Dark/Light Mode

Mau Bubarkan Densus 88? Silakan, Tapi Jangan Ngeluh Kalau Negara Kita Kayak Suriah

Kamis, 14 Oktober 2021 19:49 WIB
Penangkapan tersangka teroris oleh Densus88. (Foto: Istimewa)
Penangkapan tersangka teroris oleh Densus88. (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Narasi usulan pembubaran lembaga Dentasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror menuai kontroversi di ruang publik.

Tudingan tersebut ramai bergulir sejak dilontarkan Politikus Gerindra, Fadli Zon, merespon statemen salah satu petinggi Densus 88 yang menyebut euforia kemenangan Taliban menginspirasi kelompok teroris di Indonesia.

Tokoh ulama Nahdlatul Ulama (NU), KH, Marsudi Syuhud pun mengingatkan peran organisasi kemasyarakatan, agar bersama-sama menanggulangi pemahaman radikalisme.

"Yang bisa memahami ini adalah ormas-ormas seperti NU, Muhammadiyah, dan lainnya yang jumlahnya terdapat 80-an organisasi kemasyarakatan Islam di Indonesia," ujar Marsudi Syuhud saat menyampaikan keynote speech diskusi "Densus 88; Penanggulangan Terorisme dan Narasi Islamofobia, Kamis (14/10).

Baca Juga : Tommy Rusihan Ngaku Dibegal Dari Barisan Militan Demokrat

Nilai-nilai kemanusiaan yang diajarkan melingkupi persoalan keadilan, menghormati orang lain, serta sifat kemanusiaan lainnya.

Marsudi menegaskan, kekerasan terhadap orang lain sangat tidak dibenarkan untuk alasan tertentu.

"Prinsip dasar suatu negara adalah aturan-aturan. Jika tidak ada aturan, pasti kocar-kacir negara itu. Hidup bersama-sama harus ada aturan, hidup di Indonesia atau negara lain harus ikuti peraturannya. Tujuannya, untuk menata keharmonisan kehidupan bersama bangsa dan agama satu dengan yang lainnya," tandasnya.

Kamaludin, salah seorang mantan narapidana kasus terorisme, mengaku sempat sangat membenci keberadaan Densus 88 Antiteror. Lantaran kelompoknya dijadikan target operasi penangkapan.

Baca Juga : Shopee Ajak UMKM Kontribusi Untuk Pemulihan Ekonomi Nasional

Namun kini, ia balik mengapresiasi peran Densus 88 di balik operasi pemberantasan kasus-kasus terorisme.

Menurutnya, keberadaan Densus 88 patut disyukuri oleh umat Islam.

"Wajar, dulu saya menargetkan Densus 88, karena mereka mengincar terorisme. Makanya, kita juga mengincar Densus 88. Densus 88 adalah peran yang harus disyukuri oleh umat di Islam di Indonesia," papar Kamaludin dalam diskusi bertajuk Densus 88: Penanganan Terorisme dan Narasi Islamofobia, Kamis (14/10).

Peneliti senior LIPI Prof. Hermawan Sulistyo berpandangan, tak masalah apabila lembaga yang didirikan sejak tahun 2003 itu dibubarkan. Namun, ia memberikan peringatan secara tegas, terkait konsekuensi bila Densus 88 dibubarkan. Potensi ancaman teror akan terjadi di mana-mana.

Baca Juga : Sejak Munas 2019, Kader Golkar Mantap Dukung Arilangga Nyapres

"Kalau mau dibubarkan, ya bubarkan saja. Kalau ada bom, jangan mengeluh kalau negara kita seperti Suriah," ujar Prof Kikiek, demikian sapaan akrab Hermawan Sulistyo.
 Selanjutnya