Dewan Pers

Dark/Light Mode

Jangan Takabur Karena Kasus Positif Aktif Turun, Faktanya Kasus Kematian RI Tertinggi Di Dunia

Sabtu, 21 Agustus 2021 10:05 WIB
Warga berduka, meratapi kepergian orang tercintanya yang kalah berjuang melawan Covid-19. (Foto: Tedy Kroen/RM)
Warga berduka, meratapi kepergian orang tercintanya yang kalah berjuang melawan Covid-19. (Foto: Tedy Kroen/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Turunnya jumlah kasus baru dan kasus aktif, serta meningkatnya jumlah pasien sembuh dalam statistik Covid-19 nasional belakangan ini, mestinya tak membuat kita takabur.

Sebab, alarm dari kasus kematian masih berbunyi kencang.

Jumlah kasus kematian kita masih tinggi. Sejak 16 Juli 2021, angkanya masih di atas 1.000. Bahkan pernah 2 kali menyentuh angka 2.000.

Berdasarkan data Satgas Covid-19 per Jumat (20/8), kasus kematian harian Indonesia mencapai angka 1.348.

Our World in Data mencatat, kasus kematian harian di Indonesia saat ini tertinggi di dunia. Mengungguli Amerika Serikat yang hanya membukukan 1.000 kasus kematian.

Disusul Rusia (785), Brazil (778), dan Iran (555).

Berita Terkait : Kasus Positif Naik 20.004, Sumut Dan Bali Masuk 5 Besar, DKI Membayangi

Merespon hal tersebut, mantan Direktur WHO yamg juga Guru Besar FKUI Prof. Tjandra Yoga Aditama mengingatkan, Indonesia perlu melakukan 7 hal untuk menurunkan jumlah angka kematian.

"Kematian Indonesia memang paling tinggi di dunia, untuk saat ini. Karena itu, kita harus melakukan 7 langkah penanggulangan. Mulai dari analisa kematian di lapangan, audit mortalitas RS, pembatasan sosial, testing dan tracing, vaksinasi, penanganan isoman, hingga penanganan di rumah sakit," kata Prof. Tjandra dalam pesan singkatnya kepada RM.id.

Berikut penjelasan rinci atas 7 langkah penanggulangan kasus kematian akibat Covid-19:

a. Analisis Kematian di Lapangan

Data kematian harian harus dianalisis. Berapa yang wafat di rumah sakit, berapa yang meninggal di rumah, berapa yang sudah dibawa ke rumah sakit tapi tidak mendapat tempat dan lain-lain.

"Pola umur dan jenis komorbid juga harus dianalisis," kata Prof. Tjandra.

Berita Terkait : Jabar Kini Di Puncak, Kematian Harian Di Lampung Masuk 5 Besar

b. Audit Kasus Kematian

Audit kasus kematian adalah suatu prosedur yang sudah rutin dilakukan di berbagai rumah sakit.

Kalau hasil audit kematian ini dikumpulkan dan dikompilasi, maka akan didapat pola nasional tentang apa faktor-faktor yang berhubungan dengan tingginya angka kematian.

"Sudah jelas, tingginya angka kematian berhubungan dengan besarnya jumlah kasus yang ada. Kalau angka penularan di masyarakat masih amat tinggi, maka kasus akan terus bertambah. Secara proporsional, kasus yang berat dan meninggal juga akan terus bertambah," terang Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI ini.

c. Pembatasan Sosial

Penularan di masyarakat yang ditandai dengan angka positivity rate, harus ditekan dengan pembatasan sosial yang ketat.

Berita Terkait : Kasus Positif Nambah 20.741, DIY Masuk 5 Besar, Jateng Anteng Di Puncak

Mulai dari pelaksaan 3M (memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau hand sanitizer) 5M (memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau hand sanitizer, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas yang tak perlu), hingga ke berbagai jenis PPKM.

d. Testing dan Tracing

Meningkatkan testing dan tracing, merupakan upaya yang amat penting. Hanya dengan testing dan tracing yang masif, kita dapat menemukan kasus di masyarakat.

"Segera berikan penanganan kepada mereka sebelum terlambat. Isolasi mereka yang positif, sehingga rantai penularan dapat dihentikan," imbau Prof. Tjandra.
 Selanjutnya