Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Lestari Moerdijat Tekankan Keseimbangan Kesehatan Fisik Dan Mental Masyarakat
Rabu, 17 September 2025 20:37 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengatakan, pembangunan sumber daya manusia (SDM) nasional harus mampu diwujudkan melalui upaya peningkatan kesehatan fisik dan mental masyarakat secara seimbang.
"Kemajuan peradaban mesti diimbangi dengan pembangunan manusia yang sehat jasmani rohani. Negara menjamin kesehatan fisik dan mental/jiwa setiap warga negaranya secara seimbang," kata Lestari dalam sambutan tertulisnya pada diskusi daring bertema Pendidikan Keluarga untuk Mewujudkan Kesehatan Jiwa Holistik yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12, Rabu (17/9/2025).
Diskusi yang dimoderatori Eva Kusuma Sundari (Staf Khusus Wakil Ketua MPR RI) itu menghadirkan dr. Edduwar Idul Riyadi, SpKJ (Staf Ahli Madya Analis Kebijakan Kesehatan Dit. Yankes Kelompok Rentan, Kementerian Kesehatan RI), Dr. Tjut Rifameutia, M.A., Psikolog (Dosen Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia), Ika Shinta Sari. S.Psi, PSI, MNLP (Psikolog & Konsultan Kesehatan Holistik), dan Abdul Kohar (Direktur Pemberitaan Media Indonesia) sebagai narasumber.
Selain itu hadir pula Okky Asokawati (Ketua Bidang Kesehatan DPP Partai NasDem) sebagai penanggap.
Menurut Lestari, upaya penanganan kesehatan mental masyarakat membutuhkan campur tangan pemerintah dan keluarga.
Pendidikan keluarga, tambah Rerie, sapaan akrab Lestari, merupakan salah satu langkah yang dapat ditempuh untuk memberikan pemahaman tentang kesehatan mental.
Apalagi, ujar Aggota Komisi X DPR RI dari Dapil II Jawa Tengah itu, hasil survei Indonesia-National Adolescent Mental Health Survei (I-NAMHS) tahun 2022 menyebutkan bahwa satu dari tiga remaja (34,9 persen) atau setara dengan 15,5 juta remaja Indonesia memiliki setidaknya satu masalah kesehatan mental.
Rerie menambahkan, secara formal, Indonesia telah memiliki UU Nomor 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa namun telah dicabut dan diintegrasikan ke dalam UU Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan.
Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu sangat berharap, para pemangku kepentingan di tingkat pusat dan daerah mampu menanamkan pemahaman terkait pentingnya kesehatan jiwa sejak di lingkungan keluarga.
Baca juga : BRI Hadirkan Creator Fest 2025, Wadah Kreativitas Dan Inovasi Masyarakat
Karena, tegas dia, pendidikan berperan strategis dalam membentuk pemahaman yang dapat mempengaruhi persepsi publik, meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan jiwa, serta mendorong upaya pencegahan gangguan kesehatan jiwa sejak dini.
Staf Ahli Madya Analis Kebijakan Kesehatan Dit. Yankes Kelompok Rentan, Kementerian Kesehatan Edduwar Idul Riyadi mengungkapkan, masalah kesehatan jiwa/mental ditangani pada Direktorat Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan yang antara lain juga menangani penyandang disabilitas dan kesehatan para lansia.
Menurut Edduwar sejatinya gangguan jiwa menjadi penyebab ke-2 hilangnya tahun-tahun produktif seseorang, sehingga yang bersangkutan mengalami disabilitas.
Data Survei Kesehatan Jiwa Nasional pada 2022, ungkap dia, pada rentang usia di atas 15 tahun tercatat 2 persen warga negara Indonesia pernah mengalami gangguan jiwa dan pada rumah tangga tercatat 0,4 persen anggota rumah tangga mengalami masalah kejiwaan.
Dari catatan tersebut, menurut Edduwar, sebanyak 87 persen penderita gangguan jiwa tidak memeriksakan ke sarana layanan kesehatan yang ada.
