Dewan Pers

Dark/Light Mode

Bamsoet Luncurkan Buku ke-24, Vaksinasi Ideologi Empat Pilar

Rabu, 10 Agustus 2022 21:17 WIB
Peluncuran buku ke-24 Ketua MPR Bambang Soesatyo (Foto: Dok. MPR)
Peluncuran buku ke-24 Ketua MPR Bambang Soesatyo (Foto: Dok. MPR)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua MPR Bambang Soesatyo meluncurkan buku ke-24 berjudul “Vaksinasi Ideologi Empat Pilar: Melawan Radikalisme dan Demoralisasi Bangsa”, di Jakarta, Rabu (10/8). Dalam buku tersebut, politisi yang akrab disapa Bamsoet ini menekankan bahwa era disrupsi tidak hanya menghadirkan tantangan dari perspektif ekonomi. Kemajuan teknologi informasi yang berkembang pesat, ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi menawarkan efisiensi dan simplifikasi dalam berbagai bidang kehidupan. Di sisi lain lain berpotensi menghasilkan residu dan dampak negatif pada dimensi kebangsaan.

"Tingginya tingkat penetrasi internet di Indonesia, pada Juni 2022 diperkirakan mencapai 77 persen atau sekitar 210 juta pengguna, berpotensi menghadirkan sisi gelap dari kemajuan dan modernisasi teknologi informasi. Misalnya, maraknya kasus perundungan yang sengaja dibuat viral, meningkatnya kejahatan berbasis siber, menyebarnya paham radikal, dan meningkatnya demoralisasi generasi muda bangsa," ujar Bamsoet, saat peluncuran buku, di Jakarta, Rabu (10/8).

Berita Terkait : Bamsoet Luncurkan Buku Ke-23, Indonesia Era Disrupsi

Peluncuran ini dihadiri banyak tokoh. Di antarannya para Pimpinan MPR yaitu Ahmad Basarah, Yandri Susanto, Arsul Sani, dan Fadel Muhammad. Lalu, Pimpinan DPD yaitu Sultan Bachtiar Najamudin dan Letjen TNI Mar (Purn) Nono Sampono. Kemudian ada Wakil Menteri Pertanian Harvick Hasnul Qolbi, Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo, Sekjen Partai Hanura Kodrat Shah, Ketua Dewan Kehormatan Partai Demokrat Hinca Pandjaitan; mantan Wakapolri Komjen Pol (Purn) Nanan Soekarna, dan tokoh pengusaha nasional Setiawan Djodi. Hadir pula para intelektual yang menjadi narasumber bedah buku, antara lain Anggota DPD sekaligus Pakar Hukum Tata Negara Prof Jimly Asshiddiqie, Rektor IPB Prof Arief Satria, Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa, serta pengamat marketing Edo Lavika.

Ketua DPR ke-20 ini menjelaskan, penyebaran paham radikalisme tidak semata terdistribusi melalui proses indoktrinasi yang dilakukan secara langsung atau melalui berbagai pendekatan konvensional. Perkembangan teknologi informasi memungkinkan paparan paham radikalisme dapat dijangkau dan diakses hanya dengan sentuhan jari di layar smartphone. Terutama di masa pandemi Covid-19, ketika berbagai aktivitas sosial mengalami pembatasan, justru membuka peluang bagi propaganda dan indoktrinasi paham radikalisme dan terorisme melalui dunia maya.

Berita Terkait : Bamsoet Luncurkan 2 Buku Sekaligus Pada 10 Agustus Nanti

"Laporan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), sekitar 67,7 persen konten keagamaan yang tersebar di dunia maya, bernuansa intoleran dan radikal. Indeks potensi radikalisme yang berada di kisaran 12,2 persen, ternyata didominasi oleh generasi milenial. Tantangan menghadapi paham radikalisme bukanlah persoalan gampang. Tekanan dan beban kehidupan yang dirasakan semakin sulit, khususnya di saat pandemi Covid-19, berpotensi mendorong tumbuh suburnya radikalisme sebagai solusi instan, dan pelarian dari berbagai himpitan persoalan," jelas Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini menerangkan, tidak hanya dari aspek propaganda dan indoktrinasi, teknologi informasi juga dimanfaatkan kalangan teroris untuk penggalangan dana (crowdfunding) mendukung aktivitas terorisme. Menurut catatan BNPT, selama pandemi terdapat kenaikan 101 persen transaksi keuangan mencurigakan yang diduga kuat terkait aktivitas terorisme. Internet telah menjadi ‘senjata baru’ dalam penyebaran paham radikalisme dan terorisme.

Berita Terkait : Prof Didin S Damanhuri Dapat Pujian Bamsoet

Dia menjelaskan, dalam melawan radikalisme, terorisme, hingga demoralisasi bangsa dengan berbagai bentuk lainnya, tidak cukup melalui penegakan hukum. Dibutuhkan upaya lain berupa strategi cegah dan tangkal melalui vaksinasi ideologi.

“Salah satunya menggunakan vaksin Empat Pilar MPR, yang pada hakikatnya adalah mengamalkan nilai-nilai dalam Pancasila; menjadikan UUD NRI 1945 sebagai pedoman; mempertahankan eksistensi NKRI; serta menjaga kesatuan serta persatuan dengan menerima dan merawat kebhinekaan. Sehingga bisa memperkuat imun ideologi setiap anak bangsa dalam menghadapi berbagai gempuran ideologi yang dapat memecah belah bangsa," pungkas Bamsoet.■