Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Buka World Peace Forum IX, Tamsil Linrung Singgung Krisis Kemanusiaan Palestina
Selasa, 11 November 2025 09:12 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Wakil Ketua DPD RI Tamsil Linrung membuka Opening Ceremony and World Leaders Panel World Peace Forum IX di Gedung Nusantara V Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (10/11/2025).
Forum ini dihadiri oleh Chairman of Centre for Dialogue and Cooperation (CDCC) & Chairman of Global Fulcrum of Wasatiyyat Islam Din Syamsuddin, Wakil Ketua DPR Adies Kadir, Wakil Ketua MPR, Edhie Baskoro Yudhoyono, Chairman of Cheng Ho Multi Culture and Education Trust Tan Sri Lee Kim Yew, mantan Presiden Republik Kosovo Atifete Jahjaga, dan Wakil Presiden M. Jusuf Kalla.
Hadir juga perwakilan negara dan sejumlah organisasi dunia antara lain, Asisten Sekjen Organisasi Kerja Sama Islam untuk Urusan Palestina dan Al-Quds Samir Bakr, Menteri Urusan Kebudayaan Kerajaan Thailand Sabeeda Thaised, Russia Islamic World Foundation for Strategic Dialogue and Partnership Elmira Sadykova, serta seluruh pemimpin lintas agama, akademisi, aktivis perdamaian, dan sahabat-sahabat kemanusiaan dari berbagai belahan dunia.
Dalam sambutannya, Tamsil mengatakan bahwa World Peace Forum ini adalah oase harapan di tengah kegaduhan global. Di saat dunia tengah membicarakan berbagai konflik, forum ini justru mengajak seluruh tokoh-tokoh dunia untuk berbicara tentang kolaborasi.
“Di saat peradaban saling mencurigai, kita memilih jalan saling memahami,” ujar Tamsil.
Senator asal Sulawesi Selatan ini menjelaskan tema World Peace Forum IX ini mengambil tema tentang ‘Considering Wasatiyyat and Tionghua for Global Collaboration’. Baginya, tema ini merupakan panggilan moral bagi semua pihak untuk menimbang kembali makna peradaban dan kemanusiaan.
Baca juga : Pusaka Blora: Pertamina EP Cepu Dukung Ketahanan Pangan Lewat Pertanian Organik
Tamsil bilang, konsep wasatiyyah, atau moderasi adalah nilai inti dalam Islam yang mengajarkan keseimbangan: antara iman dan akal, antara hak dan tanggung jawab, antara individu dan komunitas.
“Nilai ini menemukan resonansinya dalam tradisi Tionghoa yang menjunjung harmoni sebagai dasar kehidupan bersama,” ungkapnya.
Di persimpangan sejarah peradaban umat manusia, lanjut Tamsil, dua arus kebijaksanaan besar ini telah lama bertemu. Bahkan menurutnya, sintesis antara Islam dan Tionghoa telah lama melahirkan wajah Asia yang ramah dan terbuka.
Dari pelabuhan Samarkand hingga pesisir Aceh, dari jalur sutra maritim hingga kota-kota niaga di Nusantara, saudagar Arab dan Tionghoa bertukar barang, teknologi, ilmu, dan gagasan.
“Dari interaksi dua peradaban tersebut, kita menemukan jembatan: sebuah paradigma kemanusiaan yang tidak menundukkan satu pihak terhadap yang lain, tetapi menyatukan perbedaan dalam semangat koeksistensi dan tanggung jawab bersama,” sebutnya.
Lebih lanjut, politisi yang aktif di dunia Pendidikan ini menuturkan, dunia hari ini sedang diuji oleh krisis kemanusiaan yang amat dalam. Dimana seluruh dunia tengah dipertontonkan tragedi pilu yang terus berlangsung di Palestina.
Baca juga : Tamsil Linrung Ajak Menkeu Supervisi Kemandirian Fiskal Daerah
Puluhan ribu jiwa meregang nyawa, ratusan ribu terluka, kota-kota meranggas jadi puing, dan masa depan anak-anak dirampas. Tragedi Palestina, kata Tamsil, adalah cermin rapuhnya nurani global dan kegagalan kita dalam menjaga nilai paling dasar, yakni kemanusiaan.
“Karena itu, perdamaian sejati tidak boleh lahir dari kepura-puraan, melainkan dari keberanian menegakkan keadilan,” tegasnya.
Tamsil menegaskan, perjuangan untuk Palestina adalah perjuangan untuk menjaga martabat kemanusiaan. Makanya, di moment inilah, kata Tamsil, Inilah saatnya dunia menuntun peradaban kembali ke jalur yang bermartabat, yaitu peradaban yang menolak kekerasan, menegakkan keadilan, dan menghormati kehidupan.
Nah Indonesia sebagai bangsa yang berdiri di simpul peradaban, memiliki tanggung jawab historis dan moral untuk menjadi jembatan antara Timur dan Barat, antara agama dan kemanusiaan, antara kepentingan dan kebaikan bersama.
Sebab sejatinya nilai-nilai wasatiyyah dan kearifan timur hidup di dalam Pancasila, dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi fondasi kebangsaan kita.
“Melalui semangat itu pula, kami di DPD RI berkomitmen memperkuat keadilan sosial dan pembangunan daerah, sebagai bagian dari perdamaian yang berkelanjutan. Sebab, perdamaian tidak akan tumbuh di atas ketimpangan. Ia hanya dapat tumbuh di atas keadilan, pemerataan, dan saling percaya,” jelasnya.
Baca juga : IZI Berangkatkan Delegasi Bantuan Kemanusiaan Ke Gaza
Oleh karena itu, dia mendorong agar pelaksanaan World Peace Forum kali ini, bukan hanya menjadi ruang dialog, tetapi sebagai laboratorium peradaban. Tempat kita belajar bahwa perdamaian bukan hasil dari keseragaman, melainkan buah dari pengakuan terhadap perbedaan yang dikelola dengan kebijaksanaan.
Bangsa Indonesia percaya bahwa perdamaian adalah civic virtue global, kebajikan yang tidak berhenti pada wacana, tetapi diwujudkan dalam berbagai dimensi kehidupan.
“Dalam semangat itu pula, DPD RI terus memperkuat diplomasi perdamaian dan kesejahteraan daerah, selaras dengan visi Asta Cita Presiden Republik Indonesia. Semoga Allah SWT memberkahi pertemuan ini dengan kebijaksanaan, cinta kasih, dan semangat kolaborasi global. Semoga dari Jakarta, pesan perdamaian ini menggema ke seluruh dunia, membawa cahaya bagi Palestina, dan harapan bagi seluruh umat manusia,” tutupnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya