Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Prabowo di KTT BRICS: Indonesia Tidak Suka Didikte Kekuatan Tertentu
- Hari Ke-6, Tim SAR Perluas Pencarian 5 Jurnalis-3 Kru Kapal di Selat Sunda
- Telkomsel Luncurkan Halo Optima Hadirkan Kuota Hingga 2.000 GB
- Luka Menalo Kecewa, Igor Tolic Minta Maaf
- Roll To Glory FIFA ASEAN Cup 2026 Meriahkan CFD Jakarta
Sebelumnya
Akan tetapi, lanjutnya, sebagai organisasi, Muhammadiyah tidak berafiliasi dengan partai politik manapun. Juga warga Muhammadiyah diberikan kebebasan menentukan sikap politiknya di setiap pesta demokrasi. “Warga Muhammadiyah memiliki kesadaran dan sikap politik yang rasional. Mereka memiliki kemampuan dan kedewasaan menentukan pilihan politik,” tutupnya.
Sementara Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno mengamini adanya kompetisi merebut simpati pemilih Muhammadiyah menjelang Pemilu 2024. Organisasi ini, merupakan organisasi Islam terbesar kedua di Indonesia setelah Nahdlatul Ulama (NU).
Baca juga : Dunia Bebas Dari Senjata Nuklir: Dari Kata-kata Jadi Perbuatan
Nah, kompetisi merebut tidak hanya akan dilakukan oleh PAN yang dikenal sebagai partai orang Muhammadiyah, juga Partai Ummat sebagai partai paling baru yang dibentuk Amien Rais selaku tokoh organisasi ini. Parpol lain akan berupaya meraih simpati.
Namun, jika dilakukan perbandingan antara PAN dan Ummat, tentu warga Muhammadiyah akan memilih PAN. Rasionalitas semua ada di partai lambang matahari ini untuk dijadikan kendaraan politik. Mulai dari jumlah tokoh yang berada di antara dua partai tersebut.
Baca juga : Partai Luar Senayan Legowo
Misalnya dari PAN, ada tokoh Muhammadiyah sekaliber Hatta Rajasa dan Soetrisno Bachir, sedangkan di Ummat hanya ada Amien Rais. Bahkan partai itu baru saja ditinggalkan salah satu pendirinya, Agung Mozin alias Bang Amoz. “PAN terbukti lolos ke parlemen, Ummat itu masih gelap,” kata Adi kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Dikatakan demikian, sebab Partai Ummat belum tentu menjadi peserta Pemilu 2024 sekalipun mengklaim memiliki SK Kementerian Hukum dan HAM, apalagi masuk ke Senayan. Adi membandingkan dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang datang jauh dengan modal besar di Pemilu 2019 lalu.
Baca juga : Muhammadiyah 1 T Benar-benar Nyata
“PSI dulu kurang bagaimana, nggak lolos juga DPR. PAN itu rumah tuanya Muhammadiyah, apalagi kini gabung Pemerintah. Lebih realistis ke PAN,” tutupnya. [BSH]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya