Dark/Light Mode

Demi Rakyat Indonesia Raya, 17 Tahun Partai Gerindra

Sabtu, 22 Februari 2025 17:40 WIB
Foto: Dok. Pribadi
Foto: Dok. Pribadi

RM.id  Rakyat Merdeka - Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), dari lahirnya apalagi sekarang, menjadi kekuatan politik yang sangat menentukan di belantika politik tanah air. Begitu pula dalam koalisi pemerintahan kini.

Semua itu, sangat tak bisa dilepaskan dari peran sentral Prabowo Subianto sebagai pendiri dan ketua umumnya. Kemenangan Prabowo Subianto pada Pilpres 2024 membawa perubahan pada peta politik nasional.

Gerindra merupakan partai pengusung utama dalam Koalisi Indonesia Maju (KIM) yang sukses mengantarkan Prabowo menjadi Presiden ke-8 RI.

Tampilnya sejumlah politisi Gerindra dalam panggung politik belakangan ini berkaitan erat dengan kemenangan Prabowo yang diusung KIM.

Figur Prabowo, Pendiri Gerindra

Mengacu pada analisis Andreas Ufen (2006) tentang kecenderungan bangkitnya partai-partai yang dibentuk pasca-reformasi untuk kendaraan politik tokohnya maju dalam Pilpres langsung (presidential party), kita bisa memahami bagaimana relasi antara Prabowo dan Gerindra.

Di antara para tokoh yang membangun presidential party, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi figur paling sukses dengan membawa Demokrat berkuasa 2 periode.

Konteks situasinya saat itu adalah dimulainya Pilpres secara langsung, setelah sebelumnya hanya diwakilkan melalui MPR.

Para veteran konvensi calon presiden dari Golkar kemudian mendirikan partainya masing-masing. Sebut saja Wiranto dengan Hanura, dan belakangan Surya Paloh membentuk NasDem.

Di kalangan pendukung Prabowo, muncul pula wacana untuk pendirian partai baru.

Gagasan pertama dilontarkan oleh Profesor Suhardi, kolega Prabowo di organisasi Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI).

Prabowo belum tertarik, bahkan mempertanyakan untuk apa membuat partai lagi, sementara partai-partai yang ada saja sudah terlalu banyak.

Tak putus asa, orang-orang dekat Prabowo seperti Fadli Zon menawarkan gagasan serupa kepada adik Prabowo, Hashim Djojohadikusumo.

Pada akhirnya Prabowo menyetujui, lalu dimatangkanlah rencana itu di kantor lembaga kajian milik Fadli, Institute for Policy Studies (IPS).

Sejumlah tokoh yang kelak menjadi petinggi partai hadir, di antaranya Ahmad Muzani, Sufmi Dasco Ahmad, dan Suhardi.

Baca juga : Sukses di 2024, Paradise Indonesia Pasang Target Lebih Besar di 2025

Prabowo mengusulkan nama Partai Indonesia Raya (Parindra), di mana sang kakek Prabowo (Margono Djojohadikusumo) pernah menjadi anggotanya.

Agar berbeda dari yang sudah pernah ada, Hashim usul menyisipkan kata “gerakan”, akronimnya menjadi Gerindra.

Terkait lambang partai, bermunculan ide mulai dari burung garuda hingga harimau. Prabowo mengusulkan kepala burung garuda yang sudah melekat dalam imajinasi bangsa.

Gerindra akhirnya dideklarasikan pada 6 Februari 2008, dengan Suhardi didaulat sebagai ketua umum, sedangkan Prabowo menjabat ketua Dewan Pembina.

Jabatan ketua umum disandang hingga guru besar UGM itu wafat, lalu diambil alih langsung oleh Prabowo hingga sekarang.

Pernah Jadi Oposisi Tangguh

Sikap oposisi kerakyatan yang dilancarkan Gerindra sejalan dengan pandangan kritis Prabowo terhadap perekonomian Indonesia yang dinilai telah melenceng dari dasar bernegara.

Dalam bukunya Paradoks Indonesia (2017), Prabowo menuding oligarki mengendalikan kehidupan bangsa. Prabowo mengutip data rasio gini pada 2014-2016 yang berkisar 0,41-0,49, yang berarti 1 persen orang kaya menguasai 49 persen kekayaan di Indonesia.

Terjadi jurang ketimpangan yang luar biasa, sehingga dikhawatirkan dapat memicu konflik sosial, huru-hura, dan perang saudara layaknya Arab Spring.

Selain itu Prabowo juga menengarai fenomena mengalirnya kekayaan Indonesia ke luar negeri (net outflow), berlangsung sejak era kolonial hingga kini.

Pada debat capres 2014, Prabowo dengan keras menggaungkan narasi bocornya kekayaan alam yang angkanya melampaui Rp1.000 triliun per tahun.

Ironisnya, jutaan orang masih hidup di bawah garis kemiskinan dan puluhan juta lainnya terancam jatuh miskin.