Edduwar berpendapat, pendidikan terkait kesehatan jiwa di keluarga harus ditekankan sejak dini. Peran pengasuhan di lingkungan keluarga, tegas dia, sangat penting dalam membangun kualitas kesehatan mental anggota keluarganya.
Menurut Edduwar, perlu upaya terintegrasi lintas program dan lintas sektor untuk mencegah hingga menangani masalah kesehatan jiwa di tanah air.
Dosen Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia, Tjut Rifameutia berpendapat, kita perlu menyikapi secara serius peningkatan kasus gangguan jiwa di tanah air.
Menurut Tjut, kesehatan jiwa merupakan kondisi seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, dan spiritual.
Baca juga : Polda Jateng Libatkan LPSK dalam Tangani Kasus Meninggalnya Mahasiswa UNNES
Kesehatan jiwa holistik, jelas dia, tergantung terciptanya keseimbangan manusia pada aspek fisik, mental, emosional, sosial, dan spiritual.
Pendidikan kesehatan jiwa secara holistik, tambah Tjut, harus berfokus pada keseimbangan seluruh aspek pencegahan dan penguatan ketahanan jiwa masyarakat.
Pendidikan di keluarga, ujar dia, merupakan fondasi utama dalam membentuk kesehatan jiwa secara holistik.
Menurut Tjut, orangtua harus peka terhadap perubahan yang terjadi pada anak, sehingga orang tua dapat berperan sebagai agen deteksi dini kesehatan mental bagi anggota keluarganya.
Pendidikan keluarga, tegas Tjut, harus menjadi bagian strategi dari upaya mengatasi masalah kesehatan jiwa di tanah air.
Psikolog & Konsultan Kesehatan Holistik, Ika Shinta Sari mengungkapkan, saat ini kasus depresi dan kecemasan di masyarakat meningkat signifikan.
Faktor pemicunya, menurut Ika, berakar di lingkungan keluarga, baik terkait tekanan ekonomi, pola asuh, dan kurang komunikasi antar anggota keluarga.
Menurut Ika, saat ini berkembang pertanyaan, "Apakah keluarga sudah menjadi rumah aman bagi anggota keluarganya?' Ika berpendapat, 95 -99 persen pikiran bawah sadar manusia sangat mempengaruhi kehidupan seseorang.
"Bila pikiran bawah sadar seseorang mengalami luka pada masa lalu, akan mempengaruhi perkembangan jiwa seseorang dalam kehidupannya," ujar Ika.
Baca juga : Lestari Moerdijat: Pendidikan Berkualitas Kunci Wujudkan SDM Berdaya Saing
Ika berpendapat, pendidikan emosi sejak dini dan dialog terbuka dan mendalam sangat penting dalam proses pendidikan di keluarga.
Direktur Pemberitaan Media Indonesia, Abdul Kohar mengungkapkan, gangguan stres pada anak ternyata tidak selalu bersumber dari keluarga yang tidak utuh.
Pada keluarga yang utuh, tambah Kohar, tingkat stres pada anak juga tinggi. Stres pada anak, menurut Kohar, merupakan embrio awal yang berpotensi menghadirkan gangguan jiwa di masa dewasa.
Mengutip sebuah survei, Kohar mengungkapkan, 143 juta orang Indonesia saat ini aktif di media sosial dengan rata-rata 3 jam 8 menit dalam sehari.
Paparan media sosial, ujar dia, ikut berperan dalam perkembangan kesehatan jiwa anak saat ini. Menurut Kohar, ruang publik yang sempit merupakan salah satu faktor pemicu gangguan kesehatan jiwa di masyarakat.
Pada kesempatan itu, Ketua Bidang Kesehatan DPP Partai NasDem, Okky Asokawati mengungkapkan, intervensi di setiap siklus kehidupan dengan cara-cara positif harus mampu diwujudkan.
Kolaborasi pemerintah dan perguruan tinggi, ujar Okky, sangat dibutuhkan agar layanan kesehatan jiwa masyarakat dapat ditangani dengan baik hingga menjangkau di tingkat daerah.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya