Dewan Pers

Dark/Light Mode

Sampah “Emas”

Kamis, 20 Juni 2019 08:48 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN

RM.id  Rakyat Merdeka - Indonesia darurat sampah. Terutama sampah plastik. Mungkin kita tidak merasakannya. Tapi lihatlah hasil penelitian beberapa lembaga. Global Alliance for Incinerator Alternatives (GAIA) dalam laporan terbarunya menyebut Indonesia, Malaysia, dan Thailand sebagai negara yang harus menanggung beban terbesar pengiriman limbah plastik dari negara-negara maju setelah China melarang impor limbah plastik.

“Ini tidak adil karena negara-negara tersebut (termasuk Indonesia) belum memiliki kapasitas untuk menangani polusi limbah plastik dari negara-negara industri,” kata Von Hernandez, Ketua gerakan global untuk Dunia Bebas dari Plastik.

Pekan lalu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) berhasil mengungkap penyelundupan sampah ke Indonesia. Sampah tersebut diselundupkan ke Surabaya dan Batam. Indonesia yang tak mau jadi tong sampah dunia kemudian mengembalikan 16 kontainer sampah plastik yang mengandung bahan beracun berbahaya (B3) tersebut.

Berita Terkait : 5 Tahun, Kacamata Kuda

Bukan hanya dari luar, sampah plastik dalam negeri juga jadi problem serius. Indonesia bahkan disebut sebagai penghasil sampah plastik terbesar kedua di dunia. Nomor satu, China. Menghadapi hal tersebut, di masyarakat tumbuh kesadaran untuk tidak lagi menggunakan plastik sekali pakai. Mereka membawa sendiri sedotan atau tumbler dari rumah.

Seperti yang dilakukan Kepala BNPB Letjen Doni Monardo yang kemana-mana selalu membawa tumbler dalam kesehariannya. Sampah memang menjadi persoalan serius. Selama ini, kita mengenal sampah sebagai barang tak berguna.

Karena itu, ada istilah “buang sampah” atau Tempat Pembuangan Sampah. Sampah bukan dimanfaatkan, tapi dibuang. Tak berguna. Dalam kamus Bahasa Indonesia pun sampah diartikan sebagai “barang atau benda yang dibuang karena tidak terpakai lagi”.

Berita Terkait : Youtube Dan Jurusan Meme

Namun, bagi pengusaha barang-barang bekas, sampah adalah “emas”. Mereka “mengais sampah” apa saja lalu dujual lagi. Saya pernah mencari sesuatu yang cukup langka di salah satu jalan di kawasan Jakarta Selatan. Yang saya cari ternyata ada.

Saya dilayani seorang pria bercelana pendek. Pakai sandal jepit. Dia mengenakan kaos yang di punggungnya ada tulisan merk minyak goreng. Selesai melayani saya, dia pergi, mengendarai mobil mewah yang masih kinclong. “Dia bos saya,” kata seorang karyawan di situ setelah melihat saya melongo.

Saya pun membayangkan seorang kawan bakal seperti itu. Dia sudah merintis usaha untuk menjadi “bos sampah”. Tulisan ini saya persembahkan untuk kawan saya yang tak segan-segan memungut sampah di pinggir jalan, dan suatu saat usahanya berkembang dan dia menjadi pengusaha sampah yang hebat. Aamin… ***

Tags :