Sejumlah indikator menunjukkan buruknya kualitas pendidikan, dua dari tiga ruang kelas mengalami kerusakan, dan hampir separuh lapangan kerja didominasi lulusan SD. Isu stunting sudah menjadi keprihatinan Prabowo sejak lama.

Menurut Hashim, ide tentang program makan bergizi gratis (MBG) sudah diungkapkan Prabowo sejak 2006.

Dalam suatu obrolan, Prabowo menunjukkan data Kementerian Kesehatan bahwa 40 persen anak di bawah 5 tahun dinyatakan stunting.

Baca juga : Jaga Stabilitas Ekonomi, Bank Indonesia Tahan BI-Rate Di Level 5,75 Persen

Dalam rivalitas pada Pemilu 2014 dan 2019 yang telah menjadi kisah klasik, terlepas perbedaan posisi di pemerintahan, Jokowi kemudian menjalankan banyak tuntutan Gerindra saat menjadi oposisi.

Soal infrastruktur misalnya, termasuk dalam 6 program aksi transformasi Gerindra.

Sejak memerintah, Jokowi gencar membangun infrastruktur yang sebelumnya nyaris mengalami kemandekan dan berdampak pada rendahnya indeks logistik.

Sebagai jurus untuk percepatan, Jokowi mengerahkan BUMN sebagai lokomotif pembangunan dengan segala konsekuensinya.

Fokus Prabowo soal pertanian dan pangan juga diwujudkan Jokowi dengan meluncurkan upaya khusus peningkatan produksi padi, jagung, dan kedelai (UPSUS Pajale).

Selama 10 tahun, Jokowi telah membangun 53 bendungan disertai jaringan irigasi untuk mendukung sektor pertanian.

Hasilnya, Jokowi diganjar penghargaan dari Badan Pangan dan Pertanian PBB (FAO), seperti mengulang keberhasilan Pak Harto di masa silam dalam hal swasembada beras.

Tercatat, Indonesia tidak melakukan impor beras medium pada kurun 2017-2021.

Gagasan tentang kedaulatan atas sumber daya alam diperjuangkan Jokowi dengan larangan ekspor nikel dan program hilirisasi.

Jokowi harus menghadapi tantangan dari WTO dan melawan kebijakan diskriminatif Uni Eropa untuk membendung minyak sawit sebagai komoditas unggulan Indonesia.

Jokowi berani bersikap terhadap negara-negara besar, termasuk soal sengketa di Laut Cina Selatan.

Untuk melindungi nelayan dan perikanan, pemerintahan Jokowi tak segan menenggelamkan kapal-kapal asing ilegal.

Visi maritim Jokowi juga diwujudkan dengan tol laut, sekaligus menekan disparitas.

Kekuasaan untuk Menyejahterakan Rakyat

Prabowo belajar banyak dari pengalaman panjang, dengan latar belakang keluarga intelektual, meniti karier militer, berbisnis, hingga membangun partai politik.

Baca juga : Jihad = Patriotisme?

Enggan melihat polarisasi yang membelah persatuan, Prabowo memutuskan bergabung dalam pemerintahan Jokowi pasca-2019. Gerindra menjadi pendukung kuat Jokowi, bahkan sekutu terpenting saat gelaran Pilpres lalu.

Di tengah perpecahan Jokowi dengan partai yang mengorbitkannya, dukungan kuat dari Gerindra dan koalisi menjanjikan visi keberlanjutan yang terwujud dalam kemenangan Prabowo-Gibran.

Kepemimpinan Prabowo membawa sukses Gerindra, dari partai menengah menjadi tiga besar pada Pemilu 2014 (11,81 persen) dan merangsek ke peringkat kedua pada 2019 (12,57 persen).

Seiring terpilihnya Prabowo sebagai presiden, Gerindra diproyeksikan menjadi pemenang pada pemilu mendatang.

Berdasarkan survei Litbang Kompas pada 4-10 Januari 2025, citra positif Gerindra paling tinggi sebesar 88,3 persen dan tingkat kepuasan 83 persen.

Survei Indikator menunjukkan elektabilitas Gerindra naik dari 24,2 persen-29,1 persen (September-Oktober 2024) dan menembus hingga 35,9 persen pada Januari 2025.

Dalam survei yang sama, Prabowo nyaris tak punya penantang sebagai capres terkuat dengan elektabilitas mencapai 68,9 persen.

Mayoritas mutlak sebanyak 85,3 persen responden juga meyakini Prabowo mampu memimpin Indonesia menjadi lebih baik ke depan.

Pada 6 Februari lalu Gerindra merayakan ulang tahunnya yang ke-17, disertai tekad untuk mengusung kembali Prabowo sebagai capres pada Pemilu 2029 dengan dukungan koalisi permanen.

Harapan terbesarnya, kekuasaan diabdikan demi kesejahteraan rakyat dan persatuan bangsa. Ya, demi rakyat dan Indonesia Raya. Selamat Ulang Tahun Gerindra!

Endang Tirtana

Penulis adalah Politisi dan Pemerhati Politik

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.