Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Pemerintah tengah melakukan efisiensi. Banyak anggaran Kementerian/Lembaga (K/L) dan dana transfer daerah kena pangkas. Jumlah totalnya mencapai Rp 306 triliun. Efisiensi yang diinginkan Presiden Prabowo Subianto antara lain mengurangi kunjungan ke luar negeri, seminar, dan acara seremonial.
Lalu, apakah efisiensi ini masuk kategori penghematan atau mengirit? Secara sepintas, kata hemat dan irit memiliki arti hampir sama. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata hemat diartikan sebagai berhati-hati dalam membelanjakan uang, dan sebagainya; tidak boros; cermat. Sedangkan irit diartikan sebagai hemat; tidak boros.
Baca juga : Produksi Kendaraan Listrik Dalam Negeri
Namun, dalam keseharian masyarakat, dua kata ini memiliki konotasi berbeda. Kata hemat lebih merujuk kepada tindakan yang berorientasi pada masa depan. Berhemat hari ini untuk kejayaan masa depan. Hal ini dikuatkan dengan peribahasa: hemat pangkal kaya. Yang dikurangi oleh orang hemat adalah hal-hal yang tidak perlu, seperti berfoya-foya atau tindakan mubazir.
Sedangkan kata irit lebih banyak digunakan sebagai usaha untuk bertahan dalam kondisi sulit. Misalnya, karena keuangan sedang pailit, sebuah keluarga yang tadinya berkecukupan, harus mengirit segala bentuk pengeluaran. Kebutuhan pangan dikurangi, kebutuhan sandang dikurangi, kebutuhan papan juga dikurangi. Pokoknya, semua serba dikurangi.
Baca juga : Kenaikan Harga yang Berulang
Atas hal itu, efisiensi yang dilakukan Pemerintah saat ini bisa diartikan dengan dua kata tersebut, tergantung sudut pandang yang melihatnya. Aplikasi yang dijalankan Pemerintah dalam beberapa waktu ke depan akan memperjelaskan langkah tersebut masuk kategori penghematan atau pengiritan.
Sejauh ini, dari paparan yang disampaikan Presiden Prabowo, efisiensi yang dilakukan mengarah ke penghematan. Sebab, yang dikurangi hanyalah program-program boros seperti kunjungan kerja, seminar, dan acara seremonial. Tujuan dari efisiensi ini juga jelas untuk masa depan. Dana hasil efisiensi digunakan untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang orientasinya menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) andal menuju Indonesia Emas 2045.
Baca juga : Terbukanya Pintu Reshuffle
Namun, dalam praktik-praktik di sebagian K/L yang sedang berjalan, efisiensi ini mengarah ke pengiritan. Segala macam pengeluaran dikurangi. Program kerja dikurangi, layanan dikurangi, bahkan gaji pegawai juga dikurangi. Aplikasi seperti ini jelas tidak berorientasi pada masa depan. Tujuannya hanya untuk bertahan dari kondisi kekurangan dana yang sedang terjadi. Sedangkan untuk layanan publik, justru bisa memburuk.
Agar langkah efisiensi ini dijalankan sesuai rel yang diinginkan Presiden Prabowo, masing-masing K/L harus lebih cermat dalam mengaplikasikannya di lapangan. Acuannya harus dipegang teguh, yang dihemat adalah anggaran yang tidak terlalu perlu atau bersifat boros. Sedangkan untuk anggaran-anggaran penting, harus dipertahankan. Dan juga harus diingat, layanan terhadap publik harus tetap berjalan dengan baik.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.