Dark/Light Mode
Dalang Wayang Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Minyak dan teknologi merupakan dua komoditas yang sedang naik daun selama perang Amerika-Israel melawan Iran. Harga minyak dunia sudah merangkak di level 100 dolar AS per barel. Trump minta dana tambahan kepada Kongres untuk belanja senjata. Di sisi lain, maraknya berita hoaks terkait konflik Amerika-Israel versus Iran memicu orang untuk mencari kebenaran sebuah informasi. Sehingga informasi semakin mahal harganya.
“Pantesan banyak tokoh bertelepon ria untuk mencari kesahihan informasi, Mo,” celetuk Petruk cengengesan. Romo Semar mesem tidak mau komentar lebih jauh. Semar tahu tokoh siapa yang dimaksud Petruk. “Petruk juga mau telepon White House, Mo,” papar Petruk tidak mau kalah. “Memang Petruk ada koneksi ke White House?” tanya Romo Semar penasaran. “Pokoknya ada,” jawab Petruk sambil ngakak.
Romo Semar teringat bahwa Petruk pernah “ngangsu kawruh” di perguruan tinggi bergengsi yang hanya berjarak dua blok dari White House. Sedikit banyak Petruk memahami betul sistem tata kelola informasi negara adidaya tersebut.
Baca juga : Duryana Bimbang Maju Perang
Seperti biasa, Romo Semar mengawali paginya dengan secangkir kopi pahit. Camilan uli bakar makanan khas Lebaran masih tersedia di meja makan. Kepulan asap rokok klobot membawa ingatannya ke zaman Mahabarata. Di mana, perang Baratayuda di Kurusetera dipenuhi dengan berita tidak benar.
Kocap kacarito, Prabu Pameyo adalah raja dari kerajaan Turiloyo. Dalam perang Baratayuda tidak memihak Kurawa maupun Pandawa. Pameyo khusus datang ke medan perang Kurusetera untuk mencari harta peninggalan para senopati yang gugur dalam perang. Perhiasan senopati dipreteli. Sisa potongan tombak dan panah diangkut untuk didaur ulang.
Prabu Pameyo mencari keuntungan pribadi dengan memanfaatkan konflik perang Baratayuda. Hasil jarahan perang diangkut pulang ke kerajaannya dengan gajah Hestitama. Sehingga tidak peduli siapa yang menang atau kalah dalam perang Baratayuda. Semakin lama perang berlangsung, pundi-pundi kekayaan Kerajaan Turlilaya bertambah.
Baca juga : Berkaca Dari Dendam Perang Wirata
Prabu Kresna tahu kelicikan Pameyo yang mencari harta benda di Kurusetera. Pameyo dan gajah Hestitama harus disingkirkan. Agar tidak mengganggu jalanya perang Baratayuda. Kemiripan nama gajah Hestitama dengan Aswatama anak Pandita Durna, menjadi inspirasi Kresna untuk menyebarkan berita bohong atau hoaks.
Kresna minta Bima membunuh Prabu Pameyo dan gajah Hestitama. Berita kematian gajah Hestitama dikemas seolah-olah yang mati Aswatama anak Durna. Pandita Durna maju sebagai senopati melawan Pandawa menjadi tidak fokus begitu mendengar Aswatama mati. Padahal sejatinya yang mati adalah gajah Hestitama.
Pandita Durna tidak begitu yakin kalau yang mati Aswatama. Maka dia bertanya kepada Puntadewa, apakah benar yang mati anaknya Aswatama. Puntadewa selama hidupnya tidak pernah berbohong. Tapi kali ini berbohong kepada Durna yang tidak lain gurunya sendiri.
Baca juga : Puntadewa Memilih Bermain Safe
Drestajumpena tanggap begitu melihat kebingungan Durna. Tanpa buang waktu, Drestajumpena menghunus pusaka kerisnya memotong leher Durna. Senopati Kurawa tewas jatuh tersungkur di medan laga.
“Prabu Kresna dan Prabu Puntadewa menyebarkan berita bohong, Mo,” sela Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. “Betul, Tole. Mereka berdua sebetulnya raja bijaksana, namun dalam perang pokoke harus menang,” jawab Romo Semar sambil ngeloyor pergi. Oye
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.