Dark/Light Mode

Kesuksesan PJJ Perlu Dukungan Kompetensi Guru Dan Akses TIK

Kamis, 11 Februari 2021 09:40 WIB
Ilustrasi pembelajaran jarak jauh/belajar dari rumah. (Ist)
Ilustrasi pembelajaran jarak jauh/belajar dari rumah. (Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Nadia Fairuza mengatakan, pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang sudah berjalan hampir satu tahun menyisakan berbagai tantangan dan peluang yang perlu ditindaklanjuti.

“Tantangan yang dihadapi antara lain adalah kompetensi guru dan juga ketimpangan pada akses teknologi, informasi dan komunikasi (TIK),” tutur Nadia Fairuza dalam rilis yang diterima RM.id, Kamis (11/2/2021).

Nadia menyatakan, tantangan untuk meningkatkan kompetensi guru dalam melaksanakan pembelajaran jarak jauh ini tentu saja bukan hal yang dapat diselesaikan dalam waktu singkat.

Para guru memerlukan pelatihan yang ekstensif dan intensif sebelum dapat langsung menyelenggarakan pembelajaran jarak jauh dengan optimal.

“Akan tetapi, pelatihan semacam itu tentu tidak dapat dilaksanakan dalam keadaan darurat seperti saat pandemi Covid19 sekarang ini,” katanya.

Selain itu, tambahnya, disrupsi yang datang mendadak di sektor pendidikan ini membutuhkan solusi dan tindak lanjut yang cepat dari guru dan sekolah. Mau tidak mau, pembelajaran jarak jauh tetap harus dilaksanakan dengan sumber daya yang seadanya.

Untuk mengatasi terbatasnya kemampuan guru dalam menyelenggarakan pembelajaran jarak jauh, ada baiknya sekolah dan guru dapat mengidentifikasi layanan pembelajaran jarak jauh seperti apa yang dapat digunakan oleh siswanya.

Berita Terkait : Tantangan dan Solusi Pembelajaran Jarak Jauh

Salah satu kompetensi yang patut dibenahi adalah belum memadainya kemampuan guru dalam menggunakan perangkat teknologi untuk melakukan pengajaran.

Padahal kata dia, pandemi memaksa mereka untuk beradaptasi dan menggunakan teknologi untuk mengajar.

Survei Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memperlihatkan bahwa sebanyak 53,55 persen guru mengalami kesulitan dalam melakukan manajemen kelas selama belajar dari rumah (BDR).

Selain itu, meskipun pemerintah mengklaim telah melakukan berbagai pelatihan Information and Communication Technologies (ICT) atau Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) kepada guru, sebanyak 48,45 persen guru mengaku masih kesulitan dalam menggunakan teknologi selama BDR.

Penguasaan TIK tentu menjadi sesuatu yang tidak terhindarkan dan perlu dijadikan prioritas untuk pengembangan kompetensi guru sekarang dan juga di masa depan.

"Pandemi merupakan sesuatu yang datangnya tidak diduga dan menunjukkan hal-hal apa saja yang perlu diperbaiki dan diadaptasi,” jelas Nadia.

Selain peningkatan kapasitas guru, Nadia memaparkan perlunya upaya nyata dari pemerintah untuk meminimalkan, bahkan, menghilangkan ketimpangan akses teknologi informasi dan komunikasi (digital divide) antar daerah di Indonesia.

Baca Juga : BGS: Banyak Teknologi Baru Yang Bisa Dimanfaatkan, Untuk Tekan Risiko Penularan Covid

Ketimpangan akses teknologi informasi dan komunikasi dapat menjadi hambatan dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Para siswa yang berasal dari kalangan kurang mampu maupun yang tinggal di daerah-daerah rural Indonesia seperti di Nusa Tenggara dan Papua umumnya, tidak memiliki infrastruktur dan fasilitas yang memadai untuk menjalankan pembelajaran jarak jauh.

Pada akhirnya, siswa-siswa tersebut mengalami kesulitan yang lebih besar daripada teman-teman seusianya yang berada di daerah perkotaan maupun yang berasal dari keluarga menengah keatas.

Pada tahun ini pun, isu digital divide masih akan menjadi permasalahan yang belum terselesaikan. Namun pandemi juga menunjukkan adanya peluang yang dapat dijadikan bahan evaluasi pada pelaksanaan pendidikan.

Peluang pertama adalah terkait dengan kebebasan bagi guru/sekolah dan bersama-sama dengan siswa untuk mendesain sistem pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi guru dan siswa.

Wakil Sekjen Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jejen Musfah mengatakan, kesuksesan pelaksanaan PJJ perlu didukung oleh ketersediaan sarana dan prasarana teknologi serta konektivitas internet.

Selain itu, ia juga mengatakan perlunya dukungan dari para kepala sekolah dan dinas pendidikan di daerah kepada para guru dalam penguasaan literasi digital dan kreativitas.

Baca Juga : PPKM Bisa Kurangi Keterpakaian Tempat Tidur Di Rumah Sakit

Para stakeholder tersebut diharapkan mampu bekerjasama, menjalin komunikasi yang baik, berkomitmen dan menjalankan segala upaya secara berkesinambungan.

Sebagian guru, lanjutnya, memang kurang pengalaman mengajar secara daring bahkan minim pengetahuan digital.

Jejen mengimbau para guru bisa belajar melalui internet secara mandiri atau mengikuti webinar- webinar yang dilaksanakan oleh sekolah maupun nonsekolah.

Dikatakan, Guru yang berkomitmen dan kreativitasnya berkesinambungan tidak dipengaruhi waktu dan keadaan, karena telah mendarah daging.

Guru semacam ini tidak dilahirkan atau digembleng tetapi perpaduan antara faktor genetik dan faktor pendidikan formal, nonformal, dan informal.

"Oleh karena itu penguatan peran keluarga, pendidikan formal dan nonformal menjadi niscaya agar terlahir guru-guru hebat di masa depan,” terangnya. [FAZ]