Dark/Light Mode

Bamsoet Puji Kesiapan Korlantas Polri Antisipasi Mudik Lebaran

Senin, 3 Mei 2021 22:05 WIB
Ketua MPR Bambang Soesatyo (tengah) mendengarkan penjelasa Kakorlantas Polri Irjen Istiono, saat meninjau NTMC Polri, di Jakarta, Senin (3/5). (Foto: Dok. MPR)
Ketua MPR Bambang Soesatyo (tengah) mendengarkan penjelasa Kakorlantas Polri Irjen Istiono, saat meninjau NTMC Polri, di Jakarta, Senin (3/5). (Foto: Dok. MPR)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua MPR Bambang Soesatyo mengapresiasi kesiapan Pusat Pengendali Lalu Lintas Nasional Kepolisian Republik Indonesia atau National Traffic Management Center (NTMC), Korps Lalu Lintas (Korlantas) mendukung kebijakan pemerintah melarang mudik Lebaran pada 6-17 Mei 2021. Korlantas telah mendirikan 333 titik penyekatan dari Lampung hingga Bali, lebih besar dari tahun lalu yang hanya sekitar 146 titik penyekatan.

"Dari mulai jalur tol, jalur arteri non tol, hingga jalur alternatif dan jalan tikus sudah dideteksi Korlantas. Karenanya, masyarakat tidak perlu memaksakan diri untuk mudik. Selain untuk memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19, pelarangan mudik juga dimaksudkan agar orang tua dan keluarga kita di kampung tidak tertular virus Covid-19, yang bisa membawa efek buruk bagi mereka," ujar Bamsoet, sapaan akrab Bambang, usai meninjau NTMC Polri, di Jakarta, Senin (3/5).

Berita Terkait : Korlantas Polri Dapat Hibah 10 Motor Listrik BS Electric Dari IMI

Ketua DPR ke-20 ini menjelaskan, sejak keluar aturan larangan mudik, Korlantas Polri juga sudah merespons dengan berbagai kegiatan. Antara lain melakukan operasi keselamatan selama 2 minggu, mulai 12 hingga 25 April 2021, dengan fokus kegiatan melaksanakan sosialisasi kepada masyarakat secara massal tentang larangan mudik.

"Korlantas Polri juga telah melakukan operasi kegiatan pendisiplinan lalu lintas. Termasuk menertibkan berbagai kegiatan seperti sahur on the road, balap liar, dan lain sebagainya," jelas Bamsoet.

Berita Terkait : Di Hadapan Mahfud, Bamsoet: Rebut Hati Masyarakat Papua

Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia ini juga menyoroti temuan Litbang Kementerian Perhubungan yang mencatat setelah dilakukan sosialisasi pelarangan mudik, masih ada 7 persen masyarakat, atau sekitar 10 jutaan, yang akan nekat tetap mudik. Indonesia seharusnya belajar dari India yang karena ketidakpatuhannya, berkerumun dalam sebuah acara, menyebabkan lonjakan penderita Covid-19 dalam satu hari bisa mencapai 300 ribu lebih. Menyebabkan lebih dari 3 ribu warga meninggal setiap harinya.

"Untuk memastikan silaturahmi bisa tetap terjalin dengan baik, mudik tahun ini bisa dilakukan secara virtual. Antara lain melalui video call maupun zoom meeting dengan keluarga di kampung halaman. Jangan sampai karena hasrat ingin berkumpul dengan keluarga di kampung, justru menyebabkan keluarga yang lain menderita akibat terkena Covid-19," pungkas Bamsoet. [USU]