Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Urusan politik sedang ramai-ramainya. Ada tarik-menarik dan adu strategi dalam menghadapi Pilkada, ada juga dinamika di internal partai-partai yang membuat kaget. Perhatian publik hampir tersedot habis pada dua hal ini. Dari pejabat pemerintah, politisi, pakar, akademisi, sampai warganet, ramai berkomentar mengenai ini.
Padahal, saat ini kita sedang menghadapi banyak ancaman. Mulai dari krisis global, pelemahan ekonomi, melambungnya harga minyak dunia, perumahan iklim, dan kemarau. Salah satu yang butuh diantisipasi segera adalah ancaman kemarau.
Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kemarau tahun ini terjadi pada Juni hingga September. Sekarang kita sedang berada di posisi tengah-tengahnya. Memang, kemarau tahun tak sepanjang dengan yang terjadi pada 2023. Namun, bukan berarti kita boleh santai dalam menghadapinya.
Baca juga : Diselamatkan Calon Independen
Dampak kemarau ini akan terasa bagi semua. Untuk di perkotaan, suhu akan terasa lebih panas. Selain itu, polusi udara akan meningkat, akibat banyaknya polutan mikro dan nano. Kondisi ini bisa membahayakan kesehatan, utamanya kelompok rentan.
Untuk di perkampungan dan daerah pertanian, dampaknya akan terasa lebih besar. Kemarau akan membuat lahan-lahan pertanian kering, warga kekurangan air bersih, dan hasil pertanian berkurang.
Ini sangat bahaya. Sebab, di saat normal saja, kita masih kekurangan pasokan pangan di dalam negeri. Kita harus mengimpor ratusan ribu hingga jutaan beras. Apalagi kita kemarau ini tidak ditangani, impor bisa semakin besar lagi. Ekonomi petani juga akan terganggu. Sebab, penghasilan mereka berkurang, atau bahkan mungkin merugi.
Baca juga : Menumpas Teroris Papua
Saat ini, Kementerian Pertanian (Kementan) sedang giat melakukan pompanisasi untuk mengatasi kemarau ini. Tujuannya, agar para petani bisa tetap menanam walau tengah kemarau. Namun, Kementan tentu tidak bisa bekerja sendirian. Kementerian lain dan pemerintah daerah harus bergerak juga. Sebab, pompa sebesar dan sekuat apa pun tidak akan banyak membantu jika air yang mau disedotnya tidak ada.
Karena itu, normalisasi irigasi juga penting dilakukan. Selain itu, pengaturan air dari waduk harus dilakukan sebaik mungkin. Jangan sampai ada satu daerah kelebihan air, sedangkan daerah lain kekurangan. Pengaturannya harus efektif dan efisien.
Selain itu, dari bidang riset, kita harus bisa mengembangkan padi yang tahan kemarau, juga tahan hama tentunya. Agar petani kita bisa tetap menanam dengan hasil yang memuaskan meski sedang terjadi kemarau.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.