Dewan Pers

Dark/Light Mode

Parpol Miskin Figur Bakal Keok Di Pemilu 2024

Kamis, 28 Juli 2022 07:40 WIB
Ketua Umum Partai Swara Rakyat Indonesia (Parsindo) Jusuf Rizal. (Foto: Istimewa)
Ketua Umum Partai Swara Rakyat Indonesia (Parsindo) Jusuf Rizal. (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Partai Swara Rakyat Indonesia (Parsindo) optimis mampu bertahan di panggung politik nasional, meskipun tampil sebagai partai anyar di kontestasi Pemilu 2024.

“Ini yang dilakukan kami selaku partai baru, menggarap akan 20 juta loyalis Bapak HM. Soeharto,” ujar Ketua Umum Partai Parsindo, Jusuf Rizal kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Politisi berdarah Madura-Batak ini meyakini, sosok Soeharto ini memiliki basis pemilih sendiri. Selain itu Parsindo juga menggarap segmen pemilih lainnya, seperti milenial, perempuan, pekerja, buruh, hingga kelompol nasionalis dan religius.

Berita Terkait : Warga Desa Sumbar Dukung Ganjar Presiden 2024

Menurutnya, sebuah parpol harus mampu menggarap segmen market pemilih jika ingin bertahan dan kuat. Selain figur, aset, dan basis pemilih juga memiliki program yang dirasakan rakyat.

“Kehadiran parpol lemah figur dan basis pemilih, hanya akan menjadi riak-riak demokrasi dan syahwat kelompok, seolah-olah bisa, namun pada kenyataannya tidak bisa bertahan lama. Sebab pemilih di Indonesia masih banyak yang irrasional,” ujarnya.

Ketua Umum Paguyuban Loyalis Soeharto itu mengatakan, ini menyebut sejumlah partai yang bertahan karena memiliki sosok figur. Di antaranya, Partai Demokrat yang yang mengandalkan figur Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), NasDem (Surya Paloh), dan Gerindra (Prabowo Subianto).

Berita Terkait : Ribuan Emak-Emak Cianjur Doakan Ganjar Jadi Presiden 2024

Ketum Perkumpulan Wartawan Media dan Online Indonesia (PWMOI) ini menganalogikan, sebuah parpol menjadi kuat karena memiliki basis atau segmen pemilih. Misalnya, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Amanat Nasional (PAN) yang menggarap basis ormas Muhammadiyah. Begitu juga Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dengan basis Nahdlatul Ulama (NU).

Dikatakannya, sebelum reformasi ada tiga partai kuat yaitu Golkar, PPP dan PDI. Masing-masing memiliki basis kuat. Golkar menggarap basis pekerja dan birokrat. PPP di NU, tapi kemudian melorot setelah hadir PKB mengambil basis NU. Kemudian PDI Pimpinan Suryadi dengan basis Soekarnois.

Tapi, setelah Megawati Soekarnoputri mendirikan PDIP basis Soekarnois dibawa dan menjadikan Soekarno sebagai icon. Sontak, PDI pimpinan Suryadi ambruk. Kekuatan basis Soekarnois membuat PDIP pimpinan Megawati Soekarnoputri bertahan hinggahari ini. ■