Dewan Pers

Dark/Light Mode

Puan Minta Forum IPU Jawab Tantangan Pakar Soal Pemanasan Global

Senin, 21 Maret 2022 17:52 WIB
Ketua DPR Puan Maharani. (Foto: ist)
Ketua DPR Puan Maharani. (Foto: ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Sebagai bentuk keseriusan mengkampanyekan perubahan iklim, tuan rumah Inter-Parliamentary Union (IPU) ke-144, Puan Maharani, mengundang perwakilan dari generasi muda yang selama ini melakukan berbagai gerakan untuk menghentikan pemanasan global. 

Puan mengajak Melati Wijsen, pemimpin gerakan Youthtopia untuk memberdayakan anak-anak muda agar menjadi agen perubahan. “Melati juga seorang penggagas dari Bye Bye Plastic Bags, sebuah organisasi yang menghimpun pemuda dari seluruh dunia yang berjuang menghentikan pemakaian kantong plastik,” kata Puan dalam First Plenary Sitting of the 144th Assembly of the IPU di Bali International Convention Centre (BICC) The Westin, Nusa Dua, Bali, Senin (21/3).

Puan sengaja menghadirkan Melati guna mengingatkan tanggung jawab negara terhadap generasi muda dan juga mendatang. "Tugas kita adalah meninggalkan bumi yang lebih hijau, lebih sehat, dibandingkan dengan yang kita warisi dari para pendahulu,” sambungnya.

Sementara itu, Melati menegaskan generasi muda sudah bosan dengan berbagai agenda penyelamatan bumi yang hanya sekadar kata-kata saja. “Pemuda dari seluruh dunia, termasuk anggota parlemen yang hadir di sini, tahu perubahan iklim sudah ada. Dan kita tidak menunggu sampai tua untuk melakukan aksi,” ungkap Melati.

Berita Terkait : Sore Ini Lawan PSM Makassar, Macan Kemayoran Lepas Beban

Melati mengaku sudah sejak usia 12 tahun mengkampanyekan penghentian polusi plastik dan melakukan berbagai gerakan. Ini ia lakukan berawal karena tidak ingin Bali yang indah tercemar oleh polusi plastik. 

“Sekarang setelah hampir 10 tahun, hal itu sudah terealisasi. Kami mendengar kita harus take action, maka jangan lagi cuma berbicara. Kami tidak butuh lebih banyak lagi konferensi-konferensi,” tegas wanita yang bertahun-tahun tinggal di Pulau Dewata itu. 

Menurut dia, pemanasan global telah menyebabkan banyak bencana. Seperti mencairnya es di kutub, hutan terbakar, dan masih banyak lagi. Perubahan iklim disebutnya dapat membuat manusia kehilangan tempat tinggal, munculnya penyakit baru, termasuk pandemi.

“Perubahan iklim sudah ada dan sedang terjadi. Ini kenyataan buat kita. Banyak pemuda di dunia punya visi, ide, untuk membangun agar dunia menjadi lebih baik. Tapi kami membutuhkan contoh,” sebut Melati.

Berita Terkait : Puan: Pertemuan IPU Ke-144 Bahas Tantangan Global

Perempuan 21 tahun itu pun meminta agar pemimpin dunia, termasuk dari kalangan parlemen, memberikan kebijakan serius terkait masalah perubahan iklim. “Kita pemuda di sini serius mengenai perubahan. Kita sudah siap. Bagaimana dengan kalian?” tantang Melati ke para anggota parlemen negara-negara dunia di forum IPU.

Setelah Melati, Puan juga mengundang Presiden Forum of Young Parliamentarians dari Mesir, Sahar Albazar. Puan meminta Sahar menyampaikan aspirasi. 

Menurut Sahar, penggunaan emisi dan berbagai perilaku penyebab pemanasan global sudah ada sejak generasi muda saat ini lahir. “Tapi kami yang akan merasakan dampaknya, kami yang akan memperbaiki kerusakan-kerusakannya,” urai Sahar.

Para pemuda di dunia disebut tak merasa puas dengan kebijakan-kebijakan pemimpin dalam mengatasi perubahan iklim. Untuk itu, Sahar mengajak seluruh generasi muda di dunia melakukan aksi. 

Berita Terkait : Mentan: Jaga Gowa Dengan Bangun Sektor Pertanian

What can we do? Kita melakukan aksi sesuai paris agreement dan untuk sampai sana kami membutuhkan partisipasi lebih banyak lagi dari kalangan muda. Termasuk di parlemen-parlemen dunia agar kita lebih banyak didengar dan bisa berbicara,” beber dia. 

Puan lalu mengingatkan, forum IPU agar serius menanggapi aspirasi dan pesan-pesan yang telah disampaikan tersebut. Ia mengatakan, parlemen harus mampu memberi contoh melakukan aksi nyata penanggulangan perubahan iklim. Tunjukkan bahwa parlemen dapat berkontribusi mewujudkan dunia yang lebih aman, adil, dan sejahtera. 

Di forum ini, sebuah pesan video dari mantan Sekjen PBB, Ban Ki-moon turut disampaikan. Ban Ki-moon menjadi tokoh yang selalu mendorong tindakan nyata di semua tingkatan untuk menanggulangi perubahan iklim.

Delegasi IPU juga mendapat pesan dari Ketua Parlemen Tuvalu, Samuelu Penitala Teo. Tuvalu merupakan salah satu negara pulau dan berkembang di kawasan Pasifik yang mengalami secara langsung efek yang sangat merugikan dari perubahan iklim. [UMM]