Dark/Light Mode

Tanpa Literasi Digital, Anak-anak Rentan Konsumsi Konten Berbahaya

Senin, 3 Mei 2021 13:55 WIB
ilustrasi pembelajaran jarak jauh. (Ist)
ilustrasi pembelajaran jarak jauh. (Ist)

 Sebelumnya 
Sejalan dengan rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Nadia memandang kegiatan belajar tatap muka idealnya tidak dilakukan sampai menunggu turunnya angka penularan Covid-19 dan memperhatikan luasnya jangkauan vaksinasi yang dilakukan oleh pemerintah dan swasta.

Namun tidak hanya memprioritaskan vaksinasi, pemerintah perlu memperhatikan bagaimana sekolah dapat mengimplementasikan protokol kesehatan yang baik dan benar.

Menurutnya, penutupan sekolah yang sudah berjalan lebih dari satu tahun membawa berbagai dampak bagi peserta didik, seperti hilangnya kemampuan peserta didik dalam belajar (learning loss), peningkatan angka putus sekolah (school dropouts), serta penurunan kesehatan mental mereka dan juga guru.

"Walaupun demikian, diharapkan bahwa guru dan siswa sudah semakin terbiasa dan dapat menyiasati keterbatasan yang ada tersebut, salah satunya lewat upaya-upaya untuk meningkatkan literasi digital,” jelasnya.

Baca Juga : PPP Harap Partai Ummat Perkuat Koalisi Partai Islam Di Parlemen

Beberapa hal CIPS merekomendasikan untuk meningkatkan literasi digital. Yang pertama adalah perlunya koordinasi yang kuat antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Kementerian Agama (Kemenag), dalam menyusun kurikulum mata pelajaran TIK agar sesuai dengan tuntutan zaman.

Ada baiknya apabila konten pembelajaran TIK lebih memprioritaskan pengajaran dalam penggunaan dan menyampaikan informasi yang didapat secara daring dengan bertanggung jawab, mengidentifikasi informasi daring yang dapat dipercaya, dan cara mengamankan peserta didik selama aktivitas daring mereka.

"Kompetensi seperti ini akan sangat relevan dengan tuntutan era digital saat ini."

Selain itu kata Nadia, upaya ini perlu diimbangi dengan keterlibatan orang tua dalam mengawasi anaknya.

Baca Juga : PPKM Mikro Diperpanjang Lagi, Kini Mencakup 30 Provinsi

Ada baiknya Kemendikbud juga menjalin kerjasama yang komprehensif dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) yang memiliki berbagai inisiatif terkait dengan literasi digital seperti Siberkreasi.

Kurikulum ini harus diprioritaskan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam menganalisis, mengevaluasi, dan membagikan informasi digital secara bertanggung jawab.

Selain itu, penting pula membekali peserta didik dengan kemampuan untuk mengidentifikasi sumber informasi yang dapat dipercaya, kiat-kiat untuk melindungi diri mereka selama aktivitas daring mereka agar terhindar dari perundungan siber (cyberbullying), penipuan (online fraud), pelanggaran privasi (privacy breach) dan lain-lain.

Kedua kata Nadia, Kemendikbud dan Kemenag perlu mengevaluasi bagaimana berpikir kritis diintegrasikan dalam pembelajaran di sekolah. Kebiasaan seperti bekerja secara berkelompok dengan teman sekelas.

Baca Juga : Pendidikan Tinggi Harus Bisa Dinikmati Seluruh Warga Negara

Kemudian memperbanyak porsi soal-soal latihan yang mengasah pemikiran kritis. Memupuk model pembelajaran yang mengutamakan kebiasaan bertanya, menganalisis dan menyatakan argumen dalam diskusi harus diperkuat sebagai pondasi peningkatan literasi digital.

Indonesia dapat mengambil contoh dari negara-negara yang sukses mengimplementasikan materi literasi digital dan menerapkannya dengan konteks lokal.

Selanjutnya, materi literasi digital juga harus disertakan dalam pelatihan guru. Tanpa meningkatkan kompetensi TIK yang rendah dan pedagogi berpikir kritis di antara para guru, mereka tidak akan dapat berperan dalam meningkatkan literasi digital siswa. [FAZ]