Dewan Pers

Dark/Light Mode

Ditantang Nyapres Pakai Partai Lain

Kesetiaan Ganjar Kepada Banteng Diuji

Rabu, 8 Juni 2022 06:31 WIB
Ganjar Pranowo. (Foto: Ist)
Ganjar Pranowo. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Karena PDIP cenderung menjagokan Puan Maharani, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang elektabilitasnya selalu di papan atas, ditantang nyapres dari partai lain. Apakah Ganjar berani menjawab tantangan ini? Atau tetap setia ke banteng? Ujian ini tentu sangat tak mudah bagi Ganjar.

Tantangan itu disampaikan politisi PDIP, Masinton Pasaribu. Anggota DPR 2 periode ini mengaku gerah dengan manuver Ganjar selama ini. Menurutnya, rekan separtainya itu, sudah sangat ngebet maju sebagai capres. Padahal di internal PDIP, belum ada keputusan resmi dari Megawati Soekarnoputri soal siapa yang bakal ditunjuk sebagai capres. 

Tudingan itu dilontarkan Masinton menanggapi kegiatan relawan desa untuk Ganjar (Des Ganjar) yang baru saja menggelar deklarasi di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, Sabtu (4/6). Deklarasi tersebut diikuti 30 ribu orang dari berbagai profesi yang berasal dari 35 Kabupaten/Kota di 32 provinsi.

Menurut Masinton, tidak ada yang istimewa dalam acara deklarasi relawan Ganjar itu. Banyaknya orang yang hadir dalam deklarasi karena dikoordinir Ganjar. Tujuannya untuk unjuk gigi agar PDIP mau memberikan tiket nyapres kepada Ganjar. 

Anggota Komisi XI DPR ini menilai, tingginya elektabilitas Ganjar bukan karena prestasi. Eks Wakil Ketua Komisi II DPR itu, kata Masinton, cuma pintar pencitraan lewat media sosial. Pencitraan inilah, yang kemudian dijadikan Ganjar buat modal nyapres. 

"Masa kita memaksa partai untuk mendeklarasikan nama tertentu dengan modal pencitraan. Kalau berani, nyapres aja dari partai lain, atau bikin partai lah," kata Masinton, Senin (6/6).

Berita Terkait : Masa Keemasan Susi Sudah Lewat

Masinton menegaskan, soal pencapresan di PDIP merupakan hak prerogatif Megawati. Saat ini, kata dia, PDIP belum memikirkan soal pencapresan. Fokus PDIP adalah mengawal laju pemerintahan dengan baik dan melakukan konsolidasi internal guna menyambut Pemilu 2024. 

Kalau Ganjar tidak mau tunduk dengan aturan partai, Masinton menyarankan Ganjar keluar dari PDIP. "Kalau masih merasa dirinya PDIP, ikut mekanisme organisasi. Kalau tidak betah dan tidak nyaman dengan mekanisme keorganisasian, silakan saja keluar," ujarnya.

Apakah Ganjar berani loncat dari kandang banteng? Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Wasisto Jati berpendapat, Ganjar mungkin saja hengkang dari PDIP jika tak mendapat dukungan di Pilpres 2024. Dengan elektabilitas yang dimilikinya, Ganjar berpeluang menang sebagai capres, meskipun bukan lewat PDIP. 

Namun, kapan Ganjar akan keluar dari PDIP, kata dia, tentunya bukan dalam waktu dekat ini. Ganjar akan menunggu hingga masa jabatan di Jawa Tengah berakhir.

"Kemungkinan Ganjar pindah partai itu besar. Sebagai politikus yang habis masa jabatannya, tentu wajar kalau Ganjar ingin jabatan yang lebih tinggi," kata Wasisto.

Dalam Pilpres 2024 ini, kata dia, partai politik akan berpikir pragmatis untuk menang, meskipun harus menggaet tokoh dari luar partainya. Ganjar sebagai capres dengan elektabilitas tinggi tapi terbentur nasibnya di banteng, akan jadi magnet parpol lain untuk melamarnya. "Ganjar diam saja pasti akan dicari partai politik," bebernya. 

Berita Terkait : Ribuan Emak-emak di Lampung Dukung Ganjar Presiden 2024

Hal senada juga disampaikan pengamat politik Universitas Andalas, Asrinaldi. Menurutnya, kemungkinan Ganjar bakal hengkang dari PDIP sangat terbuka. Apalagi, kalau melihat dinamika di PDIP yang mayoritas elitnya lebih pro ke Puan ketimbang Ganjar. 

"Namun, Ganjar pasti menimbang, kalau sekarang dia keluar PDIP, maka karir politiknya bisa dibunuh. Maka dia sedang tunggu momentum saja,” tegasnya. 

Kalau akhirnya Ganjar nanti benar-benar keluar dari banteng, Asrinaldi menilai, PDIP akan merugi. Sebagai capres yang punya elektabilitas tinggi, akan ada efek ekor jas bagi parpol yang mengusung Ganjar. Elektabilitas PDIP, ucapnya, akan terkatrol oleh popularitas Ganjar.

"Seandainya Ganjar keluar, diusung Partai Golkar atau NasDem, orang akan mengidentikkan Ganjar dengan Golkar atau NasDem. Ini harus dipikirkan oleh PDIP," ucap Asrinaldi.

Namun, pengamat politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio menyarankan agar Ganjar terima saja nasibnya di PDIP. Kalau pun tidak dicalonkan PDIP,  Ganjar tetap bisa menjadi tim sukses dan nantinya masuk dalam kabinet. 

Kalau Ganjar keluar dari PDIP, kata dia, belum tentu nasibnya menjadi lebih baik. Karena, elektabilitas tinggi yang dimiliki Ganjar saat ini, tidak lepas dari PDIP. Sebagai partai besar, Ganjar diuntungkan sebagai kader PDIP. 

Berita Terkait : Jelang Daihatsu Indonesia Masters, Alex Tirta Jelaskan Kesiapan Para Atlet

"Jateng itu kan kandangnya PDIP. Dia menjadi gubernur dua periode murni karena kesolidan kader PDIP Jateng," jelas dia.

Apa tanggapan Ganjar? Saat dihubungi Rakyat Merdeka, Ganjar tidak terpancing dengan tantangan yang dilontarkan Masinton untuk keluar dari kandang banteng. Gubernur 2 periode ini menegaskan, patuh terhadap anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) banteng. 

"Sekali lagi, di PDIP itu soal capres menjadi prerogatif Ketua Umum Bu Mega," singkat Ganjar, kepada Rakyat Merdeka, kemarin. 

Menurut Ganjar, kalau dirinya keluar dari PDIP, apakah partai yang ditujunya akan lebih baik. "Pindah ke mana? Emang partai yang lain lebih baik? Kan belum tentu juga,"  ungkapnya. 

Sementara, Pendiri Poros Ganjaran, Gaguk Inaker menanggapi santai pernyataan Masinton. Kata Gaguk, pernyataan Masinton tidak mewakili PDIP. "Statemen Masinton maupun elite PDIP lainnya tidak mewakili suara maupun bukan merupakan keputusan tertinggi partainya," imbuh Gaguk kepada Rakyat Merdeka, kemarin. 

Akan tetapi, dia mengingatkan Masinton bahwa mayoritas pemilih PDIP mendukung Ganjar nyapres. "Kondisi obyektif di berbagai survei bahwa pemilih PDIP sebagian besar memilih dan berharap Ganjar sebagai capres mendatang," pekik dia.