksara tradisional Nusantara. (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Penggunaan aksara Nusantara dalam kehidupan sehari-hari masyarakat modern makin terkikis oleh aksara Latin yang telah dipakai sejak zaman Belanda hingga kini.

Penilaian itu disampaikan Pakar Bahasa dari Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Hilmi Akmal, kepada Rakyat Merdeka, baru-baru ini.  

Menurutnya, penggunaan aksara Nusantara sangatlah terbatas. Saat ini aksara Nusantara masih dipakai di bidang pendidikan di daerah yang memang memiliki aksara tertentu seperti di mayoritas suku Jawa meliputi Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

"Berapa angka (persentase-red) memang belum ter-update secara formal. Tapi, jika melihat penggunaan bahasa lisan yang digunakan anak milenial yang cenderung mengikuti ungkapan-ungkapan lisan dari anak-anak Jakarta, rasanya sulit dijumpai anak milenial yang masih memakai aksara nusantara untuk berkomunikasi secara tertulis," imbuhnya.

Berita Terkait : Wow, Kini Banyak Aplikasi Belajar Aksara Nusantara Loh

Ia berpandangan, aksara Nusantara bisa tetap lestari dengan memasukannya ke dalam muatan kurikulum lokal. Selanjutnya, nanti  setelah aksara Nusantara mulai terserap baik oleh pelajar, bisa diadakan lomba menulis baik menulis kreatif maupun menulis karangan ilmiah dalam aksara-aksara nusantara tersebut.

Selain itu, lanjut Hilmi, bisa juga digunakan cara lewat penerbitan buku-buku yang memakai aksara Nusantara atau penerjemahan buku-buku beraksara latin ke aksara Nusantara. Namun, perlu dicatat bahwa upaya-upaya ini tidak semudah membalik telapak tangan. "Perlu kesungguhan berbagai pihak dan dukungan dari pemerintah yang bukan dukungan hampa," ucapnya.

Ia mengapresiasi upaya digitalisasi aksara Nusantara yang dilakukan oleh PANDI (Pengelola Nama Domain Internet Indonesia) demi menjaga kelestarian aksara Nusantara. Ia berharap, semoga langkah tersebut terus dilakukan, sehingga orang-orang yang menguasai aksara Nusantara itu bisa berkomunikasi lewat aksara Nusantara di berbagai platform media sosial yang ada.

Hilmi mengaku, memililiki cita-cita penggunaan aksara Nusantara meningkat. Sehingga, ke depan bisa tampil di ruang-ruang publik, di media sosial, buku, dan sebagainya sehingga tidak semakin tergerus oleh aksara Latin.  

Baca Juga : Dubes RI di Jepang Dukung Giat Forum Bisnis Baru Bersama

Dia menyebutkan,selain aksara Nusantara, ada kekayaan budaya lain di Indonesia, yakni aksara Arab Pegon, yang kini penggunaannya juga semakin terlumat oleh aksara Latin. “Semoga semua aksara ini dapat lestari," harapnya.

Hilmi menyoroti ditolaknya permohonan Internationalize Domain Name (IDN) digital aksara Jawa oleh Lembaga Internet Dunia (Internet Corporation for Assigned Names and Numbers/ICANN), yang diajukan oleh PANDI. Menurutnya,  langkah PANDI itu harusnya didukung dan diberikan akses oleh pemerintah. Hal itu katanya, sebagai salah satu upaya agar aksara Nusantara bisa dikenal oleh penduduk dunia.

"Harusnya bisa juga didukung secara gerakan nasional. Karena ini kan untuk kepentingan pelestarian kebudayaan Indonesia," ujuarnya.

Sebelumnya, Ketua PANDI Yudho Giri Sucahyo mengatakan, pihaknya sudah mengajukan digitalisasi aksara Jawa sejak Juli 2020 lalu. Ia mengungkapkan, setidaknya ada tiga alasan ICANN menolak domain aksara Jawa.

Baca Juga : Sandi Bakal Libatkan Milenial Pada Acara Internasional Di Lombok

Yang pertama, ICANN menilai bahasa Jawa belum masuk sebagai bahasa administratif Indonesia di ISO 3166-1. Kedua, ICANN melihat bahwa belum cukup bukti bahwa aksara Jawa lazim digunakan oleh seluruh atau sebagian masyarakat Indonesia. "Terakhir, status aksara Jawa di UNICODE di mana saat ini masih masuk dalam kategori Limited Use Script," pungkasnya. [DWI]