Dewan Pers

Dark/Light Mode

Varian Baru Dan Bisnis Karantina

Senin, 10 Januari 2022 06:38 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM

RM.id  Rakyat Merdeka - Pandemi bukan hanya melahirkan (rekayasa) varian baru juga telah melahirkan kejahatan-kejahatan baru. Kejahatan yang muncul benar-benar menjadi refleksi hilangnya rasa kemanusiaan. Sekaligus menjadi refleksi menurunnya nilai kemanusiaan manusia Indonesia.

Dari mulai mafia test Swab palsu, bisnis karantina, di masa-masa awal ada bisnis peti mati, status Covid dan masih banyak lagi. Mereka begitu keji merusak tatanan sistem kesehatan juga keadilan. Yang terpedaya lagi-lagi wong cilik.

Berita Terkait : Tahun Baru, Harga Baru Sembako

Benar-benar speechless dengan kenyataan yang terjadi akhir-akhir ini. Semua dibisniskan. Tidak sedikit di antara mereka yang tega hati berbahagia di atas penderitaan orang lain.

Banyak sekali praktik bisnis menginjak, menekan dan menipu. Tidak peduli dengan susahnya keadaan mencari uang. Mereka merampok dengan berkedok kelangkaan barang oleh karenanya harganya mahal. Ini benar-benar bejat.

Berita Terkait : Evaluasi 2021 Dan Refleksi 2022

Kita miris dengan bisnis layanan karantina bagi yang baru saja melakukan perjalanan luar negeri. Terjadi pemerasan dan permainan tes Covid. Ini mesti segera diusut tuntas. Dicek apakah ada oknum pejabat dari kementerian apakah terlibat tidak.

Ada juga varian kejahatan joki karantina. Orang-orang berduit dan oknum pejabat memilih membayar full fasilitas karantina tapi tidak dipakai. Oleh oknum pengusaha akomodasi dijual lagi. Inilah cuan karantina luar negeri.

Berita Terkait : Mempertahankan Prestasi KPK

Belum selesai soal ini, terjadi lagi praktik sunat bansos. Ini lebih keji lagi. Tak cukupkah kasus hukum bagi maling bansos? Boleh jadi karena terlalu longgar pengawasan sehingga merajalela praktek penyunatan. Ini mesti diganjar berat.

Pemerintah mesti tegas. Bila perlu keras. Aparat penegak hukum juga mesti memiliki kekuatan moral untuk memberantas mafia penegak hukum. Selalu saja lubang yang menganga sehingga kejahatan terus berlangsung. Ayo bersama kita bisa berantas kejahatan di masa pandemi. (*)