Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Lagi, Presiden Prabowo sangat geram terhadap para koruptor dan praktik korupsi. Kegeraman ini tampaknya akan melahirkan gerakan baru yang sangat masif dalam aksi-aksi pemberantasan korupsi. Kejaksaan Agung dan KPK, sepertinya akan lebih diperkuat. Itu harapan kita.
“Sewaktu saya ambil alih pemerintahan, saya semakin kaget. Saya tidak menduga parahnya korupsi tersebut,” tegas Presiden dalam acara Munas VI Partai Keadilan Sejahtera di Jakarta, Senin (29/9/2025).
Korupsi di Indonesia, tegas Presiden, sudah sangat-sangat memprihatinkan. Menyerukan kata “sangat” sampai dua kali menggambarkan bahwa statusnya sudah ekstra gawat darurat.
Perampokan sistemik. Begitu Presiden menyebutnya. Dalam sistem seperti itulah, rakyat hidup, bekerja, mencari nafkah, mengurus dokumen, dan berhubungan dengan birokrasi, di segala bidang. Dari urusan administrasi sederhana, proyek-proyek besar, sampai urusan ibadah.
Baca juga : “Lempar Kursi, Bibir Bengkak”
Karena sudah sistemik, ini bukan hanya soal individu, satu atau dua orang aparat atau pejabat. Ini sudah menjadi bagian dari mekanisme yang menggerakkan birokrasi, bisnis, serta sektor-sektor penting lainnya. Kondisi yang parah ini bahkan sudah sampai pada tahap “dinikmati”.
Hebatnya lagi, menurut Presiden, para koruptor lebih pintar dari para pejabat yang pintar-pintar. Ini menarik. Karena, pertama di dunia: kepintaran tidak diukur dari IQ, tapi dari seberapa lihai seseorang melakukan korupsi, menyembunyikan dan “mencuci” hasilnya sampai bersih.
Lalu apa selanjutnya? Presiden mengatakan, akan memanggil Jaksa Agung dan pimpinan KPK. Tentu saja ini bukan sekadar ngopi-ngopi santai. Ada sesuatu yang sangat penting dan serius. Ada kejutan dan dobrakan luar biasa. Bahkan mungkin yang “out of the box”. Untuk memberantas korupsi dan memproses pelakunya. Itu harapan kita.
Selanjutnya, tekad kuat Presiden ini harus dipastikan didukung semua elemen, lembaga dan para pejabat. Sampai ke lapangan. Jangan ada yang setengah hati. Jangan “panas-panas tai ayam”. Jangan seperti resolusi tahun baru yang biasanya kendor di bulan Februari.
Baca juga : Dari Perut Ke Petani Modern
Karena korupsi sudah sistemik, tentu tidak cukup dengan memperkuat duatiga lembaga atau pejabat tinggi. Semuanya harus bergerak. Diperkuat. Diorkestrasi. Derap langkahnya seirama.
Salah satunya, penegakan hukum yang harus benar-benar efektif. Tegas. Tidak pandang bulu. Tidak melindungi figur-figur tertentu. Ini penting karena akan menjadi etalase utama.
Reformasi total birokrasi, juga sangat strategis. Jangan seperti sebelum-sebelumnya, ada banyak satgas, tim dan sebagainya, tapi hasilnya “begitu-begitu saja”.
Apalagi untuk mendayagunakan birokrasi, negara ini sudah punya Kementerian sendiri: Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.
Baca juga : “Kecil Dan Mengguncang”
Nomenklatur Reformasi Birokrasi yang menempel di sini tentu sangat sakral. Historikal. Ada nilai-nilai perjuangannya. Ini tekad serta cita-cita yang dilembagakan secara khusus. Spesial.
Maka, selanjutnya, kita tunggu gebrakan serta aksi-aksi konkret, tegas dan luar biasa. Karena, yang biasa-biasa saja sudah sangat sering. Harus luar biasa. Spektakuler.
Kalau tidak, sama saja berharap demam berdarah bisa sembuh hanya dengan menyuruh nyamuk-nyamuk bertobat dan tidak lagi mengisap darah manusia.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.