Dark/Light Mode

Pengamat: Migrasi Kader Partai Mapan ke PSI Cerminkan Jokowi Effect

Senin, 26 Januari 2026 11:33 WIB
Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago. (Foto: Instagram @arifkichaniago)
Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago. (Foto: Instagram @arifkichaniago)

RM.id  Rakyat Merdeka - Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago menilai migrasi sejumlah kader dari partai besar ke PSI bukan sekadar pindah politik biasa. Menurutnya, fenomena itu muncul lantaran kuatnya pengaruh Presiden ke-7 Joko Widodo atau Jokowi effect dalam peta kepartaian nasional.

"Perpindahan kader potensial dari partai mapan ke partai kecil sulit terjadi, tanpa dukungan figur politik dengan daya tarik elektoral besar seperti Jokowi," kata Arifki dalam keterangannya, Senin (26/1/2026).

Dalam pandangannya, kehadiran Jokowi di sekitar PSI menciptakan situasi yang tidak lazim dalam dinamika kepartaian Indonesia. Terlebih, partai kecil umumnya menghadapi keterbatasan serius dalam pengalaman elektoral. Mulai dari sumber daya, jaringan politik, hingga tingkat kepercayaan pemilih. Tapi PSI, kata Arifki, berpotensi melompati hambatan struktural tersebut karena ditopang figur Jokowi. 

"Ini seperti jalan pintas yang sah secara politik. Partai kecil biasanya harus berjuang lama untuk mendapatkan pengakuan. Tetapi ketika langsung ditopang mantan presiden, posisi tawarnya otomatis naik. Itu pilihan yang realistis, bukan spekulatif,” papar Arifki.

"Inilah yang membuat PSI mulai dilirik kader-kader partai mapan," imbuhnya.

PSI Sebagai Jalur Alternatif 

Baca juga : Megawati Instruksikan Kader Kedepankan Politik Gagasan

Arifki menjelaskan, fenomena migrasi ke PSI ini tak semata berkaitan dengan ideologi atau agenda regenerasi. Lebih dari itu, migrasi ini menggambarkan adanya kalkulasi rasional elite dalam membaca arah kekuasaan ke depan.

“Banyak kader sebenarnya tidak sedang pindah rumah, tetapi pindah kendaraan. Mereka melihat PSI sebagai jalur alternatif yang dinilai memiliki mesin politik dan pengemudi yang jelas,” urainya.

Figur Eks Presiden Sebagai Jangkar Elektoral Partai 

Arifki juga mengingatkan, dalam sejarah politik Indonesia, figur mantan presiden hampir selalu berfungsi sebagai jangkar elektoral partai. PDI Perjuangan bertumpu pada figur Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri, Partai Demokrat tumbuh dalam bayang-bayang Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), sementara Partai Kebangkitan Bangsa tidak pernah sepenuhnya lepas dari nama besar Presuden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) 

“Figur seperti Jokowi tidak bisa direplikasi. Karena itu, strategi membangun politik alternatif melalui partai kecil dengan dukungan mantan presiden, menjadi sesuatu yang sulit ditiru partai lain,” bebernya.

Arifki menilai, apabila Jokowi masuk struktur pengurus PSI, keberhasilan partai tidak cukup diukur dari kemampuannya untuk melenggang ke parlemen.

Baca juga : OTT Pegawai Pajak Kanwil Jakarta Utara, KPK Amankan 8 Orang

PSI, menurutnya, dituntut naik kelas menjadi partai papan menengah dalam satu siklus pemilu, agar politik alternatif yang dibangun memiliki daya saing nyata.

"Kalau hanya lolos parlemen, itu seperti membuka bandara tetapi tidak punya rute strategis. Politik alternatif membutuhkan kapasitas kekuasaan, bukan sekadar eksistensi simbolik,” tegas Arifki.

Kendaraan Politik Utama Gibran 

Arifki meyakini, PSI berpotensi menjadi kendaraan politik utama bagi Gibran Rakabuming Raka yang saat ini menjabat Wakil Presiden, menuju Pilpres 2029. Baik dalam kapasitasnya untuk kembali mendampingi Prabowo Subianto, atau membuka skenario pencalonan lain.

Di sisi lain, kemunculan Partai Gerakan Rakyat yang lebih awal mendeklarasikan dukungan kepada Anies Baswedan, juga ikut mempercepat dinamika konsolidasi politik.

Kontestasi menuju 2029 tidak dimulai menjelang pemilu, melainkan jauh lebih dini.

Baca juga : Pengamat: Peran Mendagri Krusial Dalam Percepat Pemulihan Bencana Sumatera

“Kereta 2029 sudah berjalan. Jokowi memilih tidak menunggu di peron. Mungkin saja, dia sedang menyiapkan jalur alternatif sejak awal,” cetus Arifki.

Kader Partai Yang Pindah Ke PSI

Berikut nama-nama kader partai mapan yang telah hijrah ke PSI:

  • PDIP: Ginda Ferachtriawan, Dyah Retno Pratiwi, dan Wawanto.
  • NasDem: Ahmad Ali, Bestari Barus, dan Rusdi Masse Mappasessu.
  • Golkar: I Wayan Suyasa dan I Komang Suarsana.


 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.