Dark/Light Mode
Perilaku Masyarakat Di Pilkada 2024
Antusiasme Sangat Tinggi, Aktivisme Justru Rendah
Sebelumnya
“Kami tak sekadar menargetkan para pemilih pemula mendatangi Tempat Pemungutan Suara (TPS). Kami berharap, mereka memahami mekanisme politik dan menjadi pemilih cerdas,” cetusnya.
Anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Pusat, Lolly Suhenty menambahkan, pihaknya juga terus mendorong masyarakat agar terlibar aktif dalam Pilkada. Salah satu upaya yang telah dijalankan, Bawaslu bekerja sama dengan kampus-kampus, untuk mengedukasi seluruh lapisan masyarakat.
“Selain berperan aktif dalam mengawasi seluruh tahapan Pilkada, para mahasiswa juga memiliki kapasitas untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat, minimal di lingkungan keluarga,” ucapnya.
Baca juga : Surat Pengunduran Diri Rano Karno Ditunggu KPU
Lolly menegaskan, gelaran Pemilihan Umum (Pemilu) merupakan milik semua rakyat, baik yang peduli atau tidak terhadap proses demokrasi. “Kalau peduli, kita akan menjadi aktor yang mendorong lahirnya pemimpin terbaik bagi seluruh rakyat,” tandasnya.
Perbincangan tentang banyaknya masyarakat yang hanya menjadi penonton di Pilkada, juga ramai diperbincangkan netizen di media sosial X. Akun @masturohhh menilai, masyarakat bukannya tidak mau berbuat lebih banyak dalam menyambut pilkada. Tapi, mereka disibukan dengan urusan ekonomi.
“Hidup kami sudah pusing. Baru gajian, harus bayar listrik, bulanan untuk istri, dan tabungan pendidikan anak. Jadi, masyarakat nggak punya waktu untuk urus sepak terjang figur atau calonan kepala daerah,” cuitnya.
Baca juga : Pembangunan Bakal Merata
Akun @GayengLidaa44 menyatakan, keengganan rakyat mendorong perubahan terhadap para pasangan calon (paslon) merupakan dampak dari sistem atau mekanisme politik yang ada dan berlaku. Pasalnya, keputusan politik soal pencalonan di Pemilu, merupakan ranah partai politik.
“Percuma kita dorong ini itu, atau desak ini dan itu kepada paslon di Pilkada. Sebab, yang memutuskan adalah musyawarah koalisi atau ketum partai. Rakyat hanya menjadi komoditas dalam setiap gelaran pesta dekokrasi,” cetusnya.
“Suhu politik di +62 naik turunnya secepat kilat. Makanya jadi penonton lebih seru! Ada isu kedaruratan politik, dinasti politik, kemajuan daerah, tapi ujungnya cuma rebutan kekuasaan. Harusnya, tokoh-tokoh yang mau maju Pilkada tahu diri, berhenti rebutan kekuasaan atas nama rakyat,” timpal akun @NKA_10.
Baca juga : Pemerintah Tancap Gas Naikkan Kelas Menengah
Artikel ini tayang di Rakyat Merdeka Cetak edisi Minggu, 8 September 2024 dengan judul Perilaku Masyarakat Di Pilkada 2024, Antusiasme Sangat Tinggi, Aktivisme Justru Rendah
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.