Dark/Light Mode

Untuk Masukkan Haluan Negara

Bamsoet Sebut Mega Dukung Amandemen UUD Sekali Lagi

Sabtu, 12 Juni 2021 07:25 WIB
Ketua MPR Bambang Soesatyo bersama Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri. (Foto: Dok. MPR)
Ketua MPR Bambang Soesatyo bersama Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri. (Foto: Dok. MPR)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Indonesia ke-5 Megawati Soekarnoputri mendukung langkah MPR untuk menghadirkan kembali Haluan Negara. Dukungan itu disampaikan Mega dalam orasi ilmiahnya di Sidang Senat Terbuka Penetapan Gelar Profesor Kehormatan di Universitas Pertahanan (Uhan), Jumat (11/6).

"Haluan negara dibutuhkan agar arah pembangunan nasional berjalan baik, terencana, dan berkesinambungan," ucap Ketua Umum PDIP itu.

Ketua MPR Bambang Soesatyo menerangkan, dalam orasi ilmiah saat penganugerahan gelar profesor kehormatan ilmu pertahanan bidang kepemimpinan strategik itu, Mega menegaskan, ada baiknya amandemen UUD Tahun 1945 dilakukan sekali lagi. Tujuannya, agar bisa dihadirkan kembali haluan negara.

:Sehingga, bangsa Indonesia memiliki bintang penunjuk arah pembangunan nasional," ujar Bamsoet, saat akrab Bambang, usai menghadiri Pengukuhan Gelar Profesor Kehormatan Mega di Kampus Unhan, Jumat (11/6). 

Ketua DPR ke-20 ini menuturkan, berbekal pengalaman memimpin Indonesia sejak 2001-2004, Mega.mendukung agar MPR memiliki kewenangan menyusun dan menetapkan Haluan Negara. Mega merasakan sendiri, ketiadaan Haluan Negara membuat roda pembangunan tidak berjalan lancar. 

"Karena ketiadaan Haluan Negara, pembangunan yang dilakukan Indonesia kerap maju-mundur dalam pembangunan. Maju selangkah, mundur dua langkah. Maju dua langkah, mundur selangkah. Seperti menari poco-poco. Keberlanjutan dan kesinambungan antara pembangunan yang dilakukan pemerintah pusat dengan daerah pun tidak terjadi," urai Bamsoet.

Apresiasi Mega
Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) ini turut mengapresiasi pengukuhan gelar profesor kehormatan bidang Kepemimpinan Strategik yang diberikan Unhan kepada Mega. Dalam pengukuhan itu, Mega mengajukan karya ilmiah berjudul "Kepemimpinan Presiden Megawati pada Era Krisis Multidimensi, 2001-2004". Meg melakukan self reflection terhadap perjalanannya selama memimpin Indonesia. 

"Dalam dunia akademik, menulis paper tentang pengalaman pribadi merupakan sebuah kelaziman. Terlebih pengalaman yang disampaikan Bu Mega tersebut berisi banyak pelajaran penting, yang bisa digunakan ssbagai bekal bagi para generasi muda dan calon pemimpin bangsa dalam menghadapi berbagai tantangan multidimensi yang kelak akan dihadapi Indonesia," jelas Bamsoet. 

Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menjelaskan, selama memimpin Indonesia, Mega berhasil menyelesaikan berbagai persoalan kebangsaan dalam bidang ekonomi, politik, dan sosial. Di bidang ekonomi, misalnya, Mega berhasil menaikan pendapatan per kapita bangsa Indonesia. Dari sekitar 465 dolar AS pada tahun 1997, menjadi 930 dolar AS pada tahun 2004. 

"Selama kepemimpinan Bu Mega, nilai ekspor Indonesia berhasil naik. Dari 57,158 miliar dolar AS pada tahun 2002 menjadi 61,02 miliar dolar AS pada tahun 2003. Berkat kepemimpinannya, Bu Mega juga berhasil membawa Indonesia keluar dari krisis energi, setelah berhasil meyakinkan banyak pimpinan perusahaan migas internasional untuk berinvestasi di Indonesia, dengan nilai total mencapai Rp 200 triliun per tahun," jelas Bamsoet. 

Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini menambahkan, Mega juga berhasil menyelesaian konflik Poso yang telah berlangsung sejak 1998. Serta penyelesaian konflik Aceh dan Ambon. 

"Beliau jugalah yang mengantarkan Indonesia menerapkan pemilihan presiden-wakil presiden secara langsung oleh rakyat. Sekaligus sukses penyelenggarakan Pemilu Presiden dan suksesi kepemimpinan nasional secara damai, aman, dan kondusif," pungkas Bamsoet. [USU]