Dewan Pers

Dark/Light Mode

Muhammadiyah: Dari Kacamata Ahlus Sunnah, Vaksinasi Wajib Hukumnya

Rabu, 4 Agustus 2021 19:00 WIB
Vaksinasi Covid-19 di Terowongan Kendal, Menteng, Jakarta Pusat. Vaksinasi adalah bentuk ikhtiar menuju herd immunity. (Foto: Dwi Pambudo/RM)
Vaksinasi Covid-19 di Terowongan Kendal, Menteng, Jakarta Pusat. Vaksinasi adalah bentuk ikhtiar menuju herd immunity. (Foto: Dwi Pambudo/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu’ti menilai, salah satu hambatan dalam pelaksanaan vaksinasi Covid-19 adalah mutual distrust atau krisis kepercayaan masyarakat.

Menurutnya, problem itu dapat dilihat dari beredarnya hoax seputar vaksin, dan banyaknya orang yang percaya bahwa vaksinasi dirancang oleh negara lain untuk melumpuhkan Indonesia.

“Padahal, vaksinasi itu adalah bagian dari cara dan ikhtiar manusia untuk bisa memiliki ketahanan, imunitas. Agar bisa relatif terlindungi dari kemungkinan tertular Covid-19. Vaksinasi itu bukan pengobatan, tapi perlindungan,” kata Mu’ti dalam forum virtual UM Gresik, Senin (2/8).

Berita Terkait : Kadin Harap Kedatangan Sinopharm Percepat Vaksinasi Gotong Royong

Mu'ti menambahkan, kalau ada satu dua kasus orang kena Covid-19 setelah divaksinasi, hingga meninggal dunia misalnya,  itu adalah kasus yang pada banyak hal bisa terjadi.

Untuk melawan krisis kepercayaan itu, Mu'ti berpendapat,  masyarakat harus mendapatkan penjelasan yang mudah dicerna. Baik secara ilmiah, atau dari sisi keagamaan. 

Apalagi, sains juga menyebutkan, meskipun mayoritas manjur tapi tidak memiliki jaminan benar 100 persen.

Berita Terkait : Anies Happy, Kasus Aktif Di Jakarta Turun Jauh, Vaksinasi Lampaui Target Jokowi

“Kebenaran atau probabilitas ilmiah itu kan hanya dipatok di angka 99,99 persen. Itu artinya, ada kemungkinan 1 persen yang tidak sesuai dengan proyeksi dan prediksi. Bahkan, ada yang tingkat kepercayaannya 95 persen. Itu artinya, ada kemungkinan 5 persen,  yang tidak sesuai dengan proyeksi. Tapi, tidak berarti karena ada 1 atau 5 persen itu, maka yang 99 atau yang 95 persen itu kemudian ditiadakan, dan dianggap tidak penting sama sekali,” paparnya.

Bagi umat muslim, Mu’ti berpesan bahwa vaksinasi adalah bagian dari usaha yang dipandang benar. Sesuai kepercayaan ahlu sunnah dalam menghadapi masalah, yakni wajib mendahulukan ikhtiar sebelum bertawakal. Keputusan akhir dari ikhtiar itu berada di tangan Allah. 

“Inilah konstruksi teologi ahlu sunnah yang menurut saya sangat tepat, untuk kita angkat dalam kesempatan ini. Dalam ungkapan yang sederhana, manusia berusaha, Tuhan yang menentukan semuanya. Setelah kita berusaha, berikhtiar, ada saatnya kemudian kita bertawakal dan bertawakal. Itu adalah ciri dari hamba Allah yang muttaqin, yang menyadari bahwa setiap dari kita ini harus berusaha. Setiap kita ini harus berikhtiar. Tapi, tidak boleh kita bergantung pada ikhtiar. Karena kita semuanya hanya bergantung kepada Allah,” jelas Mu'ti.

Berita Terkait : AS Geber Vaksinasi Dan Wajibkan Masker Lagi

Ia menekankan, vaksinasi itu adalah bagian dari ikhtiar ilmiah, sedangkan tawakal itu adalah ikhtiar diniyah. Dua-duanya harus digabungkan.

“Pandangan kita mengenai penyakit, mengenai Alquran, mengenai Islam dan sikap kita di dalam menyelesaikan berbagai persoalan itulah yang kemudian menjadi distingsi, pembeda antara umat dan bangsa yang berkemajuan. Umat dan bangsa yang berilmu pengetahuan, tetapi juga berkeadaban,” pungkas Mu'ti. [HES]