Dark/Light Mode

Pembelajaran Tatap Muka Terbatas Bisa Tekan Dampak Sosial Negatif

Rabu, 31 Maret 2021 20:53 WIB
Kegiatan pembelajaran tatap muka terbatas di SMA Negeri 2 Cibinong, tetap mengedepankan protokol kesehatan. (Foto: Ng Putu Wahyu Rama/RM)
Kegiatan pembelajaran tatap muka terbatas di SMA Negeri 2 Cibinong, tetap mengedepankan protokol kesehatan. (Foto: Ng Putu Wahyu Rama/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Setahun pandemi Covid-19 menimbulkan dampak sosial negatif yang berkepanjangan seperti putus sekolah, penurunan capaian belajar, kekerasan pada anak, dan risiko eksternal lainnya.

Alasan inilah yang melatarbelakangi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim untuk kembali menggelar pembelajaran tatap muka di sekolah. Sesuai Surat Keputusan Bersama (SKB) Mendikbud, Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Menteri Kesehatan (Menkes), dan Menteri Agama (Menag) tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19.

"Prinsip yang menjadi pertimbangan utama dalam penyelenggaraan pendidikan selama pandemi Covid-19 adalah kesehatan dan keselamatan, serta tumbuh kembang dan hak anak," ujar Nadiem dalam Surat Keputusan Bersama tersebut.

Baca juga : Pertamina Berikan Layanan Medis Terbaik Bagi Warga Terdampak Insiden Balongan

Nadiem juga menyampaikan terima kasih kepada warga satuan pendidikan yang terus bahu-membahu. Memastikan prinsip tersebut dijunjung di tengah begitu banyaknya tantangan.

“Salah satu tantangan terbesar adalah murid tidak bisa ke sekolah, untuk berinteraksi dengan teman-teman sebayanya dan guru mereka. Manfaat pembelajaran tatap muka,  pada kenyataannya memang sulit digantikan dengan pembelajaran jarak jauh,” terang Nadiem.

Untuk diketahui, Indonesia adalah 1 dari 4 negara di kawasan timur Asia dan Pasifik yang belum melakukan pembelajaran tatap muka secara penuh. Sementara 23 negara lainnya sudah.

Baca juga : Berlaku 1 April, Edaran Terbaru Satgas Covid-19 tentang Perjalanan Dalam Negeri

Lembaga PBB yang khusus menangani masalah anak-anak (UNICEF) menyebut, anak-anak yang tidak dapat mengakses sekolah secara langsung semakin tertinggal. Dampak terbesar dirasakan oleh anak-anak yang paling termarjinalisasi.

“Sebanyak 85 persen negara di Asia Timur dan Pasifik telah melakukan pembelajaran tatap muka secara penuh. Berdasarkan kajian UNICEF, pemimpin dunia diimbau untuk berupaya semaksimal mungkin, agar sekolah tetap buka. Atau memprioritaskan agar sekolah yang masih tutup, dapat dibuka kembali,” ungkap Nadiem.

Sejak Juli 2020, pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan, sebagai bagian dari upaya menekan dampak negatif yang berkepanjangan, akibat tidak terjadinya pembelajaran tatap muka.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.