Dark/Light Mode

Penyikapi Badai PHK

Jumat, 27 September 2024 00:14 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Di tengah hiruk-pikuk urusan Pilkada 2024 dan transisi pemerintahan, kita tidak boleh lupa dengan urusan perut rakyat. Sebab, mesti ekonomi kita tumbuh baik, ternyata badai Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) masih terjadi.

Jumlah tenaga kerja yang kena PHK tidak main-main. Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker), selama rentang Januari-26 September 2024, total pekerja yang kena PHK mencapai 53 ribu orang. Itu untuk pekerja formal, yang datanya dicatat Pemerintah. Jika ditambah dengan pekerja nonformal, mungkin jumlahnya lebih banyak lagi.

PHK merupakan salah satu problem ekonomi. Sebab, dengan adanya PHK, berarti ada pengangguran baru. Untuk beberapa saat, mereka mungkin masih punya bekal dari pesangon. Namun, jika tidak segera mendapat kerja lagi, daya beli korban PHK ini akan melemah. Hal ini akan berkontribusi pada penurunan permintaan pasar.

Baca juga : Membaca Arah Politik PDIP

Kita mengakui, pada sektor baru yang sedang dikembangkan telah menyerap banyak tenaga kerja. Sektor hilirisasi misalnya. Presiden Jokowi menyatakan, sektor ini sudah menyerap tenaga kerja lebih dari 200 ribu orang.

Tapi, perlu diingat, penambahan tenaga kerja baru juga tinggi. Setiap tahun, ada ratusan ribu atau bahkan jutaan dari lulusan perguruan tinggi dan SMA/sederajat yang mencari kerja. Jika jumlah ini tidak terserap baik, sebagian mereka akan menganggur, dan menjadi beban ekonomi.

Untuk menyerap mereka, dan juga memberi kerja korban PHK tadi, industri di dalam negeri harus baik. Produksinya baik, penjualannya juga baik. Sektor-sektor baru tumbuh dengan inovasi dan teknologi tinggi. Penjualannya tidak hanya di Indonesia, tapi mampu bersaing di pasar ekspor.

Baca juga : Kampanye dengan Hasil Survei

Sayangnya, kondisi industri kita tidak sebaik angan-angan itu. Sebagian sedang kewalahan akibat digempur barang impor asal China. Sebagian industri tekstil, alasan kaki, dan perlengkapan rumah tangga, tengah megap-megap. Jika mereka gulung tikar, bersiapkan badai PHK akan berlanjut.

Untuk itu, Pemerintah, DPR, dunia usaha, konglomerat, entrepreneur, dan juga masyarakat, diharapkan ikut sama-sama memikirkan hal ini. Jangan hanya fokus terhadap urusan politik. Urusan ekonomi ini harus dibereskan segera. Caranya, dengan terus menjaga industri kita berjalan baik.

Ingat, ekonomi sama krusialnya dengan politik. Jika ekonomi oleng, rakyat akan menjerit, pengusaha kalang kabut, dan pemerintahan terganggu. Jadi, ekonomi harus terus diperhatikan dan diurus dengan baik meski percaturan politik sedang sangat seru.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.