Dark/Light Mode

Penyesuaian Harga Pertamax

Bambang Patijaya: Pemerintah Jaga Stabilitas Energi di Tengah Gejolak Global

Jumat, 12 Juni 2026 21:12 WIB
Foto: Fraksi Golkar DPR.
Foto: Fraksi Golkar DPR.

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua Komisi XII DPR Bambang Patijaya menilai, penyesuaian harga Pertamax yang dilakukan pemerintah bersama PT Pertamina (Persero) merupakan bagian dari mekanisme harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang mengikuti perkembangan harga minyak dunia dan biaya pengadaan energi.

Menurut Bambang, perubahan harga energi di pasar global turut mempengaruhi harga BBM nonsubsidi di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Karena itu, penyesuaian harga Pertamax tidak dapat dilepaskan dari dinamika yang tengah terjadi pada sektor energi dunia.

"Pertamax merupakan BBM nonsubsidi yang penetapan harganya mengacu pada mekanisme pasar dan harga keekonomian. Namun, dalam penerapannya pemerintah tetap mempertimbangkan kondisi perekonomian nasional dan daya beli masyarakat sehingga penyesuaian dilakukan secara bertahap dan terukur," ujar Bambang, Jumat (12/6/2026).

Baca juga : Redam Dampak Kenaikan Pertamax, Ekonom Dorong Pemerintah Salurkan Bansos Tunai

Legislator Partai Golkar itu menjelaskan, pemerintah tidak serta-merta menerapkan perubahan harga secara penuh dalam waktu singkat.

Pendekatan yang dilakukan selama ini bertujuan menjaga stabilitas ekonomi sekaligus memberikan ruang bagi masyarakat untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan kondisi pasar energi.

Bambang juga menyoroti bahwa harga Pertamax di Indonesia masih relatif kompetitif dibandingkan sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara.

Menurutnya, harga BBM dengan spesifikasi setara di Thailand, Singapura, dan Filipina saat ini masih berada di atas harga yang berlaku di Indonesia.

Baca juga : Prabowo: Indonesia Pilih Jalan Kemandirian di Tengah Gejolak Global

"Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah tetap berupaya menjaga keseimbangan antara penerapan mekanisme pasar dan keterjangkauan harga energi. Karena itu, meskipun terjadi penyesuaian, harga Pertamax di Indonesia masih relatif lebih rendah dibandingkan sejumlah negara di kawasan," lanjut legislator asal Bangka Belitung tersebut.

Meski demikian, Bambang mengaku memahami berbagai keluhan masyarakat yang muncul akibat kenaikan harga BBM nonsubsidi.

Menurutnya, pemerintah tetap menunjukkan keberpihakan kepada masyarakat dengan mempertahankan harga Pertalite, Solar subsidi, dan LPG 3 kilogram hingga akhir tahun 2026.

Dengan kebijakan tersebut, kebutuhan energi dasar masyarakat dinilai tetap terlindungi di tengah ketidakpastian kondisi energi global.

Baca juga : Pertamina Patra Niaga Sesuaikan Harga Pertamax, Pertalite & Solar Subsidi Tetap

Lebih lanjut, Bambang menilai, momentum ini perlu dimanfaatkan untuk mendorong penggunaan energi yang lebih efisien.

Upaya tersebut dapat dilakukan dengan mengurangi konsumsi BBM yang tidak diperlukan, menerapkan pola kerja yang lebih fleksibel seperti work from home (WFH) maupun work from anywhere (WFA) apabila memungkinkan, serta mempercepat transisi menuju penggunaan kendaraan listrik dan teknologi hemat energi.

"Dengan demikian, ketergantungan terhadap BBM dapat berangsur berkurang dan masyarakat memiliki lebih banyak pilihan energi yang ekonomis," tegas Bambang.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.