Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Kasus-kasus yang datang silih berganti, terutama kasus korupsi, bisa menimbulkan kelelahan di masyarakat.
Dalam sebulan ini saja, kita disodori banyak sekali kasus yang mengundang perhatian. Ibaratnya, dari Sabang sampai Merauke, ada. Dari kasus tambang di Raja Ampat, Papua, sampai kasus “sengketa pulau” antara Aceh dan Sumatera Utara, menyita perhatian publik.
Di sela-sela itu, rakyat dikagetkan oleh kasus-kasus korupsi bernilai fantastis. Bahkan mendekati ribuan triliun rupiah.
Baca juga : Mencari “Pencuci Piring”
Untuk kelas perorangan saja, ada seorang mantan pejabat Mahkamah Agung (MA) yang di rumahnya ditemukan timbunan uang hampir satu triliun rupiah.
Di sela-sela itu, ketika dampak Covid-19 masih terasa, Indonesia juga harus melewati pemilu dengan polarisasi yang tajam. Bumbu-bumbu serta intriknya juga banyak. Mulai dari politik uang, ijazah, sampai “drama-drama” hukum dan politik tingkat tinggi. Semuanya merampas perhatian publik.
Rangkaian gerbong kasus tersebut terus bergerak, bolak-balik, silih berganti, mewarnai dan melintasi wilayah-wilayah privat, masuk ke gadget serta ruang-ruang keluarga.
Baca juga : Orkestrasi “Bersih-bersih”
Kasus-kasus tersebut menjadi pembicaraan di ruang-ruang publik, di tempat arisan, grup WA, disertai perdebatan panas, diskusi, dan sebagainya.
Diberondong kasus dan skandal, apakah Indonesia bisa mengarah ke fase national fatigue atau kelelahan sebagai sebuah bangsa?
Kita berharap tidak. Jangan sampai itu terjadi. Karena, dampak dan risikonya banyak. Bisa memperburuk kondisi sosial ekonomi yang sekarang saja “sedang tidak baik-baik saja”.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.