Dewan Pers

Dark/Light Mode

Kepala BPIP Pimpin Pengajian Kebangsaan

Senin, 7 Juni 2021 12:30 WIB
Kepala BPIP, Yudian Wahyudi memimpin pengajian kebangsaan. (Foto: ist)
Kepala BPIP, Yudian Wahyudi memimpin pengajian kebangsaan. (Foto: ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Yudian Wahyudi mengajak, masyarakat untuk mensyukuri nikmat kemerdekaan. Indonesia merupakan bangsa yang memiliki rasa persatuan tinggi.

Hal ini disampaikan Yudian saat memimpin Pengajian Kebangsaan dalam rangka Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2021 dan 120 tahun kelahiran Presiden Indonesia pertama Soekarno pada 6 Juni. Acara ini berlangsung di Solo, Sabtu (5/6). Dihadiri oleh jajaran pejabat BPIP, akademisi Universitas Negeri Sebelas Maret Solo, santri Padepokan Ki Warsono Slenk, santri Makamhaji Kartasura Surakarta pimpinan Ustadz Setiawan.

“Jika dilihat dengan kemerdekaan Republik Indonesia dan memperingati 120 tahun kelahiran sang Proklamator Indonesia, bangsa kita berdaulat, dengan terjemahan kontekstual ideologi Pancasila, serta konstitusi yang membedakan dengan negara lainnya,” tutur Yudian. 

Berita Terkait : Serius Dengan Bintang NBA

Menurut eks Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini, sejarah mencatat banyak negara pasca perang dunia kedua jadi negara yang terpecah belah, namun tidak dengan Indonesia. Rasa kesatuan dan persatuan ini tentu tidak datang tiba-tiba. Ada berbagai perjuangan dari para pahlawan terdahulu yang perlu  dihormati. 

“Belum pernah terjadi penguasa-penguasa lokal begitu ikhlasnya menyerahkan kekuasaan mereka dengan segala konsekuensi konstitusionalnya kecuali di Indonesia,” tukas Yudian. 

Sumpah Pemuda juga jadi bukti bangsa Indonesia memiliki semangat tinggi. Tanpa peralatan militer yang memadai, bangsa ini berani memproklamasikan kemerdekaan. 

Berita Terkait : Ganjar Kelasnya Menteri

Selain itu, Yudian mengingatkan para jamaah yang hadir, Pancasila yang digali oleh Soekarno dari khazanah keragaman suku, etnis, budaya dan agama adalah pondasi bangsa. Pancasila menjadikan bangsa ini tetap utuh di tengah keragaman.

Momen proklamasi yang berlangsung hanya 59 detik juga harus disyukuri sebagai bentuk keistimewaan dan prestasi terbesar bangsa Indonesia. "Momen singkat ini mampu melepaskan bangsa Indonesia dari penjajahan dan mempersatukan lebih dari 40 kerajaan," jelas Yudian. 

Ia menganalogikan proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia ini layaknya fathu makkah, revolusi tidak berdarah pertama dalam sejarah umat manusia. Peristiwa ini mirip dengan proklamasi bangsa Indonesia yang berlangsung secara damai, membawa manfaat yang besar.

Berita Terkait : Bamsoet: PPHN Diperlukan untuk Satukan Visi Kebangsaan

"Pengajian kebangsaan ini momen penting bagi kita, sebagai medium untuk merawat ingatan dan mengungkapkan rasa terima kasih kepada para pahlawan. Sekaligus ungkapan syukur kepada Allah SWT atas keistimewaan yang diberikan untuk Indonesia," tuntas Yudian. [BCG]