Dark/Light Mode

Partai Gelora: Perubahan Iklim, Ancaman Terbesar Bagi Keamanan Indonesia

Kamis, 4 November 2021 11:09 WIB
Ketua Umum Partai Gelora Anis Matta dalam Gelora Talk, Rabu (3/11). (Foto: Humas Gelora)
Ketua Umum Partai Gelora Anis Matta dalam Gelora Talk, Rabu (3/11). (Foto: Humas Gelora)

 Sebelumnya 
Tokoh Nasional dan Pemerhati Lingkungan Prof Emil Salim mengatakan, kerusakan lingkungan di Indonesia sangat mengkhawatirkan. Akibat perilaku generasi tua dalam mengeksplorasi sumber daya alam, seperti penggunaan batubara dan energi terbarukan lainnya. Sehingga  meningkatkan pencemaran karbondioksida CO2.

"Kita sayangkan, generasi tua dan para pemimpin bangsa tidak bersuara terhadap dampak perubahan iklim. Kita punya kewajiban moral menjamin generasi muda, agar tidak menderita akibat kebijakan pembangunan yang sekarang kita lakukan," kata Emil Salim.

Guna menyelamatkan masa depan generasi muda, Emil Salim menuturkan, pemerintah perlu meninggalkan penggunaan batubara dalam kebutuhan energi listrik. Antara lain karena merusak lingkungan dan menimbulkan efek gas rumah kaca.

Lebih baik, beralih menggunakan energi matahari dan angin.

Baca juga : Pemerintah Gelar Pelatihan Energi Terbarukan Bersama Nepal Dan Madagaskar

"Matahari bersinar di atas khatulistiwa dan berlimpah udara (angin). Itu kenapa tidak kita pakai untuk listrik untuk pusat listrik dari PLN. Mengapa cahaya yang vertikal di atas kepala kita di khatulistiwa dan angin ini, tidak kita manfaatkan dan kita pakai sebagai energi terbarukan," papar Emil Salim.

Energi tersebut, lanjutnya, bisa kita simpan di pulau-pulau dari Sabang ke Merauke. Tidak seperti sekarang, didistribusikan.

Sementara itu, Plt Deputi Klimatologi BMKG Urif Haryoko mengungkapkan, BMKG telah memberikan informasi kepada Bappenas dalam informasi penyusunan Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan iklim yang diberikan setiap 5 tahun sekali.

Namun, proyeksi iklim sekarang dan yang akan datang tetap menjadi pertimbangan.

Baca juga : Mendag: Pengunjung Terkesima Melihat Kemajuan Indonesia

Terkait literasi perubahan iklim kepada masyarakat, kata Urip, BMKG telah mengembangkan Sekolah Iklim sejak 2015 lalu.

Sekolah tersebut memberikan informasi kepada para petani, mengenai informasi cara baru bercocok tanam dan nelayan informasi tentang gelombang tinggi.

"Masyarakat tidak tahu, apa itu perubahan iklim. Yang penting, bagaimana menyikapi adaptasinya. Karena itu, kami sangat mendukung upaya Pak Anis Matta, untuk memberikan literasi kepada masyarakat, untuk membangun kesungguhan dalam menghadapi perubahan iklim," terang Urif.

"Terima kasih kepada kepada Partai Gelora Indonesia yang sudah ikut melakukan literasi pengetahuan tentang perubahan iklim kepada masyarakat," sambungnya.

Baca juga : Berprestasi, 8 Mahasiswa ITS Dapat Beasiswa Semen Indonesia

Direktur Eksekutif Nasional Walhi Zenzi Suhadi menegaskan, pemerintah perlu melakukab tindakan konkret dalam menghadapi dampak perubahan iklim di Indonesia.

Sebab, dampak perubahan iklim berkorelasi dengan kehidupan masyarakat secara langsung.

"Dampak perubahan iklim berkorelasi dengan sumber kehidupan masyarakat. Seperti hujan ekstrem, banjir dan tanah longsor. Kita perlu tindakan konkret untuk menyelesaikan ini," pungkasnya. [HES]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.