Dark/Light Mode

Partisipasi Pemilih Rendah, Legitimasi Pemenang Pilkada Jakarta Dipertanyakan

Jumat, 6 Desember 2024 22:41 WIB
Foto: Ist.
Foto: Ist.

RM.id  Rakyat Merdeka - Pilkada Jakarta sudah memasuki tahap penghitungan suara manual. Namun, masih masalah yang belum jelas juntrungannya, terutama jika bicara soal partisipasi publik dalam Pilkada Jakarta.

Dengan partisipasi pemilih hanya 57 persen, pesta demokrasi di Jakarta dinobatkan menjadi pilkada dengan tingkat partisipasi paling rendah sepanjang sejarah.

Rendahnya partisipasi masyarakat untuk menentukan pemimpinnya membuat legitimasi hasil Pilkada menjadi abu-abu.

Pengamat politik Adi Prayitno turut menyoroti rendahnya partisipasi pemilih di pilkada Jakarta tahun ini. Menurut dia, angka 57 persen partisipasi pemilih di pilkada Jakarta sangat rendah.

”Quick Count Parameter Politik Indonesia pilkada Jakarta hanya 57,2 persen partisipasi pemilih, itu sangat rendah,” kata Adi Prayitno, di Jakarta, Kamis (5/12/2024).

Baca juga : Pengamat: Pilkada Jakarta Masih Berpotensi 2 Putaran

Adi menilai, ada beberapa hal yang menyebabkan partisipasi pemilih di pilkada Jakarta sangat rendah.

Selain jenuh karena baru saja memilih presiden, wakil presiden, dan anggota DPR beberapa bulan lalu, dia menyatakan masa kampanye pilkada Jakarta tidak cukup untuk para kandidat gubernur dan wakil gubernur meyakinkan masyarakat.

Selain itu, ada kemungkinan pemilih di Jakarta merasa kecewa. Sebab, masalah fundamental di Jakarta tidak kunjung tuntas meski kota besar tersebut sudah berulang kali berganti pemimpin.

”Silih berganti gubernur. Tapi, persoalan krusial seperti banjir dan macet termasuk soal akses terhadap pekerjaan belum tuntas,” kata Adi.

Tidak hanya itu, Adi menyoroti kinerja penyelenggara pilkada di Jakarta. Dia menilai mereka kurang maksimal dalam bekerja, termasuk mensosialisasikan pelaksanaan pilkada.

Baca juga : Abdul Aziz: Angka Partisipasi Minimal 70 Persen

”Penyelenggara kurang maksimal melakukan sosialisasi terkait pilkada. Padahal anggarannya besar. Jika pun ada sosialisasi, paling bentuknya cuma seminar-seminar di kampus atau di hotel,” jelasnya.

Buntutnya, partisipasi pilkada Jakarta jadi yang terendah. Berdasar data ada puluhan TPS di Jakarta dengan tingkat partisipasi pemilih tidak sampai 35 persen.

Bahkan, TPS dengan jumlah DPT sebanyak 586 orang seperti di TPS 023 Petojo Selatan hanya didatangi 93 pemilih.

Artinya hanya 15,87 persen pemilik hak suara datang mencoblos. Angka yang jelas sangat rendah. Itu hanya satu sampel, masih banyak TPS lain di Jakarta dengan partisipasi pemilih yang sangat rendah.

Maka tidak heran bila kini muncul anggapan legitimasi pemenang pilkada Jakarta berkurang dan dipertanyakan.

Baca juga : Wahyu Dinata: Kami Lakukan Sesuai Aturan Yang Ada

”Iya, secara teori legitimasi politik berkurang jika yang datang ke TPS rendah. Demokrasi itu kuncinya di legitimasi rakyat,” ungkap Adi.

Hal serupa disampaikan pemerhati pilkada Jakarta dari kalangan aktivis muda Muhammadiyah, Wiryandinata.

Dia menyampaikan, legitimasi pilkada Jakarta yang rendah menunjukan bahwa pemenang pilkada tidak mendapat mandat dari masyarakat Jakarta secara total.

Sehingga bisa dikatakan bahwa pemenangan pilkada dengan partisipasi pemilih rendah bukan representasi masyarakat.

”Bicara soal legitimasi, kemenangan ini tidak bisa dianggap representatif. Bagaimana mungkin pemimpin yang hanya dipilih oleh sebagian kecil masyarakat dapat mengklaim sebagai perwakilan rakyat Jakarta,” kritik Wiryandinata.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.