Dark/Light Mode

Keadilan yang Diuji Lagi

Jumat, 8 Mei 2026 08:28 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Keadilan selalu terdengar meyakinkan di awal. Setiap kebijakan hampir selalu lahir dengan alasan pemerataan, perlindungan, atau kepentingan publik. Namun keadilan yang sesungguhnya tidak diuji saat kebijakan diumumkan. Ia baru terlihat setelah dampaknya dirasakan.

Beberapa bulan terakhir menunjukkan kenyataan itu. Ada kebijakan yang tampak menjanjikan di atas kertas, tetapi dalam pelaksanaannya justru menghasilkan ketimpangan baru. Ada program yang diklaim terbuka untuk semua, tetapi lebih mudah diakses oleh mereka yang sudah memiliki modal informasi, waktu, dan koneksi.

Baca juga : Dampak yang Tak Diakui

Keadilan sering gagal bukan karena niat buruk, melainkan karena asumsi yang keliru. Negara menganggap semua warga memiliki titik berangkat yang sama. Padahal kondisi sosial berbeda-beda. Kebijakan yang tampak netral bisa menghasilkan dampak yang timpang ketika diterapkan pada masyarakat yang tidak setara.

Di sinilah keadilan diuji lagi. Bukan pada rumusan hukumnya, tetapi pada distribusi manfaat dan beban. Siapa yang paling diuntungkan? Siapa yang harus menyesuaikan paling banyak? Siapa yang akhirnya tertinggal? Pertanyaan-pertanyaan ini lebih penting daripada slogan pemerataan.

Baca juga : Janji yang Menjadi

Michael Walzer menegaskan bahwa keadilan tidak bisa dipahami hanya sebagai distribusi formal, tetapi harus dilihat dalam konteks sosial nyata—bagaimana kekuasaan dan sumber daya memengaruhi akses setiap kelompok (Spheres of Justice, 1983). Tanpa sensitivitas terhadap konteks ini, kebijakan mudah terlihat adil tanpa benar-benar setara.

Negara perlu berani mengevaluasi bukan hanya keberhasilan program, tetapi juga dampak diferensialnya. Kelompok yang rentan harus menjadi ukuran utama, bukan catatan tambahan. Jika mereka justru semakin tertinggal, maka keadilan belum tercapai meski target administratif terpenuhi.

Baca juga : Berani atau Kembali

Keadilan baru terlihat setelah dampaknya dirasakan. Di situlah kebijakan menemukan wajah aslinya. Karena pada akhirnya, publik tidak menilai keadilan dari niat pemerintah, tetapi dari pengalaman hidup yang mereka jalani setelah kebijakan itu bekerja.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.