Dark/Light Mode

Gudang Bulog di Daerah Penuh, Gerindra: Stok Beras Melimpah Itu Nyata

Senin, 11 Mei 2026 21:39 WIB
Pekerja merapikan beras di Gudang Bulog Karawang, Jawa Barat, Kamis (23/4/2026). (Foto: Dwi Pambudo/RM)
Pekerja merapikan beras di Gudang Bulog Karawang, Jawa Barat, Kamis (23/4/2026). (Foto: Dwi Pambudo/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Gerindra Azis Subekti menegaskan, pernyataan Presiden Prabowo Subianto soal keberhasilan Indonesia mencapai swasembada pangan bukan sekadar klaim politik. Menurut dia, capaian tersebut mulai terlihat nyata dari lonjakan cadangan beras nasional di Perum Bulog yang diprediksi menembus 6 juta ton pada akhir Mei 2026.

“Ini bukan hanya angka besar, tetapi mencerminkan kapasitas negara dalam menjaga ketahanan pangan pada level yang belum pernah dicapai sebelumnya,” kata Azis, di Jakarta, Senin (11/5/2026).

Anggota Komisi II DPR itu menjelaskan, tingginya stok beras nasional terjadi seiring meningkatnya produksi dan penyerapan gabah petani. Hingga April 2026, penyerapan gabah dan beras petani telah mencapai sekitar 2,3 juta ton setara beras. Sementara itu, produksi nasional pada 2025 tercatat mencapai sekitar 34,69 juta ton atau naik lebih dari 13 persen dibanding tahun sebelumnya.

Azis telah melakukan peninjauan langsung ke sejumlah gudang Bulog di berbagai daerah. Dari hasil pemantauan tersebut, stok beras dinilai benar-benar tersedia dan distribusi berjalan baik.

“Fakta di lapangan menunjukkan stok itu benar-benar ada. Gudang-gudang Bulog di berbagai daerah terisi, distribusi berjalan, dan penyerapan terus berlangsung,” ujarnya.

Menurut dia, hampir seluruh daerah menunjukkan kondisi serupa. Bahkan, sejumlah gudang Bulog disebut sudah penuh dan membutuhkan tambahan ruang penyimpanan.

“Stok beras di berbagai daerah relatif aman untuk enam sampai sepuluh bulan ke depan. Bahkan beberapa gudang sudah penuh dan memerlukan tambahan ruang penyimpanan,” tutur Azis.

Baca juga : Dari Pusat Sampai Daerah, Pemerintah Fokus Urus Sampah

Dia menegaskan, hal terpenting bukan hanya jumlah stok, melainkan asal beras tersebut yang mayoritas berasal dari hasil produksi petani dalam negeri.

“Temuan di lapangan menunjukkan stok beras saat ini aman, kuat, dan secara dominan berasal dari hasil serapan petani dalam negeri. Ini bukan lagi sekadar klaim, tetapi kenyataan yang mulai terbentuk di lapangan,” tegasnya.

Azis menilai, selama ini Indonesia kerap terjebak dalam ironi sebagai negara agraris yang masih bergantung pada impor pangan saat harga mulai bergejolak. Namun kini, arah kebijakan dinilai mulai berubah melalui penguatan pembelian hasil panen petani oleh pemerintah.

“Harga pembelian gabah di kisaran Rp 6.500 per kilogram bukan sekadar angka administratif. Itu adalah sinyal bahwa negara hadir menjaga keberlanjutan produksi petani,” jelasnya.

Dia juga menilai rantai kebijakan pangan saat ini mulai terhubung lebih baik. Menurutnya, keberanian negara menyerap hasil panen membuat petani semakin yakin meningkatkan produksi.

“Ketika negara membeli, petani berani menanam. Ketika petani menanam, produksi meningkat. Ketika produksi meningkat, Bulog menyerap. Ketika Bulog menyerap, stok nasional menguat,” katanya.

Meski begitu, Azis mengingatkan keberhasilan swasembada pangan tidak berhenti pada tingginya cadangan beras nasional. Tantangan terbesar, kata dia, tetap berada pada stabilitas harga di tingkat masyarakat.

Baca juga : Tumbang dari Persib, Fabio: Persija Bermain Lebih Baik

“Rakyat tidak merasakan angka 5 juta ton. Rakyat merasakan harga di warung. Karena itu distribusi dan rantai pasok harus berjalan cepat dan efisien,” ucapnya.

Dia juga meminta pemerintah tetap waspada terhadap berbagai tantangan, mulai dari perubahan iklim, alih fungsi lahan, hingga regenerasi petani.

“Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, swasembada beras tidak lagi hanya terdengar sebagai slogan. Fondasinya mulai terlihat, dengan angka yang nyata, gudang yang terisi, serta petani yang perlahan kembali percaya,” pungkasnya.

Sebelumnya, Presiden Prabowo menegaskan Indonesia kini semakin dihormati banyak negara karena berhasil mencapai swasembada pangan. Pernyataan itu disampaikan saat meninjau Kampung Nelayan Merah Putih di Gorontalo, Sabtu (9/5/2026).

“Kita sangat dihormati karena kita sekarang sudah swasembada pangan, sudah swasembada beras, swasembada jagung. Kita sekarang tidak perlu impor lagi pangan dari luar,” ujar Prabowo.

Pada 2025, produksi beras nasional tercatat mencapai 34,71 juta ton, melampaui kebutuhan domestik sebesar 31 juta ton. Kondisi tersebut membuat Indonesia tidak lagi mengimpor beras sepanjang 2025.

Selain sektor pangan, Prabowo juga menegaskan pemerintah akan memperkuat sektor perikanan dan kelautan guna mendukung kebutuhan protein global melalui pengembangan blue economy.

Baca juga : Sidak ke Gudang Bulog, Gerindra Pastikan Stok Beras Surplus

“Dunia sekarang sangat memerlukan protein ikan. Karena itu pemerintah yang saya pimpin akan besar-besaran mengembangkan perikanan dan kelautan,” tandasnya.

Sementara itu, Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menargetkan stok beras Pemerintah di Bulog dapat menembus 6 juta ton pada akhir Mei 2026. Rizal mengatakan, hingga 11 Mei 2026 stok beras Bulog telah mencapai 5,3 juta ton. Angka itu lebih tinggi dibanding rekor tahun sebelumnya yang berada di level 4,2 juta ton.

“Di tahun 2025, syukur Alhamdulillah Bulog dapat mewujudkan target swasembada pangan. Puncak stok Bulog tahun lalu mencapai 4,2 juta ton,” kata Rizal, di Kantor Pusat Bulog, Jakarta, Senin (11/5/2026).

“Nah, syukur Alhamdulillah sampai bulan Mei ini sudah 5,3 juta ton. Mungkin nanti di akhir Mei bisa mencapai 6 juta ton,” lanjutnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.