Dewan Pers

Dark/Light Mode

PSI: Kemenangan Piala Thomas Tercoreng Larangan Kibarkan Merah Putih

Senin, 18 Oktober 2021 12:38 WIB
Juru Bicara DPP PSI Hariyanto Arbi (Foto: Istimewa)
Juru Bicara DPP PSI Hariyanto Arbi (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mengucapkan selamat atas prestasi tim Indonesia merebut Piala Thomas 2020 setelah mengalahkan China di final dengan skor telak, 3:0.

“Setelah 19 tahun puasa gelar, akhirnya kita bisa kembali membawa pulang Piala Thomas. Ini sungguh prestasi yang membanggakan sekaligus mengharukan. Selamat kepada seluruh atlet dan pelatih yang telah mengharumkan nama Indonesia,” kata Juru Bicara DPP PSI Hariyanto Arbi, Senin (18/10).

Menurut Juara Dunia Bulutangkis 1995 tersebut, momentum ini selayaknya dijaga dengan terus meningkatkan pembinaaan atlet dan mencari bibit-bibit baru. Agar Indonesia bisa terus berprestasi di masa depan.

Bersamaan dengan kemenangan ini, Hariyanto juga menyayangkan Indonesia harus terkena sanksi dari World Anti-Doping Agency (WADA). Indonesia dianggap tidak patuh pada penegakan aturan anti-doping. Akibatnya, Indonesia tak bisa mengibarkan Sang Merah Putih di podium Piala Thomas 2020.

“Sanksi tersebut secara jelas memperlihatkan ada yang tidak beres dalam pengelolaan olahraga kita. Kemenangan kita di Piala Thomas tercoreng ketika Merah Putih tidak bisa berkibar,” kata Hariyanto.

Ia melanjutkan, pihak-pihak seharusnya mengambil pelajaran dari kasus ini. Pembenahan harus segera dilakukan.

“Para pemain jatuh bangun berlatih dan bertanding, pengurus olahraga tidak maksimal mengelola hal-hal administratif seperti standar doping. Ke depan, selayaknya hal-hal seperti itu tak terjadi lagi,” pungkas Hariyanto.

WADA menyebut Indonesia tidak patuh karena tidak menerapkan program pengujian yang efektif. Imbasnya, Indonesia dinyatakan tidak berhak menjadi tuan rumah kejuaraan regional hingga dunia selama penangguhan. Indonesia masih diperbolehkan ikut pertandingan-pertandingan di kejuaraan regional, kontinental, dan dunia tapi tidak diperbolehkan membawa nama dan mengibarkan bendera negara selain di ajang Olimpiade.

Sebelumnya, Anggota Komisi X DPR Putra Nababan mengkritik keras kinerja Lembaga Anti Doping Indonesia (LADI) yang tidak profesional yang berujung pada tidak berkibarnya Bendera Merah Putih saat Timnas Indonesia berhasil menjadi juara Thomas Cup 2020 di Ceres Arena, Aarhuis, Denmark, Minggu malam (18/10). Tidak berkibarnya Merah Putih karena adanya surat dari WADA yang menyatakan Indonesia tidak patuh pada penegakan standar anti-doping. Indonesia tidak mengikuti Test Doping Plan (TDP) yang dibuat pada 2020.

Putra menyatakan, masalah administrasi surat menyurat semacam ini tak perlu terjadi. Apalagi di 2020, Indonesia dan banyak negara di dunia memang minim melaksanakan kompetisi akibat pandemi Covid-19.

“Apa sulitnya LADI, sebagai lembaga anti-doping Indonesia menyurati WADA, untuk memberitahukan kondisi kompetisi di Indonesia yang terhenti akibat pandemi sehingga tidak bisa memenuhi ketentuan 700 sampel,” kata Putra, dalam keterangan yang diterima RM.id, Minggu (17/10). [WUR]