Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Selama 100 tahun terakhir, kita hidup dalam logika blok: Blok Barat vs Timur. Lalu ada Blok NATO vs lawan-lawannya. Sekarang, politik internasional tampaknya menuju dunia tanpa blok tetap. Sangat cair. Tergantung kepentingan.
Hari ini kawan, besok kompetitor, lusa partner lagi. Tergantung isu; militer, lingkungan, teknologi, keamanan laut, dan sebagainya.
Banyak negara tampaknya mulai belajar mengurangi ketergantungan. Tidak lagi berpusat di satu poros. Aliansi menjadi fleksibel.
Tidak lagi permanen. Loyalitas terhadap “pusat dunia” berubah menjadi transaksional. Masing-masing negara bertahan hidup tanpa pusat komando.
Baca juga : Kemenperin Perkuat Tata Kelola Lingkungan Di Kawasan Industri
Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebutnya sebagai “jalan ketiga”. Di jalan “baru” ini, dia mendorong dunia menjadi mandiri, fleksibel dan kolektif.
Tidak bergantung pada satu kekuatan. Dalam logika blok-blokan, “jalan pertama” yakni berpihak pada AS dan tatanan Barat. “Jalan kedua”, condong ke kekuatan tandingan seperti China dan Rusia. Macron menawarkan “jalan ketiga”. Jalan independen. Tidak ikut blok mana pun, tapi bekerja sama dengan semua pihak sesuai kepentingan nasional.
Sebenarnya, ini “Gerakan NonBlok (GNB) versi terbaru”. Versi yang disempurnakan. Edisi revisi, dimana Indonesia pernah sangat disegani di Gerakan ini.
Macron sesungguhnya sedang melakukan rebranding terhadap konsep GNB. Namun, kali ini bobot geopolitiknya berbeda. Terdengar “wah”, karena dia berbicara dari dalam “jantung” Barat.
Baca juga : Hoaks Di Medan Perang Kurusetera
Prancis adalah anggota NATO. Ataukah Prancis ingin bergabung ke GNB? Dalam semangat ini, sesungguhnya Indonesia bisa lebih berperan. Bisa leluasa bermain. Membawa GNB naik level.
Indonesia bisa merevitalisasi GNB bukan lagi sekadar “tidak memihak”. Tapi bisa memanfaatkan semua pihak dan peluang yang ada. Bisa bebas-aktif memainkan semua sisi untuk kepentingan nasional kita.
Untuk bisa terlihat gagah dan disegani, ada syarat penting: Indonesia harus kuat dari dalam. Harus mandiri. Fokus ke kekuatan domestik. Ini kuncinya. Tanpa “kunci” tersebut, semua strategi luar negeri bisa sia-sia. Dipandang sebelah mata.
Di sinilah pentingnya industri, seperti hilirisasi yang dijalankan ekstra serius. Ketahanan energi dan pangan, menjadi sangat penting. Tanpa ketergantungan. Atau, di bidang teknologi, minimal Indonesia tidak tertingal jauh.
Baca juga : Hari Kesehatan Sedunia
Karena, dunia tanpa poros tunggal akan lebih menghargai negara yang kuat, berdaulat dan mandiri. Bukan sekadar netral atau “non blok”. Negara yang kuat dan mandiri, mampu berdiri tegak di hadapan raksasa dunia kalau kakinya sendiri kuat dan solid.
Tidak gemetar menahan lapar atau lemas karena dompet kosong. Inilah inti kekuatan supaya bisa “berdansa” lugas di panggung internasional.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.