Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Komisi IX Ingatkan Potensi PHK Dampak Ketegangan Geopolitik Global
Senin, 9 Maret 2026 16:05 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Ketegangan geopolitik di kawasan Asia Barat yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat berpotensi memberikan dampak terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia.
Eskalasi konflik tersebut memicu kenaikan harga minyak dan gas dunia serta menimbulkan ketidakpastian pada rantai pasok energi global.
Kondisi tersebut dinilai dapat berdampak pada perekonomian nasional, mulai dari tekanan terhadap fiskal negara hingga potensi penurunan daya beli masyarakat akibat meningkatnya biaya produksi di berbagai sektor.
Anggota Komisi IX DPR Pulung Agustanto menyampaikan, dunia usaha yang belum sepenuhnya pulih pascapandemi berpotensi menghadapi tantangan tambahan apabila harga energi terus meningkat.
Baca juga : Kapolri Ingatkan Ojol dan Buruh Jaga Persatuan Dan Stabilitas Nasional
Menurutnya, kenaikan harga minyak dan gas dapat meningkatkan beban operasional perusahaan, yang dalam beberapa kondisi dapat berdampak pada penyesuaian operasional usaha, seperti pengurangan jam kerja, pembatasan produksi, hingga potensi pemutusan hubungan kerja (PHK).
“Ketergantungan dunia usaha terhadap pasokan energi, khususnya minyak dan gas, cukup tinggi. Jika harga komoditas tersebut meningkat signifikan, tentu dapat menimbulkan tekanan bagi dunia usaha. Hal ini perlu diantisipasi agar tidak berdampak pada tenaga kerja,” ujar Pulung, Senin (9/3/2026).
Ia mencontohkan beberapa negara mulai melakukan langkah penyesuaian terhadap kenaikan harga energi.
Salah satunya Filipina yang menerapkan kebijakan pengurangan hari kerja di sejumlah kantor pemerintahan sebagai upaya efisiensi penggunaan energi.
Baca juga : Pupuk Indonesia Pastikan Pasokan Pupuk Nasional Aman di Tengah Geopolitik
Pulung menilai sektor industri padat karya seperti tekstil, alas kaki, elektronik, dan manufaktur berpotensi paling sensitif terhadap perubahan biaya produksi serta dinamika permintaan pasar global.
Selain meningkatkan biaya produksi, lonjakan harga energi juga dinilai dapat mendorong tekanan inflasi domestik.
Ketika biaya energi dan transportasi meningkat, daya beli masyarakat berpotensi menurun sehingga berpengaruh terhadap permintaan produk industri.
“Penurunan daya beli masyarakat dapat berdampak pada menurunnya permintaan produk industri, yang pada akhirnya dapat menambah tekanan terhadap dunia usaha,” jelasnya.
Baca juga : Ketum Perbanas Beberkan Strategi Perbankan Hadapi Ketidakpastian Ekonomi Global
Menurut Pulung, situasi tersebut dapat menimbulkan efek berantai dalam perekonomian. Kenaikan harga energi dapat meningkatkan biaya produksi, yang kemudian menekan margin keuntungan perusahaan.
Dalam kondisi tertentu, perusahaan dapat melakukan efisiensi operasional untuk menjaga keberlanjutan usaha.
Karena itu, ia mendorong pemerintah untuk menyiapkan langkah-langkah mitigasi ekonomi guna menjaga stabilitas dunia usaha sekaligus melindungi tenaga kerja.
Beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan antara lain menjaga stabilitas harga energi domestik, memberikan dukungan bagi industri padat karya, serta memperkuat program perlindungan sosial bagi pekerja yang terdampak dinamika ekonomi global.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya