Dark/Light Mode

Keranjingan Cupang

Rabu, 17 Februari 2021 06:34 WIB
Ngopi - Keranjingan Cupang
Catatan :
Redaktur

RM.id  Rakyat Merdeka - Selama masa pandemi ini, banyak kegiatan yang saya lakukan di rumah. Mulai dari memelihara burung merpati, memelihara burung kenari, bikin kerajinan dari kayu, sampai bercocok tanam. Sekarang, saya keranjingan ikan cupang.

Saya ketular ikut keranjingan cupang dari kakak saya. Dia tiba-ba datang ke rumah sambil membawa delapan kantong plastik kecil yang semua isinya cupang. Awalnya, saya menolak. Tapi setelah dijelaskan tentang manfaat memandang ikan, dan terdapat nilai bisnis yang tinggi di dalamnya, saya langsung menerima ikan-ikan tersebut dengan senang hati.

Berita Terkait : Keluhan Penjual Gado-gado

Kakak saya bilang, memandang ikan bisa membuat jiwa tenang. Penat pikiran akibat padatnya aktivitas kantor juga bisa hilang. Soal bisnis ikan, saya diminta untuk cari tahu sendiri di media sosial.

Benar saja, setelah berselancar di dunia maya, saya menemukan adanya peluang bisnis yang menjanjikan. Sebab, selain cara jualnya mudah, cuma lewat Facebook dan Instagram, keuntungan yang didapat paling kecil bisa sampai empat kali lipat dari modal.

Berita Terkait : Koleksi Tanaman Hias

Tapi, nggak cuma itu. Saya sempat kaget setelah tahu yang jualan ikan bukan cuma dari masyarakat kalangan bawah. Orang kaya, yang katanya anak sultan, pun banyak. Saya bahkan sempat melihat di salah satu channel YouTube, ada garasi mobil di sebuah rumah mewah yang dijadikan tempat menaruh ratusan toples yang berisi cupang. Belum lagi di pekarangan. Lahan kosongnya dibangun belasan kolam semi permanen untuk menampung anak-anak cupang, hasil ternakan mereka.

Balik lagi ke diri saya. Saat ini, saya sudah punya 22 ekor cupang. Jenisnya macam-macam. Ada avatar hasil silangan copper gold, nemo, koi, giant, sampai cupang jenis fancy. Untuk jenis avatar dan fancy, saya beli sepasang. Niatnya untuk dikembangbiakkan dan anak-anaknya dijual. Mudah-mudahan ada yang beli.

Berita Terkait : Tetangga Kok Gitu Sih

O iya, semua ikan-ikan itu saya beli di online. Saya belum teramat berani keluar rumah. Apalagi sampai harus berkerumun di pasar ikan Jatinegara cuma untuk beli ikan. Keluarga saya masih trauma sama Covid-19. Apalagi seminggu ini ada dua saudara terdekat saya yang meninggal karena Covid-19. Pertama sepupu saya, yang kedua bapaknya.

Dari kabar yang saya dapat, mereka semua tertular Covid-19 dari anggota keluarganya paling bontot yang berprofesi sebagai perawat. Untuk kita yang masih diberi kesehatan, jauhi kerumunan, tetap ikuti protokol kesehatan. Jangan terlena atau ceroboh. Terima kasih. [Danu Arifianto/Wartawan Rakyat Merdeka]